1 Prajurit TNI Tewas Ditembak KKB, 5.000 Personel Siaga di Mimika

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Sebanyak 5.000 personel Polri disiagakan mengamankan sejumlah distrik di Mimika, Papua. Hal itu menyusul aksi teror yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), sepekan belakangan.

Aksi teror KKB yang teranyar adalah penembakan Komando Rayon Militer (Koramil) Jila, Mimika, Senin (9/3), pukul 05.00 WIT. Akibat peristiwa tersebut seorang prajurit TNI anggota Koramil Jila Sertu La Ongge, meninggal dunia.

Personel TNI Sertu La Ongge, anggota Koramil Jila, Senin, meninggal dunia sesaat setelah dievakuasi ke Timika, akibat luka tembak yang dideritanya, diduga dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB).

“Memang benar anggota Koramil Jila yang tertembak KKB meninggal sesaat akan dievakuasi ke Timika,” kata Kapendam XVII Cenderawasih Kol Cpl Eko Daryanto, Senin (9/3).

Eko menyatakan, dari laporan yang diterima korban sempat dievakuasi dengan menggunakan helikopter milik TNI-AD.

“Korban Sertu La Ongge mengalami luka di bagian telinganya. Kini pihaknya tengah mengejar KKB yang menyerang Koramil,” katanya lagi.

Meski demikian, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra mengatakan, secara keseluruhan situasi di sejumlah distrik Mimika berangsur normal. Masyarakat, sudah beraktivitas seperti biasa.

“Namun demikian, kewaspadaan jajaran TNI maupun Polri masih terus ditingkatkan,” katanya di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (9/3).

Ribuan warga dari sejumlah distrik yang mengungsi ke sejumlah lokasi di Mimika telah kembali ke kediamannya. Kini, tersisa 800 pengungsi di Halaman Gereja Rehebot, Mimika.

“Kapolda Papua dan Wabup Timika sudah mengunjungi pengungsian dan memberikan motivasi agar masyarakat tetap tenang dan mempercayakan kepada pihak kepolisian dan TNI,” tambahnya.

Terkait kabar pendudukan sejumlah distrik oleh KKB, Asep menjelaskan, saat ini sejumlah distrik sudah dalam kendali. Ia beserta jajarannya mengaku bakal terus memutakhirkan data terkini di Papua. Hal itu, katanya, guna menampik beredarnya informasi sesat soal Papua yang beredar di khalayak.

“TNI-Polri menilai terkait informasi itu dan kami akan mempublikasikan kepada masyarakat terkait kebenaran informasi supaya tidak terjadi distorsi. Ini tidak boleh dibiarkan, sementara yang bersangkutan berada di luar negara kita. kami akan berkoordinasi lebih lanjut,” katanya merespon isu kontak telepon antara Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab dan pimpinan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Lekagak Telenggen.

Terkait ribuan personel Polri yang disiagakan di Mimika, Guru Besar Pertahanan Nasional Universitas Padjajaran Bandung Profesor Nasrullah Nazir menilai terlalu berlebihan. Dia mengatakan Polri telah salah membaca situasi dalam penanganan konflik di Tembagapura Papua. Mestinya, sambung Nasrullah, ada opsi lain selain pendekatan militer.

“Jumlahnya terlalu banyak itu. Penanganan kasuistis saja, kasus-kasus saja. Kalau 500-an masih masuk di akal, tapi kalau 5.000 bagaimana,” terangnya.(irf/gw/fin)

  • Dipublish : 10 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami