AS Sebut Tiongkok Sengaja Tahan Data Covid-19 Demi Persaingan Vaksin

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Amerika Serikat kembali membuat tudingan untuk Tiongkok. Tentunya itu menjadi sentilan kesekian yang dilontarkan AS untuk Tiongkok. Seperti diketahui, sebelumnya AS meragukan bantahan Tiongkok terkait virus Korona jenis baru yang disebut-sebut berasal dari laboratorium di Wuhan. AS mengatakan akan tetap menyelidiki apakah Covid-19 muncul dari lab di Wuhan atau tidak.

Teranyar, AS lewat penasihat Gedung Putih, Peter Navarro, pada Senin (21/4) menuduh Tiongkok sengaja menahan data awal terkait infeksi virus Korona karena ingin memenangkan persaingan komersial dalam pembuatan vaksin. Data awal itu merupakan jumlah yang terdampak atau positif dan angka kematian.

Seperti diketahui, Tiongkok baru saja merevisi jumlah korban meninggal akibat Covid-19 di Wuhan, Tiongkok. Dalam hasil revisi, jumlahnya meningkat 50 persen. Hal tersebut menyebabkan total kematian di Tiongkok akibat virus Korona juga bertambah.

AS sendiri merupakan negara yang paling parah terdampak pandemi Covid-19 menurut statistik resmi. Otoritas AS telah berulang kali meminta Tiongkok untuk berbagi data awal mengenai wabah tersebut yang dimulai di Wuhan.

“Salah satu alasan mengapa mereka mungkin tidak membiarkan kami masuk dan memberi kami data tentang virus ini lebih awal, adalah mereka bersaing untuk membuat vaksin dan mereka berpikir ini hanya perlombaan bisnis yang kompetitif. Itu adalah peluang bisnis sehingga mereka dapat menjual vaksin ke dunia,” kata Navarro kepada Fox Business Network.

“Tapi kita akan mengalahkan mereka. Kita akan mengalahkan mereka karena kepemimpinan Presiden Donal Trump,” Kata Navarro.

Navarro mengatakan Departemen Kesehatan dan Pelayanan Kemanusiaan (HHS) AS telah memulai kerja sama dengan sejumlah perusahaan dalam menciptakan vaksin virus Korona. Navarro yang dikenal sangat kritis terhadap Tiongkok, telah ditunjuk Trump untuk untuk menangani masalah jalur pasokan yang berkaitan dengan pandemi Covid-19.

Saat ini belum ada vaksin yang resmi untuk Covid-19. Pemerintah AS telah menghentikan kesepakatan dengan Johnson & Johnson dan Moderna Inc dan mengatakan sedang dalam pembicaraan dengan setidaknya dua perusahaan lain untuk mempersiapkan memproduksi sejumlah besar vaksin virus Korona. Bahkan, sebelum vaksin yang aman dan efektif tersedia.

Sebagian besar pejabat kesehatan masyarakat dunia mengatakan tidak ada vaksin yang diperkirakan siap digunakan hingga setidaknya 2021. Karena vaksin masih harus diuji secara luas pada manusia sebelum diberikan kepada ratusan juta bahkan miliaran orang untuk mencegah infeksi Covid-19.

Direktur Badan Penelitian dan Pengembangan Tingkat Lanjut Biomedis HHS mengatakan kepada Reuters bahwa pihaknya berencana untuk mendukung lima atau enam kandidat vaksin eksperimental, dengan harapan memiliki dua atau tiga yang sukses. Tiongkok sendiri telah menyetujui setidaknya tiga vaksin virus Korona eksperimental untuk diuji pada manusia. (jp)

  • Dipublish : 22 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami