Antisipasi Wabah Penyakit, Kemenhan Tingkatkan Ketahanan Pangan

Wamenhan Sakti Wahyu Trenggono (Sabik Aji Taufan/JPC)
Wamenhan Sakti Wahyu Trenggono (Sabik Aji Taufan/JPC)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono berharap ada peningkatan ketahanan pangan di Indonesia. Hal ini guna mengantisipasi munculnya dampak serangan wabah penyakit di masa depan.

Trenggono mengatakan, berdasarkan informasi World Health Organization (WHO) serangan virus diperkirakan tidak akan berhenti sampai pandemi Covid-19 usai. Virus-virus baru lainnya diprediksi masih bisa terus bermunculan.

“Karena itu indikator ketahanan pangan harus kita tingkatkan di masa depan untuk mengantisipasi serangan wabah penyakit,” kata Trenggono dalam Webinar yang digelar IA ITB Jawa Timur, Kamis (18/6).

Trenggono menjelaskan, jika sebuah pandemi berujung kepada krisis disejumlah sektor. Seperti sektor pekerjaan dimana muncul pengangguran karena kegiatan ekonomi dipaksa berhenti. Kedua, masalah ketersediaan pangan. Ketiga, ketahanan kesehatan.

“Kalau ketiga hal ini tak bisa dikelola dengan baik bisa berpengaruh kepada ketahanan dan kedaulatan negara secara keseluruhan. Karena itu semua elemen bangsa perlu bekerjasama secara serius melawan ancaman pandemi agar ketahanan nasional terjaga,” tambahnya.

Sementara itu, untuk sektor pangan, komoditas yang banyak dikonsumsi masyarakat adalah beras, gula, terigu, dan kedelai. Oleh karena cadangan makanan harus diperhatikan dengan benar.

“Di samping itu sekarang ada pergeseran di mana Indonesia pengkonsumsi mie terbesar kedua di dunia. Ini membuat kita impor gandum tinggi, begitu juga kedelai,” jelas Trenggono.

Baginya, situasi pandemi seperti suasana perang. Maka dibutuhkan peralatan tempur yang kuat untuk perlawanan. salah satu yaitu dengan cadangan pangan untuk periode yang panjang.

“Sekarang itu di komoditas beras kita hanya kuat untuk 69 hari, bandingkan dengan India yang bisa setahun. Karena itu kami dari Kemhan sedang mengajukan satu model yang bisa meningkatkan ketahanan pangan nasional,” imbuhnya.

Strategi yang dipilih adalah membuat lahan khusus untuk ketahanan pangan nasional. Mengutip kajian yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengungkapkan ada 16,6 juta hektare kawasan hutan, non hutan layak dikonversi menjadi lahan pertanian produktif. Sebagian besar lahan ada di Papua, Kalimantan, dan Sumatera.

“Kita ingin mengoptimalkan lahan ini agar tidak menjadi opportunity loss bagi negara. Rasionalisasi kawasan hutan adalah faktor penting bagi kelestarian pengelolaan hutan dan enjadi enabler untuk pembangunan nasional,” tegas Trenggono.

Jika rencana pengadaan lahan pangan ini terealisasi, diharapkan bisa menyumbang sekitar 20 persen bagi cadangan pangan nasional nantinya. “Kita pastikan ini memang untuk ketahanan pangan, jadi kawasan yang dipilih tidak boleh berubah fungsi dari kawasan tanaman pangan yang akan kita kembangkan,” pungkasnya. (jp)

  • Dipublish : 18 Juni 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami