45 Pengedar Obat Penenang Ditangkap

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

BANTEN RAYA – Dalam dua bulan, Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Banten berhasil menangkap 45 pengedar obat penenang atau obat daftar G dari sejumlah wilayah di Banten. Dari tangan puluhan pengedar itu, polisi berhasil mengamankan setengah juta obat atau sekitar 509.859 butir dari berbagai macam merek.

Secara rinci, ratusan ribu obat tersebut yaitu pil tramadol 31.346 butir, hexymer 364.659 butir, trihexyphenidhyl 17.080 butir, obat kuning 762 butir, dan obat polos 3.313 butir. Selain obat, polisi juga mengamankan uang tunai Rp16.284.000 hasil penjualan, 1 unit mobil dan 1 unit sepeda motor.

Direktur Resnarkoba Polda Banten Kombes Pol Yohanes Hernowo mengatakan, ratusan pil obat daftar G atau dalam bahasa Belanda gevaarlijk itu artinya berbahaya. Sehingga, pembelinya harus menggunakan resep dokter. Namun rata-rata obat ini sudah kadaluarsa kemudian dibuat ulang. “Ini obat daftar G dan kadaluarsa, ini obat berbahaya yang sudah tidak boleh digunakan lagi,” katanya kepada Banten Raya dalam konferensi pers di Mapolda Banten, Jumat (1/11).

Yohanes menjelaskan, obat-obatan berdosis tinggi itu jika digunakan secara terus menerus akan berdampak negatif kepada penggunanya, seperti merusak jaringan otak, mengganggu kesehatan tubuh hingga menyebabkan kematian. “Kalau selama saya bertugas memang belum ditemukan korban meninggal, tapi bisa menyebabkan kematian. Namun menurut penggunanya obat ini tidak akan membuat ketergantungan, dan efeknya bikin tenang,” jelasnya.

Yohanes mengungkapkan, obat dijual dalam bentuk paketan, berisi tiga sampai lima butir dengan harga Rp20 ribu per paketnya. Lantaran harga yang terjangkau, obat tersebut banyak diminati pelajar dari tingkat SMP hingga SMA. “Sasaran penjual banyak kalangan pelajar, SMP dan SMA rata-rata itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Yohanes menambahkan, para pengedar hanya menjual kepada orang yang dikenal dan sudah menjadi langganan. Obat tidak dijual kepada sembarang orang, karena pelaku sudah mengetahui obat tersebut dilarang beredar. “Pelaku mendapatkan obat-obatan keras itu dari bandar besar yang ada di Jakarta. Kemudian mereka edarkan di wilayah Banten. Modusnya, pelaku juga membuka toko kosmetik dan toko kelontong,” tambahnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, para pelaku dijerat Pasal 196 Juncto Pasal 98 Ayat (2) dan Ayat (3) Juncto Pasal 197 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan? dengan ancaman 10-15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp1 miliar.

“Ancaman hukumannya 10 tahun. Sampai saat ini, yang kita dalami belum ada (bandar). Tapi kita usahakan kesana,” tegasnya.

Salah seorang tersangka Martunis mengaku dirinya ditangkap di toko kosmetik yang berlokasi di Kampung Tegal Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, karena kedapatan menjual 500 butir obat daftar G oleh aparat kepolisian.

“Saya ditawari sales yang menawarkan obat ini. Katanya di daerah saya banyak peminatnya. Nggak kenal (sales obat),” katanya.

Menurut Martunis, ratusan obat-obatan tersebut kemudian kemas dan dijual kepada para pekerja pabrik, pengamen dan pengunjung yang datang untuk membeli ke toko.

“Harganya dari mulai Rp20 ribu. Kalau yang paling mahal trihexyphenidhyl per lempeng isi 10 harganya Rp35 ribu,” ujarnya.

(darjat)

  • Dipublish : 2 November 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami