AKBP Arief Fajar, Sandang Kamera, Buru KKB di Papua

AKBP Arief Fajar Satria (kiri). Foto: semua gambar dalam berita ini dok.pribadi Arief Fajar Satria.
AKBP Arief Fajar Satria (kiri). Foto: semua gambar dalam berita ini dok.pribadi Arief Fajar Satria.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id, PEKALONGAN – Hawa dingin menusuk tulang AKBP Arief Fajar Satria. Dia sedang berada di kantor Polsek Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua. Saat itu malam pertama Ramadan, April lalu. Arief bersama seluruh awak Satgas Nemangkawi bersiaga. Lengah sedikit, bisa kena sasaran kelompok kriminal bersenjata.

Dan memang benar, Entah dari mana sumbernya. Ada yang menembak. Hening. Arief Fajar dan tim di Polsek Ilaga makin siaga. Hamdalah, suasana kondusif hingga senja di Ilaga. Malam datang lagi. Bunyi letusan kembali terdengar.

“Dar der dor. Kali ini satgas membalas tembakan,” ujar Arief. Setelah bunyi letusan reda, Satgas Nemangkawi membuat perimeter dan membentuk tim pengejaran. “Kami harus selalu siaga dan bergerak cepat,” tutur Arief, pria kelahiran Kudus 26 Mei 1978 itu.

Wakil Kepala Humas Satgas Nemangkawi tersebut mengenang saat-saat dia melakoni tugas yang berakhir beberapa bulan lalu. Kini, tamatan Akademi Kepolisian pada 2001 itu mengemban jabatan Kapolres Pekalongan. “Saya di Humas Satgas Nemangkawi saat itu bisa dibilang jadi peliput di daerah konflik. Membuat laporan dan menginformasikan kepada media tentang apa yang terjadi di sana,” kata Arief.

Di Papua, Arief tak hanya menenteng senjata, tetapi juga kamera. Ya. Saat harus waspada dengan ancaman timah panas, pria yang lama mengecap dunia reserse itu juga jeprat-jepret mengabadikan momen.

“Selain M4 (senapan serbu), saya juga bawa kamera. Malah itu yang menjadi senjata utama,” kata Arief. Anak dari pasangan seorang masinis dan bu guru SD ini menjelaskan hasil liputannya itu harus matang. Tidak membuat pembaca, khususnya masyarakat Ilaga dan Papua khawatir. Selain meliput tugas Satgas Nemangkawi di daerah konflik, Arief juga aktif di Binmas Noken, satuan yang mendampingi dan berbagi kepada masyarakat setempat. “Bersama Binmas Noken, kami bercocok tanam, budidaya ikan. Ada juga Polisi Mengajar dan konseling,” kata Arief.

Bagaimana komunikasi Arief dengan anak dan istri yang ada di Pulau Jawa? “Tergantung sinyal. Bisa 2 x sehari, tetapi pernah juga lebih lama. Harus mencari titik. Kalau sudah merasa bakal susah mencari titik sinyal, saya bilang dahulu ke rumah. Istri sudah paham, begitulah jadi istri polisi,” ujar Arief.

Sebelum menjadi Kapolres Pekalongan, Arief sempat menjabat Kepala Subbagian Pemantauan Krisis Bagian Pemantauan dan Analisa Biro Multimedia Divisi Humas Polri. Arief juga merupakan anggota Polri berprestasi.

Dia telah meraih tiga pin emas dari Kapolri. Pin emas pertama pada 2019. Arief mendedikasikan dirinya merumuskan dan menyusun Perkap Kapolri Nomor 1 Tahun 2019 tentang Sistem Manajemen Operasi Kepolisian. Pada 2020, pin emas dipercayakan kepada Arief berkat menulis dan menyusun buku Sejarah Humas Polri, Strategi Humas Dalam Menghadapi Pilkada Serentak 2020 dan Mengubah Bencana Menjadi kekuatan (Memutus Mata Rantai COVID-19). Selanjutnya, pin emas didapat lantaran peran AKBP Dr. Arief Fajar Satria, S.H., S.I.K., M.H. pada Satgas Nemangkawi di Papua. (jpnn/jm)

  • Dipublish : 15 September 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami