100 Hari Melawan Korona: 1,7 Juta Lebih Terinfeksi, 102.760 Meninggal

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

TIONGKOK, – Hari ini, Sabtu (11/4), sudah 100 hari lebih dunia disibukkan melawan pandemi virus Korona jenis baru atau Covid-19. Hitungan 100 hari lebih berdasarkan merebaknya virus Korona di Wuhan, Tiongkok, yang dikonfirmasi antara 29 Desember-31 Desember 2019. Virus yang disebut-sebut berasal dari pasar hewan liar di Wuhan, Provinsi Hubei, kini telah menginfeksi 212 negara dan kawasan.

Ditarik ke belakang, dilansir dari Bloomberg, otoritas kesehatan Tiongkok pada 30 Desember 2019 mengunggah foto virus yang kemudian bernama virus Korona dan menyebar di kalangan media. Virus itu diambil dari sampel seorang warga Tiongkok yang telah terinfeksi pada awal Desember 2019.

Kemudian, pada 31 Desember 2019, Tiongkok mempublikasikan kasus virus Korona jenis baru di Wuhan. Orang-orang yang terinfeksi mengalami pneumonia berat. Memasuki tahun 2020, jumlah orang yang terinfeksi virus Korona di Tiongkok makin bertambah. Dan, pada 11 Januari 2020, Tiongkok melaporkan kematian pertama akibat virus Korona yakni pria berusia 61 tahun.

Seiring berjalannya waktu, virus terus menyebar. Wuhan menjadi epicentrum wabah di Tiongkok. Pada 13 Januari 2020, Thailand melaporkan kasus infeksi virus Korona. Itu menjadi pasien pertama di luar Tiongkok. Pasien merupakan warga negara Tiongkok yang berasal dari Wuhan dan berlibur di Thailand.

Penyebaran ternyata makin cepat. Virus dikabarkan sampai di Amerika Serikat pada 21 Januari 2020 saat pejabat di Washington mengonfirmasi kasus positif virus Korona. Kemudian pada 30 Januari 2020, AS mengonfirmasi penularan pertama virus Korona dari orang ke orang.

Sejumlah negara lantas melakukan kebijakn untuk mencegah penyebaran virus Korona. Kebijakan paling banyak adalah menghentikan sementara penerbangan dari dan ke Tiongkok, terutama Wuhan, sebagai epicentrum wabah. Seiring berjalannya waktu, sejumlah negara juga menghentikan sementara penerbangan dari dan ke negara yang turut terdampak. Semua dilakukan untuk memutus rantai penularan.

WHO usai melakukan penelitian medis memberi nama virus Korona adalah Covid-19 pada Februari 2020. Covid-19 ternyata menyebar secara cepat. Negara Eropa turut terdampak dan jumlah orang yang terinfeksi meningkat dari hari ke hari. Italia menjadi negara Eropa terparah dan lantas pemerintah Italia melakukan kebijakan lockdown pada 9 Maret 2020. WHO lantas mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi global pada 11 Maret 2020.

Pada bulan yang sama, yakni Maret 2020, Indonesia melaporkan kasus pertama positif Covid-19. Pengumuman langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret. Kasus pertama positif Covid-19 adalah dua orang warga depok. Setelah itu, setiap hari ada penambahan kasus. Dan, kematian pertama di Indonesia diumumkan pada 11 Maret 2020. Hingga Jumat (10/4), Indonesia sudah melaporkan 3.512 kasus dengan kematian 306 orang dan angka sembuh 282 orang.

Lantas, bagaimana dengan kondisi global? Hingga Sabtu (11/4) berdasar data dari Worldometers, dunia masih sibuk melawan Covid-19. Jumlah infeksi telah mencapai 1.700.416 orang di seluruh dunia. Angka kematian telah mencapai 102.760 orang. Namun, yang menggembirakan adalah angka kesembuhan mencapai 376.572 orang. Artinya, harapan bahwa virus Korona disembuhkan sangat besar.

Hingga saat ini, AS menjadi negara terparah yang terpapar virus Korona. AS melaporkan 502.876 kasus positif dengan angka kematian mencapai 18.747 orang. Diikuti Spanyol dengan 158.273 kasus dan kematian sebesar 16.081 jiwa. Kemudian Italia (147.577 kasus), Prancis (124.869 kasus), dan Jerman (122.171 kasus).

Tiongkok yang merupakan negara tempat munculnya wabah pertama kali justru di bawah negara-negara tersebut dengan 81.953 kasus. Sebelumnya, Tiongkok menjadi negara terparah. Namun, seiring berjalannya waktu, negara pimpinan Xi Jinping tersebut mampu mengendalikan penyebaran wabah. Angka kesembuhan pun sangat tinggi. Kini, hanya tinggal 1.089 kasus aktif di Tiongkok. Angka kesembuhan 77.525 orang dan kematian 3.339 orang.

Keberhasilan Tiongkok tak lepas dari kebijakan lockdown yang diterapkan di Wuhan sebagai epicentrum. Pada akhirnya, lockdown mulai dibuka setelah penularan menurun. Kini, masyarakat di Wuhan berangsur normal dan beraktivitas. Namun, mereka tetap diperingatkan adanya gelombang kedua penularan yakni kasus impor dan orang tanpa gejalar.

Lockdown pada akhirnya diberlakukan sejumlah negara-negara lain. Baik negara-negara Eropa, Amerika Latin, Asia, Afrika, dan Australia. Indonesia sendiri memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang dimulai pada Jumat (10/4) dan berlaku di DKI Jakarta. Semua dilakukan untuk memutus rantai penularan sehingga bisa fokus dalam penyembuhan pasien yang telah terinfeksi.

Tak hanya melakukan pembatasan, sejumlah ilmuwan di pelbagai negara juga terus berjuang untuk menemukan vaksin virus Korona. Pelbagai obat juga sudah digunakan untuk menyembuhkan pasien positif seperti Avigan dan Klorokuin (Chloroquine). Segala cara dilakukan agar bisa menang dalam pertempuran melawan Covid-19.

Selama 100 hari lebih dunia berperang melawan virus Korona, dunia yang ramai kini tengah sepi. Kebijakan lockdown, pembatasan, dan tetap di rumah, membuat dunia yang sebelumnya bising menjadi tenang. Tenang bukan dalam artian tak melakukan apa-apa, tenang untuk melawan pandemi. Perjuangan belum berhenti. Dengan semangat kebersamaan dan mematuhi setiap anjuran serta berusaha menemukan vaksin, kemenangan melawan virus Korona akan diraih. Dunia tak lagi sibuk “berperang” melawan Covid-19, melain sibuk dengan aktivitas seperti biasanya. (jp)

  • Dipublish : 11 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami