Ahli Penyakit AS: 2 Dosis Vaksin Ampuh Tangkal Mutasi Covid-19 India

ILUSTRASI SIMULASI VAKSINASI (Straits Times)
ILUSTRASI SIMULASI VAKSINASI (Straits Times)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jaringanmedia.co.id – Indonesia dan semua negara di dunia sedang berjuang menghadapi varian mutasi Covid-19 Delta dari India. Masyarakat tentu berharap keefektifan vaksin bisa melawan mutasi SARS-CoV-2 India.

Sebuah makalah baru di jurnal Nature melaporkan bahwa orang yang divaksinasi dengan dua dosis vaksin Pfizer–BioNTech mampu menetralkan beberapa varian virus, termasuk B.1.617.2 (atau Delta) varian pertama kali terlihat di India dan B.1.525, awalnya diidentifikasi di Nigeria.

Awal pekan ini ahli penyakit menular AS dr. Anthony Fauci memperingatkan bahwa varian Delta sedang meningkat di AS setelah menyebar ke seluruh Inggris dan puluhan negara lain. Dia mendesak masyarakat untuk mendapatkan vaksinasi penuh.

Baca Juga: 10 Ribu Pekerja Sektor Jasa Keuangan Divaksin, Ini Harapan Jokowi

“Bahwa dua dosis vaksin Pfizer atau AstraZeneca tampaknya efektif terhadap varian tersebut,” katanya.

Studi baru yang dipimpin oleh para peneliti di Texas melibatkan 20 sampel serum darah dari 15 orang yang divaksinasi lengkap dengan vaksin Pfizer. Sementara sampel kurang kuat dalam mencatat varian jika dibandingkan dengan strain awal virus dari Januari 2020, reaksi terhadap semua varian sudah cukup.

“Temuan ini menunjukkan bahwa vaksin kemungkinan akan memberikan perlindungan yang memadai terhadap varian baru ini,” bunyi pernyataan dari penulis.

Baca Juga: Aksi Premanisme dan Pungli, 8.217 Orang Diamankan

Sebuah makalah terpisah yang diterbitkan di Nature Medicine mengatakan vaksinasi pada tingkat yang lebih tinggi secara umum juga menurunkan kemungkinan infeksi bagi orang yang tidak divaksinasi. Demikian temuan dalam analisis catatan vaksinasi dan hasil tes dari puluhan komunitas di Israel. Intinya, peningkatan 20 persen dalam jumlah orang yang divaksinasi dalam suatu populasi tampaknya berkorelasi dengan penurunan infeksi dua kali lipat dibanding mereka yang tidak divaksinasi.

Penulis makalah ini memperingatkan bahwa penurunan infeksi juga bisa disebabkan oleh kekebalan alami yang didapat terhadap Covid-19. Meskipun demikian, mereka juga menganggap temuan baru ini setidaknya bisa cukup menggembirakan. (jpc/jm)

  • Dipublish : 18 Juni 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami