Bali Layani Penerbangan Internasional Mulai 14 Oktober

TAK WAJIB TES PCR: Terminal 3 keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta makin ramai sejak pemerintah melonggarkan syarat perjalanan udara. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)
TAK WAJIB TES PCR: Terminal 3 keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta makin ramai sejak pemerintah melonggarkan syarat perjalanan udara. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jaringanmedia.co.id – Setelah Arab Saudi yang bakal mengizinkan umrah, Inggris menyusul dengan memberikan kelonggaran bagi perjalanan dari Indonesia. Mulai hari ini (11/10) pukul 04.00 waktu setempat, Indonesia resmi keluar dari kategori red list Inggris.

Duta Besar RI untuk Inggris, Irlandia, dan IMO (International Maritime Organization) Desra Percaya mengungkapkan, dikeluarkannya Indonesia dari kategori red list tidak lepas dari hasil lobi yang dilakukan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi saat bertemu Menlu Inggris Liz Truss di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pada 20 September 2021.

”Keputusan ini juga sebagai bentuk pengakuan dari pemerintah Inggris atas langkah-langkah pemerintah Indonesia dalam mengatasi Covid-19 dan kemajuan di dalam negeri,” tuturnya.

Sebelum pengumuman resmi oleh pihak Inggris, Desra mengaku telah bertemu Duta Besar Sarah Cooke dan memperoleh informasi lebih awal mengenai hal tersebut. Komunikasi itu menggambarkan hubungan baik yang terjalin antara KBRI London dan Kemenlu Inggris.

Dengan perkembangan baru tersebut, lanjut dia, KBRI London mengimbau masyarakat Indonesia yang akan melakukan perjalanan ke Inggris untuk terus memantau kebijakan perjalanan internasional Inggris. Informasi dapat diperoleh melalui website resmi pemerintah Inggris GOV.UK serta situs web dan media sosial KBRI London.

Sebagai informasi, ketika masuk negara kategori red list, warga negara Indonesia yang tiba di Inggris wajib menjalani masa karantina selama 11 hari. Dalam masa karantina tersebut, mereka akan melaksanakan tes swab PCR dua kali, yakni pada hari kedua dan kelima. Sementara itu, masyarakat yang negaranya di luar ’’daftar merah’’ hanya menjalani karantina mandiri ketika baru tiba di sana.

Pembukaan Bali

Persiapan terus dilakukan menjelang pembukaan penerbangan internasional di Bali pada 14 Oktober 2021. Kementerian Perhubungan mengawasi persiapan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.

Akhir pekan lalu, Dirjen Perhubungan Udara Novie Riyanto mengecek simulasi pelayanan di terminal kedatangan internasional. ’’Kami bersama-sama melakukan pengecekan langsung dan melihat simulasi pelayanan di terminal kedatangan internasional di Bandara Ngurah Rai. Semua proses di bandara disimulasikan dengan detail dan kami menilai semua sudah dipersiapkan dengan baik,” jelas Novie kemarin (10/10).

Untuk menyambut pembukaan penerbangan internasional pada 14 Oktober nanti, beberapa fasilitas pelayanan telah disiapkan di terminal kedatangan penumpang internasional. Tujuannya mendukung skrining ketat dan penerapan protokol kesehatan. Beberapa fasilitas tersebut, antara lain, ruang pemeriksaan untuk penumpang dengan suhu lebih dari 38 derajat Celsius. Lalu, tempat duduk penumpang di ruang tunggu juga sudah diberi jarak aman sesuai protokol kesehatan.

Ada pula tempat pemeriksaan dokumen kesehatan. Selain itu, dipersiapkan 20 bilik untuk pengambilan sampel tes PCR, tempat pemeriksaan keimigrasian, baggage handling system, alat pengatur suhu ruangan, papan informasi penerbangan (flight information display system/FIDS), tempat pemeriksaan kepabeanan, dan holding area sebagai ruang tunggu hasil swab PCR.

Novie berharap para penyelenggara bandara dan stakeholder terkait terus berkoordinasi dan bersama-sama menciptakan pelayanan yang terbaik. Hal itu penting dilakukan agar saat dibuka nanti tidak ada hal-hal yang menghambat proses kedatangan penumpang. ”Harapan kami, semua bisa berjalan dengan baik dan semua pihak dapat mematuhi protokol kesehatan dengan ketat,” ucapnya.

Pihaknya terus memantau kondisi Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai sejak persiapan hingga pembukaan dan pelaksanaan penerbangan internasional. ”Keberhasilan Bali akan menjadi rujukan bagi daerah-daerah lain untuk secara bertahap membuka pariwisata bagi pasar mancanegara,” tegas Novie.

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengungkapkan bahwa Bali siap kedatangan para turis mancanegara. Khususnya dari yang terdekat, Australia. Memang, sejauh ini warga Australia belum bisa terbang ke Bali karena kebijakan ketat pemerintah Australia.

Meski begitu, kata Sandi, pihaknya siap berembuk dengan pemerintah Australia mengenai wisata ke Bali. ’’Kami siap kapan pun. Australia adalah pasar turis mancanegara nomor satu dan kita ingin agar Anda (Australia, Red) nyaman,” jelas Sandi sebagaimana dikutip Sydney Morning Herald.

Menurut Sandi, Australia dan Indonesia adalah tetangga dan partner. Pemerintah Indonesia tetap menghormati kebijakan Australia yang masih ketat soal perjalanan luar negeri. Namun, dia menyatakan bahwa Indonesia siap berdiskusi kapan saja soal pembukaan pariwisata.

Bagaimana meyakinkan bahwa Bali sudah aman? Sandiaga menuturkan, semua berbasis sains. Data-data akan berbicara dengan sendirinya. ’’Saat ini Bali sudah (PPKM) level 2 dan akan mencapai target vaksin hopefully pada akhir tahun,” ungkapnya.

Umrah

Kabar bakal dibukanya penerbangan umrah dari Indonesia disambut antusias masyarakat Indonesia. Meski, masih menunggu kepastian dari pemerintah Arab Saudi.

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Hilman Latief mengatakan, sampai saat ini belum ada kepastian tanggal kapan jamaah umrah dari Indonesia bisa berangkat. Status saat ini bisa dikatakan pemerintah Arab Saudi baru memberikan sinyal lampu hijau. ’’Bahwa jamaah umrah Indonesia insya Allah bisa ke sana,’’ katanya kemarin (10/10).

Sambil menunggu kepastian kapan pintu pengiriman jamaah umrah dibuka, dia menyebut perlu ada persiapan teknis di Indonesia maupun Arab Saudi.

Persiapan di dalam negeri, misalnya, bagaimana mengatur proses pemberangkatan jamaah mulai dari rumah hingga masuk pesawat. Termasuk juga panduan protokol kesehatan (prokes) di tengah pandemi Covid-19, layanan pengujian PCR, karantina, dan lainnya. Persiapan di dalam negeri penting supaya calon jamaah umrah yang akan terbang benar-benar clean dan clear. ’’Kemudian, proses di sana (Arab Saudi, Red) masih menunggu teknis dari Saudi,’’ katanya.

Persiapan di Saudi, antara lain, integrasi data vaksinasi Covid-19 yang dikeluarkan pemerintah Indonesia dengan sistem milik Kementerian Kesehatan Arab Saudi. Harapannya, data vaksinasi Covid-19 di aplikasi PeduliLindungi bisa terintegrasi dengan sistem data milik pemerintah Arab Saudi.

Menurut Hilman, proses integrasi sistem itu masih berproses sampai saat ini. Pada intinya, Kemenag masih menunggu informasi lebih lanjut dari pemerintah Saudi. Termasuk juga pengaturan soal kuota jamaah umrah, apakah dibatasi atau tidak. Jika nanti sudah ada keputusan dan informasi yang utuh dari Arab Saudi, akan langsung diinformasikan kepada masyarakat, khususnya calon jamaah umrah.

Sekjen Afiliasi Mandiri Penyelenggara Umrah dan Haji Indonesia (AMPUH) Wawan Suhada meminta kepada travel anggotanya untuk bisa menahan diri. “Jangan tergesa-gesa dalam melakukan publikasi harga paket umrah,” katanya. Sebab, sampai saat ini komponen pelayanan umrah belum bisa ditentukan harganya. (jpc/jm)

 

  • Dipublish : 11 Oktober 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami