Awal 2021, Vaksin Merah Putih Diuji Klinis

Ilustrasi
Ilustrasi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Indonesia mengembangkan vaksin sendiri dalam upaya penanganan COVID-19. VAksin yang diberi nama Merah Putih tersebut dikembangkan dengan platform protein rekombinan dan dengan menggunakan isolat virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 yang beredar di Indonesia.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro berharap uji klinis vaksin Merah Putih akan bisa dilakukan pada awal 2021.

“Kita berharap upaya ini tahun depan sudah menunjukkan hasil baik melalui uji klinis yang kita harapkan bisa berlangsung awal tahun depan. Kemudian kita produksi dalam skala besar setelah uji klinis 1-3 selesai,” katanya dalam seminar virtual The Kian Wie Lecture Series V yang bertemakan Kebijakan Pembangunan Yang Inklusif Dan Berkelanjutan: Strategi Pemulihan Pasca Pandemi yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rabu (26/8).

Dijelaskan Bambang, persentase perkembangan pengembangan vaksin Merah Putih diperkirakan telah mencapai tahapan 40 persen dari seluruh proses.

“Tim di Eijkman sedang menghasilkan antigen, sedang menghasilkan kandidat bibit vaksinnya sendiri yang nantinya akan diujicobakan kepada sel mamalia yang masih dalam skala lab. Kemudian sesudah itu dilakukan uji terhadap hewan atau mamalia itu sendiri sebelum nantinya diserahkan kepada Bio Farma untuk diproduksi dan kemudian uji klinis untuk manusia,” jelasnya.

Untuk mempercepat diperolehnya vaksin, dikatakan Bambang, pemerintah menjalin kerja sama dengan pihak luar negeri dan mengembangkan vaksin buatan sendiri.

Pengembangan vaksin Merah Putih menjadi krusial dalam rangka membangun kemandirian vaksin bangsa Indonesia.

“Kita juga harus menjaga kemandirian dari vaksin itu sendiri artinya Indonesia dengan penduduk 260 juta sampai 270 juta orang tidak boleh hanya bergantung kepada vaksin yang sudah siap di luar negeri, kita harus punya kemampuan tidak hanya memproduksi vaksinnya tapi juga melakukan penelitian dan pengembangan bibit vaksin dan itu sudah dilakukan oleh Lembaga Eijkman dengan vaksin Merah Putih,” terangnya.

Diterangkannya, riset dan pengembangan vaksin Merah Putih dipimpin oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Dan menggandeng sejumlah pihak dan institusi termasuk PT Bio Farma.

“Dan dalam upaya ini tentunya Lembaga Eijkman bekerja sama dengan banyak pihak, universitas maupun juga dengan beberapa regulator,” tuturnya.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio menjelaskan Indonesia membutuhkan vaksin COVID-19 setidaknya untuk 175 juta masyarakat Indonesia. Guna mencukupi kebutuhan tersebut, Indonesia harus mampu memproduksi vaksin secara mandiri.

“Apakah kita mau beli dari luar semuanya? Belum tentu kapasitas seluruh dunia bisa mencukupi,” katanya.

Amin meyakini, sulit jika Indonesia terlalu ketergantungan dengan vaksin dari luar negeri. Selain butuh waktu yang lebih lama, vaksin dari luar negeri juga belum tentu bisa mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia.

LBM Eijkman pun bertekad terus mengembangkan vaksin covid buatan dalam negeri, atau vaksin Merah Putih. Upaya memproduksi vaksin Merah Putih terus digenjot.

Menurut dia, hingga pekan ketiga Agustus 2020, pengerjaan vaksin masih berjalan lancar. Dia mengaku dalam pengembangan vaksin, Eijkman masih berada pada waktu yang ditentukan.

“Kami bersama-sama Biofarma untuk memastikan produk ini bisa betul-betul membangkitkan kekebalan di individu. Di sisi lain, vaksin ini memiliki keamanan yang tinggi,” kata Amin.

Sedangkan Manajer Senior Integrasi Riset dan Pengembangan PT Biofarma, Neni Nurainy menjelaskan, proses pengembangan vaksin tidak mudah. Guna dapat menghasilkan vaksin yang aman dan efektif, tentunya melalui suatu proses yang sangat kompleks.

Selain itu, vaksin ini juga harus bisa diproduksi dalam kondisi yang konsisten. Pada akhirnya, vaksin COVID-19 ini diharapkan bisa benar-benar memberikan dampak yang besar bagi kesehatan publik.

“Ini memerlukan proses yang cukup panjang, karena syarat dari WHO untuk vaksin ini betul-betul ketat. Jadi kemurniannya harus sangat tinggi,” katanya.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan Indonesia mendapat akses terhadap 30 juta vaksin COVID-19 yang diproduksi PT Bio Farma sampai akhir 2020.

“Kita berharap sampai akhir tahun kita bisa mempunyai akses terhadap 30 juta vaksin produksi di Biofarma. Ini merupakan inisiatif yang paling depan,” katanya.

Tidak hanya itu, pemerintah saat ini juga sedang mengupayakan uji klinik fase ke-3 antara PT Kimia Farma dengan Wuhan Institute Biological Products di Uni Emirat Arab (UEA).

Bahkan Indonesia, juga bekerja sama pengembangan vaksin turut dilakukan oleh Astra Zeneca, Moderna/Institute of Allergy and Infectious Diseases.

“Kerja sama juga dilakukan antara Kalbe dengan Genexine Korea,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah akan memperoleh vaksin sebagai public goods dengan harga direntang USD5-10 melalui GAVI/CEPI.

“Berbagai vaksin ini diharapkan dapat memastikan COVID-19 untuk dihentikan atau dimitigasi,” katanya.(gw/fin)

 

  • Dipublish : 27 Agustus 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami