1.332 Koperasi dan UMKM Terdampak Covid-19

Ilustrasi
Ilustrasi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id, JAKARTA,– Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop dan UKM) mencatat terdapat 1.32 koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak virus orona selama periode 17 – 29 Maret 2020.

Dalam keterangan tertulisnya, kemarin (31/3) berdasarkan presentase keseluruhan, rata-rata Koperasi dan UMKM tersebut melaporkan terjadi menurunnya penjualan. Terdapat 917 Koperasi dan UMKM atau setara dengan 69 persen yang menyatakan turun penjualannya.

Dengan klasifikasi wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Dan Kalimantan Selatan.

Disebutkan, keluhan lainnya adalah sulitnya bahan baku, sejumlah 67 Koperasi dan UMKM atau setara dengan 5 persen yang mengalami kendala. Wilayahnya yakni Banten, DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa tengah.

Selain itu, terkait distribusi baik penyaluran bahan baku, penjualan, dan lainnya, yang menyebabkan terhambatnya aktivitas distribusi KUMKM. Sebanyak 119 Koperasi dan UMKM atau setara dengan 9 persen yang mengeluhkan terkait hal ini.

Wilayahnya, yakni Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, DKI Jakarta, Riau, Sulawesi Utara dan Banten.

Dari sisi permodalan juga ada yang terganggu akibat virus corona ini, yakni sejumlah 179 Koperasi dan UMKM atau setara dengan 13 persen, menyatakan bahwa mereka sulit mendapatkan permodalan usaha.

Wilayah yang terdampak, yaitu Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Bali, Jambi, Jawa Barat, Yogyakarta,Bali, Kepulauan Riau dan DKI Jakarta.

Terakhir, mengenai aktivitas produksi terhambat, sejumlah 50 Koperasi dan UMKM atau setara dengan 4 persen menyatakan produksinya menurun bahkan terpaksa menghentikan produksinya.

Adapun wilayahnya meliputi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Bengkulu, Kepulauan Riau dan DKI Jakarta.

Menanggapi hal itu, pengamat koperasi sekaligus Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto menilai Kemenkop UKM telah menutupi data yang sebenarnya di lapangan yang dihadapi para koperasi dan UMKM.

“Kemenkop dan UKM sangat sembrono sekali. Pemerintah, dalam hal ini Kemenkop berarti sengaja menutup fakta yang selama ini sering mereka klaim sendiri bahwa 99,3 persen atau 63 juta pelaku usaha kita adalah usaha mikro. Sebut saja misalnya mereka para pelapak di pasar tradisional, bakul bakso, cilok, jamu keliling, bakul gorengan, ojek online, dan becak,” ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (31/3).

Lanjut Suroto, bahwa Kemenkop dan UKM tak melihat fakta lapangan yang terjadi di lapangan. “Mereka itu adalah pengusaha-pengusaha yang hari ini berjualan dan hari ini hasilnya untuk hidup. Usaha mereka saat ini ya jelas terdampak langsung karena mereka tidak memiliki dana cadangan seperti halnya usaha menengah dan usaha besar,” kata dia.

Dia menyarankan, Kemenkop dan UKM seharusnya agar fokus dulu kepada UMKM yang berkaitan dengan keamanan nyawa mereka. “Kalau pemerintah kesulitan pendanaan untuk membiayai mereka, maka seluruh program pemerintah yang lainnya itu tidak relevan. Sebab nyawa adalah yang pertama,” tutur dia.

Selanjutnya, kata dia, bentuk pemberian modal kerja mimimal bagi kekompok usaha mikro, relaksasi kredit dengan bentuk toleransi penjadwalan atau pentalagan (bail out) jumlah pinjaman kecil mereka di bank dan lembaga keuangan lainnya. “Ingat ini bukan krisis moneter atau krisis ekonomi biasa. Ini menghantam langsung ke sektor riil dari hulu dan hilir,” pungkasnya.(din/fin)

  • Dipublish : 1 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami