Anak Bawah Umur jadi ‘Mangsa’

DIAMANKAN. TT, tersangka pencabulan terhadap anak tiri saat berada di Mapolres Kupang Kota,
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KUPANG, TIMEX – Dalam kurun waktu tujuh bulan, sudah 50 kasus pencabulan yang ditangani Polres Kupang kota. Mayoritas korbannya adalah anak di bawah umur.

Kapolres Kupang Kota, AKBP Satrya Perdana P. Tarung Binti, SIK melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH membenarkan hal tersebut di ruang kerjanya, Senin (24/7) lalu. Bobby mengatakan kasus yang dilaporkan paling banyak dialami oleh anak di bawah umur. Sesuai hasil pemeriksaan, paling banyak disebabkan akibat media sosial. “Tingkat kasus kekerasan seksual di Kota kupang selama bulan Januari sampai bulan Juli 2019 meningkat drastis. Kalau dihitung, rata-rata kasus pencabulan ini terjadi setiap empat hari,” ujarnya.

Iptu Bobby mengatakan dari jumlah itu, kasus pencabulan paling banyak terjadi pada kalangan pelajar atau anak di bawah umur, baik pelaku maupun korban. Pihak kepolisian menjadikan kasus tersebut sebagai atensi khusus. Kepolisian sudah konsisten menyelesaikan setiap laporan yang diterima hingga ke kejaksaan. “Kasus kekerasan seksual kami tidak main-main karena kejahatan pidana yang tidak bisa ditolelir. Semua kasus diproses serta para pelaku juga sudah ditangkap,” kata mantan Kasat Reskrim Polres Sikka itu.

Ia menambahkan, di sisi lain, proses hukum merupakan langkah terakhir sehingga pihaknya akan melakukan pendekatan dan pertemuan dengan beberapa tokoh lintas agama di Kota Kupang. Tujuannya agar secara kelembagaan bersama Unit Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Sat Reskrim Polres Kupang Kota secara berkala dan berkelanjutan melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Belum lama ini, pihak kepolisian telah melakukan pertemuan dengan Ketua Sinode Gereja Masehi Injili Timor (GMIT), Pdt. Dr. Mery Kolimon dan tokoh agama lainnya. Para Bhabinkamtibmas yang berada di setiap kelurahan di Kota Kupang juga diarahkan untuk memberikan sosialisasi saat bertemu dengan masyarakat dan melakukan sosialisasi dan imbauan kepada orang tua dan anak.
Ia juga mengimbau para orangtua untuk lebih memperhatikan anak-anaknya saat berada di rumah dan mengetahui aktivitasnya baik di lingkungan sekitar maupun dalam penggunaan medsos. “Untuk orangtua luangkan waktu dan memberikan perhatian pada anak-anaknya. Kita luangkan waktu, maka anak-anaknya akan dekat dan tidak menghabiskan waktunya dengan teman dan handphonenya,” kata Bobby.

Terpisah, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Mery Kolimon mengatakan meningkatnya angka kekerasan seksual di Kota Kupang memang sangat memprihatinkan. “Kita semua bertanggung jawab untuk mengatasi keadaan ini. Percabulan merupakan bentuk kekerasan berbasis gender yang harus disikapi dengan serius oleh berbagai pihak, pemerintah, lembaga agama termasuk gereja, lembaga pendidikan sekolah dan semua pihak terkait,” katanya.

Pdt. Mery menjelaskan diperlukan pendidikan nilai dalam keluarga, dalam gereja atau masjid, dan dalam masyarakat mengenai harkat dan martabat manusia. Kekerasan seks lahir dari tidak adanya penghargaan hak asasi manusia serta timpangnya relasi antara laki-laki dan perempuan akibat ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender.

Ia menambahkan berkembangnya teknologi informasi dalam era Revolusi Industri 4.0 membawa banyak kebaikan untuk komunikasi dan penyebaran informasi yang cepat dan lebih murah. Tetapi, perkembangan teknologi informasi juga sekaligus menghadirkan ancaman. “Karena begitu gampangnya akses kepada situs-situs porno yang dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja,” ujarnya.
Untuk itu, kata Pdt. Mery, pendidikan nilai di dalam keluarga, sekolah, lembaga agama, dan masyarakat menjadi sangat penting. “Kita perlu melindungi anak-anak kita dari paparan pornografi sebab akan merusak mental dan intelektual mereka,” terangnya.

Residivis Cabuli Anak Tiri di Kamar Kos

Kasus pencabulan terbaru di Kota Kupang terjadi Kamis (25/7) lalu. Aksi bejat ini dilakukan oleh pelaku berinisial TT di kamar kos. Korbannya adalah anak tirinya berinisial RS (15) yang merupakan siswi salah satu SMP swasta di Kota Kupang.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH melalui KBO Reskrim, Ipda I Wayan Pasek Sunjana, SH saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Sabtu (27/7) menjelaskan pelaku nekat melancarkan aksinya itu saat tiba dari TTU. Saat tiba di kosnya itu, istrinya dan anaknya tidak berada di kos. Hanya ada anak tiri pertama dan kedua. Pelaku lalu menyuruh kakak korban pergi membeli bola lampu di kios. Kemudian pelaku menyuruh korban masuk ke dalam kamar. Saat itulah pelaku hendak memperkosa korban. “Korban sempat berteriak meminta tolong, tapi pelaku mencekik korban. Saat itu ibu kos memanggil nama korban sehingga pelaku langsung pakai kembali pakaiannya,” katanya.

Pemilik kos yang curiga kemudian datang dan mengetuk pintu kamar kos. Dan didapati korban di dalam kamar. Ia pun menarik keluar korban. “Setelah mendapati perbuatan pelaku, pemerintah setempat dan ibu kos mendatangi SPKT untuk mengadukan persoalan tersebut,” ungkapnya.

Setelah menerima laporan, aparat kepolisian bergerak cepat mengamankan pelaku dan langsung diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka serta ditahan di Mapolres Kupang Kota.

Wayan Sunjana mengungkapkan sesuai hasil pemeriksaan terhadap korban, korban mengaku pelaku sudah lama mencoba melancarkan aksinya itu, namun ia selalu menghindar. Hanya saja saat kejadian, ia tidak bisa menghindar.

TT diketahui merupakan residivis pembunuhan terhadap istrinya sendiri pada tahun 2016 lalu di Rote dan saat ini bebas bersyarat pada 20 Mei 2012 sampai 1 Agustus 2021. Terhadap kasus itu, tersangka dijerat pasal 82 ayat 2 undang-undang nomor 17 Tahun 2016 jo undang-undang nomor 35 Tahun 2014 atas perubahan atas undang-undang nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. (mg29/mg25/sam)

 

Sumber: timorexpress.fajar.co.id

  • Dipublish : 29 Juli 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami