313 Darwish

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh Dahlan Iskan

Azan tetap berkumandang lima kali sehari. Termasuk sekarang ini. Di saat Islam merasa menjadi minoritas yang sulit di India.

Azan itu terdengar dari jauh. Dari masjid aliran Ahmadiyah di Qadian. Yang menaranya sangat tinggi itu.

Pun azan di situ tetap dikumandangkan di masa tersulit Islam di India.

Itu tahun 1947. Ketika umat Islam di Punjab Timur harus tergopoh-gopoh lari ke Punjab Barat.

Dan umat Hindu di Punjab Barat tergopoh harus pindah ke Punjab Timur.

Hari itu India merdeka dengan amat rusuhnya. Merdeka dalam bentuk dua negara. Hindu di Timur. Islam di Barat. India dan Pakistan.

Masjid-masjid di Punjab Timur ditinggalkan. Pun madrasah. Pura di Barat ditinggalkan. Perang agama terjadi. Jutaan orang tewas.

Di tengah suasana kalut itu terjadi diskusi di Desa Qadian. Apakah masjid besar di situ juga harus ditinggalkan. Padahal ada makam Mirza Ghulam Ahmad di dekatnya. Ada juga masjid kecil yang bersejarah. Masjid pertama. Yang didirikan junjungan mereka. Termasuk ada pula rumah tempat kelahiran Mirza.

Mereka pun sepakat untuk mempertahankan Masjid Qadian. Apa pun yang terjadi. Sampai pun kalau nyawa harus melayang.

Kesepakatan itu lantas menjadi putusan khalifah mereka.

Tapi semua wanita harus mengungsi. Demikian juga anak di bawah 18 tahun. Dan laki-laki di atas 55 tahun.

Hanya para pemuda yang ditugaskan tetap tinggal di Qadian.

Jumlah mereka pun ditentukan: 313 orang. Sesuai dengan yang ikut perang Badr –di zaman Nabi Muhammad.

Semangat Perang Badr memang mewarnai jiwa 313 orang itu.

Tapi mereka bertekad hanya bertahan untuk menjaga masjid.

Seperti juga di Perang Badr mereka tidak punya niat perang.

Semua yang bertugas di Qadian diberi surat tugas langsung oleh khalifah mereka. Termasuk seorang pemuda yang terlanjur berangkat mengungsi.

Surat khalifah itu ia terima di perjalanan. Saat mengantar ibunya ke perbatasan.

Begitu menerima surat itu justru sang ibu yang berkeras. Agar anaknya kembali ke Qadian.

Sang ibu mengatakan bahwa dia bisa mengungsi bersama pengungsi lainnya.

Itulah salah satu dokumen yang sempat saya baca. Yakni kesaksian mereka yang termasuk 313 itu.

Air mata saya berlinang beberapa kali membaca dokumen itu.

Dari 313 orang tersebut kini masih dua orang yang hidup. Saya tidak sempat menemui keduanya.

Sebenarnya mereka masih tinggal di Qadian. Tapi sudah amat tua.

Selama mempertahankan Qadian itu mereka menjalani kehidupan sufi: sedikit makan sedikit bicara dan sedikit tidur.

Mereka berjaga 24 jam dalam kelompok-kelompok kecil.

Semua sudut jalan masuk desa Qadian diblokade. Massa tidak bisa masuk ke kampung Ahmadiyah itu.

Desa ini lantas menjadi tempat persembunyian yang aman. Orang yang tidak bisa mengungsi ke Pakistan mencari perlindungan di sini.

Pemuda yang 313 orang itu lantas disebut para Darwish. Yakni orang yang dengan tulus menjalani hidup sengsara. Mereka rela meninggalkan keinginan hidup normal.

Di tengah suasana perang itu para Darwish tetap teguh: mereka tetap mengumandangkan azan lewat menara. Lima kali sehari.
Qadian berhasil utuh. Sampai sekarang.

Pusat aliran Islam Ahmadiyah memang ikut pindah ke Lahore, Pakistan. Lalu pindah lagi ke London (DI’s Way:313 Ahmadiyah).

Tapi Qadian masih menjadi salah satu basis Ahmadiyah.

Di samping tetap berani azan apakah juga berani menyembelih sapi untuk kurban?

“Ini bukan soal berani atau tidak,” ujar Saifullah Mubarak, yang menemani saya di Qadian. “Kami ini selalu patuh pada pemerintah,” tambahnya.

Menyembelih sapi dilarang di Punjab. Ada UU-nya. Untuk menghormati keyakinan orang Hindu.

“Kami kan masih bisa memotong kambing dan domba. Tidak ada masalah,” ujar Saifullah yang asal Solok, Sumbar, yang sudah kawin dengan wanita Punjab itu.

Banyak sekali pertanyaan ke saya: mengapa Ahmadiyah dimusuhi oleh mainstream Islam? Sampai mengungsi ke London?

Semua ajaran Ahmadiyah sama dengan Islam pada umumnya. Terutama mazhab Hanafi. Syahadatnya sama. Qurannya sama. Haditsnya sama. Rukun Islamnya sama. Rukun Imannya sama.

Yang tidak sama hanya satu: Mereka yakin Mirza Ghulam Ahmad adalah manusia seperti yang dijanjikan di ajaran Islam maupun Kristen.

Yang diturunkan ke bumi sebagai ratu adil di akhir zaman.

Dan begitu banyak orang yang mengaku mendapat tugas seperti itu. Di Islam. Di Kristen. Dulu, kini dan masih akan ada lagi.(Dahlan Iskan)

  • Dipublish : 17 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami