Angka Stunting dan Kekurangan Gizi Turun

Ilustrasi
Ilustrasi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Angka stunting atau kekerdilan pada anak di Indonesia turun 3,1 persen dari tahun sebelumnya. Sementara selama lima tahun belakangan angka stunting turun hingga 10 persen.

Hal tersebut diutarakan Menteri Kesehatan Nila Moeloek jelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Dikatakannya, angka stunting saat ini 27,67 persen atau turun 3,1 persen dari tahun sebelumnya yaitu 30,8 persen.

“Kemenkes punya tugas bagaimana menghitung anak stunting setiap tahun. Dikerjakan oleh BPS dan Litbangkes, dulu Riskesdas 2018 30,8 persen sekarang jadi 27,67 persen,” katanya di Jakarta, Jumat (18/10).

Dikatakannya, bila dibandingkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 dengan prevalensi stunting sebesar 37,2 persen, berarti selama lima tahun era pemerintahan Joko Widodo periode pertama Menteri Kesehatan berhasil menurunkan angka stunting hingga 10 persen.

Menteri Nila berharap penurunan kasus stunting bisa konsisten tiga persen per tahun sehingga prevalensi kasusnya bisa di bawah 20 persen pada 2024 sesuai target yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Penelitian prevalensi stunting tahun 2019 dilakukan oleh Badan Pusat Statistik dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan dengan mengintegrasikan Susesnas dan Survei Status Gizi.

Direktur Statistik Kesejahteraan Rakyat BPS Gantjang Amanullah menyebutkan penelitian tersebut mengambil 320 ribu sampel rumah tangga di 514 kabupaten-kota pada 84.796 balita. Penelitian tersebut memiliki Relatif Standar Error 0,52 persen.

Penurunan angka stunting dibarengi dengan turunkan angka kekurangan gizi pada anak. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes Siswanto mengatakan berdasarkan data yang dimilikinya prevalensi balita dengan gizi kurang dan anak kurus pada tahun 2019 menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Prevalensi gizi kurang pada balita turun 1,5 persen dari 17,7 persen menjadi 16,29 persen dan prevalensi anak kurus menurun 2,8 persen dari 10,2 menjadi 7,44 persen pada 2019,” katanya.

Penurunan angka stunting yang cukup signifikan ini berkat koordinasi lintas kementerian lembaga dengan membentuk Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (TP2AK) yang dipimpin oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Deputi Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Sekretaris Wakil Presiden Bambang Widianto menerangkan bahwa ada lima pilar faktor penentu keberhasilan penurunan angka stunting dan kurang gizi.

Kelima pilar yang dia maksud meliputi komitmen pemimpin nasional dan pemimpin daerah, perubahan perilaku masyarakat, konvergensi atau pemusatan upaya penanggulangan stunting di berbagai kementerian dan lembaga, ketersediaan pangan dan gizi, serta monitoring dan evaluasi.

“Dari kelima pilar tersebut, komitmen kepala daerah lah yang paling menentukan keberhasilan upaya penurunan angka gizi buruk pada anak,” katanya.

(gw/fin)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 19 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami