Aksi Anarkisme Pecah di Depan Kantor Gubernur Lampung

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BANDARLAMPUNG – Aksi demonstrasi yang mengatasnamakan mahasiswa di sejumlah daerah terus meluas. Tak terkecuali di Lampung yang berakhir ricuh, Rabu (7/10). Tuntutan massa pun sama, menolak Undang Undang Cipta Kerja yang telah ditetapkan oleh DPR RI, Senin (5/10).

Aksi yang berlangsung pukul 10.00 WIB di Komplek Kantor Gubernur dan Kantor DPRD Provinsi Lampung, Kota Bandarlampung, tersebut mereda pada pukul 16.30 WIB.

Aksi anarkisme oleh massa dimulai dengan seruan untuk memasuki gedung DPRD Provinsi Lampung, dan dilanjutkan dengan pembakaran ban, dan pemecahan kaca gedung setempat.

”Massa awalnya ingin berdialog dengan DPR dan gubernur. Mahasiswa ingin menyampaikan pendapat. Dan beberapa hal yang berkaitan dengan poin-poin penolakan. Namun terhalang dengan aparat,” terang Paulus salah satu demonstran.

Demonstran lainnya, Anggie menambahkan, ada upaya provokasi yang dilakukan beberapa orang di tengah kerumunan massa. Sehingga menimbulkan situasi makin panas.

”Jujur saja kami tidak mau seperti ini awalnya. Eh rencana jadi berubah semua. Aksi yang awalnya damai, berujung panas. Rekan kami juga terkena batu, dan kepalanya pecah. Melihat kondisi ini ya, situasi mulai makin panas,” imbuhnya.

Selain mahasiswa, informasi yang diterima aparat kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja mengalami luka akibat lemparan batu dan pecahan kaca gedung.

Korban luka pun terjadi pada aparat polisi dan Satpol PP. ”Ada yang melempar batu. Yang entah datangnya dari mana. Ada pengunjukrasa yang terluka ada juta aparat yang terkena. Untuk ada tim medis di sekitar lokasi,” imbuhnya.

Aksi akhirnya mereda setelah pihak berwajib mampu mengendalikan massa dan tepat pada pukul 17.00 WIB.

Sebagian pengunjukrasa mulai meninggalkan lokasi demo, namun aksi melawan aparat berwenang masih terjadi hingga pukul pukul 17.00 WIB. Sementara itu sejumlah provokator telah diamankan oleh petugas berwajib.

”Rekan-rekan kami ada yang dilarikan di rumah sakit. Kami belum tahu apakah aksi ini akan berlanjut besok (8/10) atau tidak,” pungkas Paulus.

Di tempat terpisaj sedikitnya enam mahasiswa Universitas Pelita Bangsa dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis pascabentrok demo tolak omnibus law UU Cipta Kerja (Ciptaker) di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi.

”Enam orang dalam kondisi cukup kritis, satu mahasiswa masih dalam tindakan serius karena terus mengalami pendarahan,” ujar Humas Universitas Pelita Bangsa, Nining Yuningsih.

Enam mahasiswa dilarikan ke dua rumah sakit berbeda karena tingkat kritis yang butuh penanganan berbeda. Tiga mahasiswa dilarikan ke RS Harapan Keluarga dan sisanya ke RS Karya Medika. (fin/ful)

  • Dipublish : 8 Oktober 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami