Arsip Nasional Republik Indonesia Buka Posko Layanan Restorasi Dokumen yang Terendam Banjir

Pasar Raya Cipulir, Jakarta Selatan, terendam akibat banjir yang melanda Jabodetabek pada Senin (1/1/2020) lalu. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Pasar Raya Cipulir, Jakarta Selatan, terendam akibat banjir yang melanda Jabodetabek pada Senin (1/1/2020) lalu. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA,- Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto mengunjungi tiga lokasi pengungsian di Jakarta dan Bekasi kemarin (2/1). Menurut dia, ancaman penyakit gara-gara banjir tidak hanya dihadapi masyarakat saat bencana terjadi, tapi juga pascabencana. ”Potensinya (penyakit, Red) tidak bisa dilihat dalam satu–dua hari saja,” kata dia.

Potensi penyakit itu, menurut Terawan, adalah diare, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), dan leptospirosis. Dia menggarisbawahi, penyakit leptospirosis terjadi karena bangkai tikus. Karena itu, masyarakat diberi penyuluhan agar menjaga kebersihan.

Kepala Pusat Krisis Kemenkes Budi Sylvana menambahkan, pengungsi harus mendapatkan layanan kesehatan. Di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), tersedia 11.153 tenaga kesehatan gabungan yang siaga dalam penanganan bencana. ”Di setiap titik pengungsian, pasti ada tenaga kesehatan,” ucapnya.

Di pengungsian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Contohnya, penempatan bayi dan lansia. Mereka harus terpisah karena merupakan kelompok rentan. Selain itu, ketersediaan air bersih. Dia telah meminta badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) untuk menyediakan akses air bersih.

Menurut laporan yang dia terima hingga kemarin pukul 16.00, di hampir seluruh wilayah banjir, genangan mulai surut. Namun, masyarakat yang terdampak masih harus melakukan pembersihan lingkungan dan penataan.

Sementara itu, banjir juga merusak dokumen penting milik warga. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) membuka posko khusus untuk menerima dokumen yang rusak akibat banjir. Layanan itu diberikan secara gratis.

Sejumlah warga mendatangi kantor ANRI di Cilandak, Jakarta Selatan, kemarin (2/1). Salah satunya Syam’i Musabba, warga Kampung Melayu. Rumahnya terendam hingga atap setelah hujan mengguyur sejak Selasa malam (31/12). Tak sempat menyelamatkan dokumen, dia harus melihat berkas-berkas itu terendam air. ”Ini sudah surut, lalu saya bawa ke sini,” ungkap Syam’i.

Dokumen yang dia bawa, antara lain, sertifikat rumah dan tanah, lengkap dengan denah hunian. Beberapa dokumen sudah dilaminating. Ketika dia menyerahkannya, petugas menyatakan tidak bisa memperbaiki dokumen yang sudah dilaminating tersebut. ”Saya baru tahu, katanya nanti bisa rusak,” lanjut Syam’i. Perbaikan bisa dilakukan untuk dokumen yang belum dilaminating.

Kepala Subdit Restorasi Arsip ANRI Anak Agung Gede Sumardika menjelaskan, dokumen yang sudah dilaminating tidak bisa direstorasi. Isi dokumen sudah menempel dengan plastik. Jika plastik dibuka, justru dokumen bisa rusak. Untuk dokumen yang bisa diperbaiki, ANRI bakal melakukan enkapsulasi. ”Kalau enkapsulasi, metodenya memberikan double tape di sisi arsipnya, berbeda dengan laminating,” jelas Agung.

Seperti laminating, enkapsulasi tidak menjamin dokumen aman dari air. Namun, ketika terendam dan basah, masih bisa diperbaiki karena plastiknya tidak menempel pada kertas dokumen. Posko restorasi arsip korban banjir Jabodetabek itu baru dibuka kemarin.

Agung menjelaskan, ada 50 warga yang menyerahkan dokumen-dokumen penting untuk direstorasi. ”Hari ini (kemarin, Red) surat tanah yang terbanyak,” ungkap Agung. Selain surat tanah, ANRI juga memperbaiki dua jilid arsip Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

Tidak tertutup kemungkinan permintaan perbaikan dokumen meningkat di hari-hari berikutnya. ”Sudah ada ribuan kontak yang masuk dan laporan dari media sosial,” imbuhnya. Normalnya, restorasi dilakukan dalam hitungan jam. Tetapi, jika antrean membeludak, ANRI akan memberikan surat tanda terima untuk warga supaya mengambil dokumen yang sudah selesai di kemudian hari. (jp)

  • Dipublish : 3 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami