Ada Libur Panjang Kasus Covid-19 Malah Landai, Ini Kata Epidemiolog

Sejumlah wisatawan mengikuti Rapid Test massal di halaman Masjid Harakatul Jannah, Simpang Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (29/10/2020). Rapid tes tersebut guna mendeteksi dini kondisi wistawan dari covid-19 yang akan berlibur di kawasan Puncak. Satu per satu kendaraan wistawan dari arah Jakarta menuju Puncak maupun sebaliknya diberhentikan petugas untuk mengikuti rapid tes massal. Mayoritas mereka yang terjaring karena juga kedapatan tidak memakai masker saat berkendara. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Sejumlah wisatawan mengikuti Rapid Test massal di halaman Masjid Harakatul Jannah, Simpang Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (29/10/2020). Rapid tes tersebut guna mendeteksi dini kondisi wistawan dari covid-19 yang akan berlibur di kawasan Puncak. Satu per satu kendaraan wistawan dari arah Jakarta menuju Puncak maupun sebaliknya diberhentikan petugas untuk mengikuti rapid tes massal. Mayoritas mereka yang terjaring karena juga kedapatan tidak memakai masker saat berkendara. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JaringanMedia.co.id – Kasus baru Covid-19 pada Oktober cenderung stagnan di angka 4.000-an. Tidak terjadi lonjakan signifikan hingga menembus angka di atas 4.000-an kasus selama Oktober. Justru pada pekan terakhir, kasus penularan Covid-19 turun hingga di bawah 4.000-an, hingga menyentuh 2.000-an kasus.

Tren stagnasi angka penyebaran Covid-19 selama Oktober yang justru cenderung turun di tengah momen libur panjang, memunculkan pertanyaan. Apa penyebabnya?

Catatan JawaPos.com, penurunan kasus mulai terjadi pada 26 Oktober yakni 3.222 kasus. Selanjutnya, pada 27 Oktober kasus baru tercatat sedikit naik menjadi 3.520.

Kasus baru Covid-19  pada 29 Oktober yakni sebanyak 3.565 kasus. Namun, pada hari-hari berikutnya terus turun di angka 2.897 kasus (30 Oktober) dan 2.696 kasus (31 Oktober).

Angka penularan Covid-19 yang menurun ini tampaknya sebagai kabar baik bahwa pandemi akan segera berlalu, dan pemulihan ekonomi bisa berjalan lebih cepat. Namun ternyata, data ini tidak sepenuhnya menunjukkan kabar baik. Sebab, penurunan kasus terjadi lantaran laboratorium dan SDM di dalamnya ikut libur panjang dan cuti bersama.

“Penurunan kasus itu karena lab libur. Pemeriksaan ada, tapi yang memeriksa orang yang lembur,” jelasnya Epidemiolog dan Pakar Kesehatan dari Fakuktas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono kepada JawaPos.com, Selasa (2/11).

Menurutnya, ketika laboratorium beroperasi normal, sejatinya belum ada penurunan angka penyebaran Covid-19. Angka penularan Covid-19 di Indonesia masih di angka 4.000-an kasus.

Analisis Tri Yunis tersebut didasarkan pada jumlah spesimen yang diperiksa dalam sehari. Anjlok di bawah target yang diminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebesar 30.000 uji spesimen. Adapun rerata uji spesimen dalam tiga hari terakhir Oktober hanya 24.000-25.000.

“Oktober stagnan ya, normalnya akan tetap 3.800 sampai 4.000 kasus sehari untuk Indonesia. Dan Jakarta di angka 800-1.000 kasus,” ujarnya.

Tri Yunis menambahkan, DKI Jakarta yang beberapa hari belakangan memecah rekor sebagai wilayah dengan angka penularan Covid-19 terbanyak pun mengalami penurunan kasus baru. Sama halnya dengan wilayah lain, itu disebabkan karena memang petugas laboratorium libur.

Sebagai informasi, pada 29 Oktober hanya ada 713 kasus baru di DKI Jakarta. Angka penularan terlihat menurun pada 30 Oktober menjadi 612 kasus dan pada 31 Oktober sebanyak 608 kasus. Akan tetapi, selama periode tersebut, 29-31 Oktober, rerata angka kematian akibat Covid-19 di DKI Jakarta tercatat 14-19 kasus. (jp)

  • Dipublish : 2 November 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami