Aliran Modal Asing Masuk ke Indonesia Sebesar 180,7 T

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Hingga akhir Agustus, Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing masuk ke Indonesia sebesar Rp180,7 triliun.

Aliran modal asing masuk melalui sejumlah instrumen, diantaranya Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp118,9 triliun dan saham sebesar Rp60,7 triliun.

Dengan lancarnya aliran modal asing, Gubernur BI, Perry Warjio menilai bahwa perekonomian Indonesia memiliki prospek yang menggembirakan sehingga imbal hasil bagi investor.

“Dalam seminggu ini ada kenaikan airan modal asing totalnya sebesar Rp3,2 triliun,” ujar dia di Jakarta, Jumat (30/8).

BI juga mencatat kredit premi mikro menurun sejak lima tahun lalu. Pada Minggu ini turun sebanyak 90,4 basis poin atau lebih rendah sebelumnya 0,90 basis poin dari sebelumnya 91,9 basis poin.

“Kebijakan ini ditempuh dengan sejalan tetap rendahnya inflasi dan perlunya dorong perekonomian di tengah kondisi ketidakpastian global,” ucap dia.

Soal inflasi sepanjang 2019, BI meyakini angka inflasi sepanjang 2019 tetap akan terkendali sesuai dengan proyeksi awal, di bawah 3,5 persen.

Terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad mengatakan, aliran modal asing sebesar Rp180,7 triliun karena disebabkan suku bunga SBN cukup menarik.

“Hal ini karena penawarannya masih cukup tinggi yakni sebesar 7,95 persen hingga 8,15 persen hingga Oktober 2019. Jadi masih cukup kompetitif dibandingkan dengan negara lain,” ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (30/8)

Namun, dia memprediksi aliran modal asing tidak bertahan lama karena faktor suku bunga acuan atau BI 7-Day repo Rate yang telah turun hingga 5,5 persen yang baru diumumkan Minggu lalu.

Sementara soal inflasi ditargetkan bisa di bawah 3,5 persen, Tauhid ragu bisa tercapai megngingat inflasi disumbang oleh komoditas pangan.

“Inflasi yang bersumber dari pangan masih menjadi problem, khususnya cabai, serta terganggunnya stok pada beberapa daerah yang mengalami kekeringan akibat kemarau,” tutur dia.

Peneliti Indef lainnya, Nailul Huda mengatakan, aliran modal tersebut karena Indonesia diuntungkan dari gejolak ekonmi global yang terjadi saat ini.

“Jadi saat ini Indonesia diuntungkan dengan gejolak ekonomi global yg menyeret negara-negara besar seperti Amerika Serikat (AS), Cina, Korea Selatan, Jepang, Inggris dan lainnya. Modal ini mencari tempat baru yang menguntungkan yaitu negara berkembang termasuk Indonesia,” ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (30/8).
Menurut aliran modal asing cukup bagus ini sifatnya hanya temporer dan akan kembali melemah pada bulan berikutnya.

“Hal ini bagus namun sifatnya sangat sementara. Alangkah baiknya kalau yang datang itu adalah investasi langsung dari luar negeri (Foreign Direct Investment/FDI) karena memberikan dampak multiplier kepada ekonomi nasional,” pungkas Huda.

(din/fin)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 31 Agustus 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami