Aktor Asing Dalang Kerusuhan di Papua Terus Diburu

Kadiv Humas Polri Irjen Pol M Iqbal
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Polri mengklaim sedang memetakan siapa saja aktor di balik kerusuhan di Papua dan Papua Barat. Polri bersama Kementerian Luar Negeri dan Badan Intelijen Negara (BIN) tengah memetakan dugaan pihak asing di serangkaian kerusuhan tersebut.

Meski demikian, Kadiv Humas Polri Irjen Pol M Iqbal mengatakan, pihaknya masih belum bisa untuk menyebutkan secara gamblang siapa itu pihak asing.

“Kita sedang dalami itu. Tapi maaf, karena di forum ini enggak (bisa) juga kita sebut luar itu A,B,C dan mendukung (OPM). Yang jelas narasinya adalah kita duga ada pihak luar yang mencoba untuk memanas-manasi dan ada agenda settinglah,” kata Iqbal di Mabes Polri, Senin (2/9).

Menurut Iqbal, dugaan itu muncul karena dalam kenyataannya masyarakat Papua dan Papua Barat selalu hidup damai. Bahkan, diakui mengklaim, bahwa warga masyarakat Papua dan Papua Barat itu pun merasa nyaman hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Coba kita hitung saja berapa kabupaten yang rusuh, kabupaten/kota lainnya masih sangat NKRI,” ujarnya.

Lebih jauh, Iqbal menyebut, kalau Polri saat ini telah melakukan koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk mendalami dugaan keterlibatan pihak asing yang memprovokasi kerusuhan di Papua dan Papua Barat.

“Jadi intinya, sedang kita lakukan pendalaman terus, dan pendalaman itu tidak hanya kepolisian sebab tidak akan optimal. Sehingga nanti, akan ada pihak seperti Kementerian Luar Negeri, BIN dan seluruh instansi dan kelembagaan terkait yang bersama untuk pendalamannya,” tuturnya.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyebutkan, salah satu pihak luar yang menjadi pelaku di balik aksi kerusuhan di Papua itu, adalah seorang tokoh separatis Papua Benny Wenda.

“Ya jelas Benny Wenda, dia memobilisasi people miss. Memobilisasi informasi yang miss, nggak benar. Dia lakukan, di Australia-lah, di Inggris-lah,” kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (2/9).

Moeldoko menuturkan, masalah yang terjadi tersebut merupakan masalah politik. Dia menyebut pemerintah akan melakukan pendekatan politik terhadap Benny Wenda yang saat ini tinggal di Inggris.

“Ini persoalan politik, jadi pendekatannya politik. Nggak bisa pendekatannya militer. Lebih politik, karena dia bergerak di peran politik,” tutur Moeldoko.

Moeldoko menyebut, NKRI adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Dia pun meyakini setiap persoalan, termasuk di Papua ada jalan keluarnya.

“Jadi, NKRI itu final, ngapain itu bicara. Semua persoalan bisa diselesaikan. Tapi persoalan integrity negara sudah disepakati, no way. NKRI harga mati kan gitu,” jelasnya.

Terpisah, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengungkapkan, selain sedang proses pemetaan itu Polri juga terus memantau para kreator dan buzzer di media sosial penyebab rusuh di Papua, bahkan pihaknya menemukan sejumlah oknum yang berada di luar negeri.

“Sudah kita pantau, khususnya yang ada di Indonesia. Dari kreator dan buzzer-buzzernya sudah kita dalami. Adapun sampai saat ini, konten-kontenhoaks ada 52 ribu, dan kita bekerja sama dengan Kemenkominfo, Badan Siber untuk melakukan break down ke akun-akun tersebut,” ujar Dedi.

Namun Dedi mengakui, jika sampai saat ini belum bisa mengungkap siapa saja pelaku penyebar hoaks di media sosial yang memicu rusuh di Papua. Termasuk menindak para pelaku yang berada di luar negeri.

“Polri bekerja sesuai fakta hukum, dan kita belum bisa melakukan tindakan hukum terhadap oknum-oknum yang berada di luar negeri, karena locus, tempus, dan perbuatan melawan hukum di sana,” katanya.

Di sisi lain, Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) telah menindak tegas empat warga negara asing (WNA) asal Australia yang diketahui terlibat dalam aksi unjuk rasa di Sorong, Papua Barat, dengan mendeportasi ke negara asalnya.

Keempatnya itu antara lain seorang pria bernama Baxter Tom (37), seorang perempuan bernama Davidson Cheryl Melinda (36), lalu ada Hellyer Danielle Joy (31) dan Cobbold Ruth Irene. Mereka semua gunakan visa jenis Exemption, untuk tinggal di Indonesia.

“Proses deportasi keempat WN Australia tersebut dilakukan pada Senin, 2 September 2019 melalui Bandar Udara DEO Kota Sorong, dan diterbangkan menggunakan pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6197 menuju Bali melalui Makassar,” kata Kepala Sub Bagian Humas Direktorat Jenderal Imigrasi, Sam Fernando.

Sam mengatakan, seluruh WNA selanjutnya akan dipulangkan menuju Australia menggunakan pesawat Qantas QF 44. Hanya saja WNA bernama Davidson Cheryl Melinda akan berangkat ke Australia pada 4 September 2019 menggunakan pesawat Virgin Australian Airline pukul 15.45 WITA.

(Mhf/gw/fin)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 3 September 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami