95 Persen Bahan Baku Obat Masih Impor

Ilustrasi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek)/ Badan Riset dan Inovasi Nasional meminta, industri farmasi dapat mengembangkan bahan baku obat dari alam Indonesia, untuk menggantikan atau mensubtitusi bahan baku berbasis kimia.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/ Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro mendukung adanya pengembangan riset Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) atau fitofarmaka. Pasalnya, produk OMAI ini dihasilkan dari bahan baku dalam negeri.

“Yang kita ingin dorong adalah substitusi bahan baku yang tadinya dari luar negeri atau berbasis kimia menjadi bahan baku obat yang berbasis kepada tanaman ataupun flora dan fauna Indonesia yang sangat kaya,” kata Bambang, Kamis (9/1)

Bambang menginginkan, kekayaan biodiversitas Indonesia sebagai sumber kekuatan ekonomi bangsa, salah satunya dikembangkan sebagai bahan obat-obatan.

“Kekayaan hayati harus bermanfaat untuk sesuatu salah satunya itu adalah untuk bahan obat atau untuk mendukung upaya program kesehatan di Indonesia,” ujarnya.

Bambang menyebutkan, saat ini 95 persen bahan baku obat dalam negeri berasal dari impor, padahal Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tergolong dua terbesar dunia yang memiliki potensi bahan baku obat alami yang melimpah.

“Bisnis farmasi atau bisnis obat dalam negeri masih sangat didominasi dengan produk impor, kemudian regulasinya sangat ketat karena menyangkut nyawa manusia sehingga harus melalui proses yang panjang sebelum mendapatkan izin untuk peredaran obat,” tuturnya.

Di sini, pemerintah Indonesia mendukung pengembangan industri farmasi melalui kebijakan pengurangan pajak atau tax deduction, sehingga industri bisa mengalirkan dananya lebih banyak ke penelitian dan pengembangan.

Direktur Eksekutif DLBS Raymond Tjandrawinata menyebutkan, sebagai organiasi riset bahan alam saat ini DLBS sudah menghasilkan 18 produk berizin edar Fitofarmaka dari 26 produk fitofarmaka di Indonesia. Upaya itu merupakan langkah mendorong kemandirian bahan baku obat nasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.

“Melalui DLBS, Dexa Group melakukan kegiatan riset di tingkat hulu dengan mengembangkan ketersediaan farmasi dan memproduksi Active Pharmaceutical Ingredients (API) yang berasal dari makhluk hidup. Di tingkat hilir, inovasi pengembangan dari DLBS ini menghasilkan 18 produk berizin edar fitofarmaka dari 26 produk berizin edar Fitofarmaka di Indonesia,” jelasnya.

Saat ini DBLS sendiri telah menghasilkan OMAI di antaranya Inlacin yakni produk obat diabetes fitofarmaka berbahan baku bungur dan kayu manis yang telah diekspor ke Kamboja dan Filipina. Selain itu, produk fitofarmaka lainnya adalah Redacid berbahan baku kayu manis yang bermanfaat untuk mengatasi gangguan lambung.

“Kemudian, Inbumin berbahan baku ikan gabus yang bermanfaat untuk membantu proses penyembuhan luka, dan Disolf berbahan baku cacing tanah yang bermanfaat untuk memperlancar peredaran darah, serta rangkaian Herba Family seperti HerbaKOF untuk obat batuk, HerbaCOLD untuk flu dan HerbaPAIN untuk sakit kepala dan nyeri otot,” tuturnya. (der/fin)

 

  • Dipublish : 10 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami