Angka Kematian Covid-19 Tinggi, Persingkat Alur Rujukan Pasien Korona

Suasana pemakaman khusus Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, di Jakarta, Minggu (18/10/2020). TPU Pondok Ranggon jadi salah satu yang mengalami krisis lahan pemakaman seiring bertambahnya jumlah korban meninggal dunia karena wabah virus corona (Covid-19). Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com
Suasana pemakaman khusus Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, di Jakarta, Minggu (18/10/2020). TPU Pondok Ranggon jadi salah satu yang mengalami krisis lahan pemakaman seiring bertambahnya jumlah korban meninggal dunia karena wabah virus corona (Covid-19). Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Angka kematian akibat Covid-19 terus meningkat di atas 150 jiwa setiap harinya. Satgas Covid-19 menegaskan satu nyawa saja sangat berarti. Seharusnya, daerah-daerah dengan angka kematian yang tinggi bisa menekan jumlah angka kematian.

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan, perkembangan kasus kematian Covid-19 mingguan memperlihatkan kenaikan 0,3 persen dibanding minggu sebelumnya. Mengingat, pada minggu lalu tren kenaikannya 20 persen.

Pada minggu ini provinsi dengan kenaikan kematian tertinggi ini berasal dari Jawa Timur naik 53 kasus; Kalimantan Utara naik 20 kasus; DKI Jakarta naik 20 kasus; Sulawesi Tenggara naik 15 kasus; dan Lampung naik 12 kasus.

Meskipun persentase penambahan kematian mingguan mengalami penurunan dari minggu sebelumnya, pada minggu ini di 5 besar terdapat empat provinsi yang sebelumnya tidak masuk ke dalam provinsi lima besar kematian tertinggi.

“Ini artinya kualitas penanganan pasien Covid-19 masih fluktuatif dan perlu peningkatan di seluruh provinsi di Indonesia,” tutur Wiku Adisasmito dalam konferensi pers virtual pada Selasa (5/1).

Wiku meminta daerah lebih fokus lagi dalam memotong alur perawatan pasien Covid-19 agar tak berbelit-belit. Sehingga, nyawa pasien bisa diselamatkan.

“Peningkatan angka kematian terjadi akibat daerah yang tidak mampu memberikan pelayanan kesehatan yang baik untuk menyelamatkan jiwa,” tegas Prof Wiku.

Selain itu, lanjutnya, angka kematian juga disebabkan masyarakat terlambat mendapat perawatan di RS. Hal itu dipicu proses rujukan perawatan yang panjang.

“Saya mohon pemda bersama dinkes mempersingkat alur rujukan perawatan pasien Covid-19 seefisien mungkin agar betul-betul kasus kematian bisa ditekan,” tutupnya. (jawapos.com)

  • Dipublish : 6 Januari 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami