Angka Corona Dekati 10 Juta

Police personnel check travel passes from commuters after strict lockdown norms for weekends and public holidays were imposed as a preventive measure against the COVID-19 coronavirus, in Amritsar on June 28, 2020. (Photo by NARINDER NANU / AFP)
Police personnel check travel passes from commuters after strict lockdown norms for weekends and public holidays were imposed as a preventive measure against the COVID-19 coronavirus, in Amritsar on June 28, 2020. (Photo by NARINDER NANU / AFP)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Kasus Virus Corona seluruh dunia mendekati 10 juta. Ini menandai tonggak sejarah dalam persebaran penyakit pernapasan yang sejauh ini membunuh hampir setengah juta orang dalam tujuh bulan.

Angka itu kurang lebih dua kali lipat jumlah penyakit influenza parah yang tercatat setiap tahun, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Peristiwa bersejarah itu akan datang saat banyak negara yang parah dilanda corona sedang melonggarkan karantina wilayah sementara melakukan perubahan secara meluas untuk kerja dan kehidupan sosial perlu menunggu setahun atau lebih sampai ditemukannya vaksin.

Beberapa negara mengalami gelombang kedua penularan, yang mendorong otoritas menerapkan kembali karantina sebagian wilayah. Para ahli mengatakan penerapan kembali karantina sebagian wilayah itu dapat menjadi pola yang berulang dalam beberapa bulan mendatang dan sampai memasuki 2021.

Amerika Utara, Amerika Latin dan Eropa masing-masing mengalami sekitar 25 persen kasus, sementara Asia dan Timur Tengah masing-masing sekitar 11 persen dan 9 persen, menurut Reuters yang menggunakan laporan pemerintah.

Ada lebih dari 497.000 korban meninggal akibat corona sejauh ini, yang hampir sama dengan jumlah kematian akibat influenza yang dilaporkan setiap tahun. Pandemi itu kini memasuki satu fase baru, dengan India dan Brazil sedang memerangi wabah yang menulari 10.000 orang tiap hari, sehingga membebani negara.

Dua negara itu menyumbang lebih dari sepertiga semua kasus baru dalam pekan terakhir. Brazil melaporkan rekor 54.700 kasus baru pada 19 Juni. Beberapa peneliti mengatakan jumlah kematian di Amerika Latin dapat meningkat hingga 380.000 pada Oktober, dari sekitar 100.000 pekan ini.

Jumlah total kasus terus naik pada tingkat antara 1-2 persen sehari pada pekan terakhir, turun dari tingkat di atas 10 persen pada Maret. Negara-negara termasuk Cina, Selandia Baru dan Australia mengalami penularan baru dalam bulan terakhir, meskipun sebagian besar bukan akibat penularan lokal.

Di Beijing, di mana ratusan kasus baru terkait dengan pasar pertanian, kemampuan pengujian ditingkatkan hingga 300.000 tiap hati. Di negara-negara dengan kemampuan pengujian terbatas, jumlah kasus mencerminkan proporsi kecil dari total infeksi. Sekitar separuh dari infeksi yang dilaporkan konon telah sembuh.

Meski wabah Virus Corona terus meluas, namun warga Inggris menyambut baik dibukanya kembali tempat minum atau dikenal dengan pub, restoran, dan salon atau penata rambut di Inggris, Skotlandia, dan Irlandia Utara pada awal Juli setelah adanya lockdown karena adanya pendemi.

Rencana membuka fasilitas yang dinilai sangat ensensial bagi warga Inggris itu diumumkan Perdana Menteri Boris Johnson dalam pernyataan pada parlemen terkait pelonggaran penguncian yang meluas dan sudah berlangsung tiga bulan.

Dalam perdebatan di Parlemen juga dibahas jarak sosial yang direkomendasikan untuk dijaga dari orang lain akan diturunkan dari dua meter ke satu meter. Kegembiraan yang sama juga disampaikan warga Inggris asal Wales yang tinggal di London, Jason Marc.

Ia menyatakan sangat berbahagia ketika Pemerintah Inggris mengumumkan akan dibukanya pub pada 4 Juli bertepatan dengan Hari Kemerdekaan AS.

Bagi Jason, pub yang jadi langanannya “Half-Moon,” di daerah Whitechapel, Timur London adalah tempat dimana dia selalu bersosialisasi dengan kerabatnya setelah usai bekerja lima hari nonstop. ”Kita sambut baik. Saya juga ingin mengadakan pertemuan pertama bersama kerabat dekat,” terangnya.

Lain lagi dengan rekan Jason, Tinder Singh yang kebetulan bertempat tinggal hanya lima menit jalan kaki dari pub lokal yang menjadi tempat pertemuan dia bersama rekan-rekannya setiap hari Jumat malam dan Sabtu malam.

Tinder berpendapat bahwa dia tidak bisa membayangkan bagaimana harus bersosialisasi di pub dengan harus menjaga jarak satu sama lain. Akan tetapi dia tetap bersikap positf terhadap aturan Pemerintah Inggris.

Sementara pengusaha cafe asal Minang, Harmein Ferdinal Pribadi juga merasa senang dengan adanya keputusan Pemerintah Inggris mulai awal bulan Juli. ”Dengan akan dibukanya kembali restoran, kafe, dan pub, kami dari Cafe Faringdon Coffee House menyambut dengan senang hati dan akan menyesuaikan dengan peraturan Pemerintah mengikuti protokol kesehatan untuk Covid-19,” ujar suami Pancanita Kaloko ini.

Selain menyediakan hand sanitizer, sarung tangan, tisu dan cairan disinfektan, serta pembayaran dengan mengunakan kartu. ”Untuk sementara kami melayani takeaway dan buat layanan makan siang kami juga buat pesanan daring dengan bayar dimuka,” ujar Harmein yang menyediakan menu makanan Indonesia lainnya.

”Kami berencana menyediakan lebih banyak pilihannya menu selain rendang, nasi goreng serta mie goreng yang selama ini menjadi andalan dan dikenal masyarakat di Faringdon Oxfordshire dan sekitarnya. Kami akan memasukkan tambahan menu lain seperti sate ayam dan sate kambing , opor ayam, serta gulai kambing, dan ikan kecil balado,” ujarnya.

”Diharapkan Cafe Faringdon Coffee House akan dikenal sebagai kafe yang memiliki menu autentik khusus makanan Indonesia di wilayah Oxfordshire dan sekitarnya,” ujar Harmein yang memulai usaha sejak Juli 2017.

Sementara Aldiana Maulidia yang akrab disapa dengan Ana, semifinalis ajang pencari bakat di Inggris Britain Got Talent (BGT) yang sering manggung di club dan pub di sekitar Colchester, seperti di Pub Hole in the Wall atau Charlie Pub.

”Mengenai adanya kebijaksanaan Pemerintah Inggris yang akan diperbolehkan buka untuk pub, restoran dan salon, menurutku itu bagus untuk mengangkat tingkat perekonomian yang sudah menurun semenjak ada Covid-19,” katanya.

”Banyak usaha yang sudah tutup dan bangkrut karena dampak keras dari Covid-19, apalagi travel dan industri penerbangan yang paling parah,” ujar Ana yang menjadi pramugari di perusahaan penerbangan berbiaya rendah. (reu/fin/ful)

  • Dipublish : 29 Juni 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami