Belajar Dari Amerika, Euforia Bisa Membawa Bencana

Ilustrasi. Suasana pemakaman khusus Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, di Jakarta, Minggu (18/10/2020). Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com
Ilustrasi. Suasana pemakaman khusus Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, di Jakarta, Minggu (18/10/2020). Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id, JAKARTA – Indonesia harus belajar dari pengalaman Amerika Serikat yang terlalu euforia pasca vaksinasi COVID-19. Dan melonggarkan pergerakan masyarakat secara luas.

Akibatnya, kasus positif Covid kembali melonjak dan rumah sakit mulai kekurangan oksigen. Pada Jumat, 27 Agustus 2021, Amerika Serikat mengalami kenaikan COVID-19 mencapai 191.165 kasus.

Peneliti Maarif Institute Endang Tirtana mengingatkan agar Indonesia tidak melonggarkan protokol kesehatan.  Ia mengatakan, negara tetangga, saat ini memperlihatkan lonjakan yang signifikan.

Sebagai contoh seperti di Singapura, Malaysia, Filipina dan Brunei Darussalam. Lonjakan kasus serupa juga pernah terjadi pada awal Juli 2021 lalu.

“Target vaksinasi di Indonesia memang terus mengalami percepatan, tapi ini bukan lantas membuat masyarakat abai dan mulai mengendurkan protokol kesehatan. Karena vaksin bukan berarti bebas dari COVID-19,” kata Endang, Jumat (3/9).

Pemerintah diharapkan tidak terburu-buru melonggarkan mobilitas masyarakat di tengah penurunan kasus positif COVID-19 di Indonesia. Penegakan protokol kesehatan harus tetap ditegakkan. Mengingat sejumlah negara tetangga tengah mengalami lonjakan penularan.

Selanjutnya, trkait pencapaian vaksinasi. Khususnya di Jakarta memang tinggi dibandingkan daerah lain. Ketimpangan ini yang seharusnya segera dapat diisi agar penyebaran kasus tidak kembali melonjak di saat penularan virus Corona ingin tengah melandai.

“Pembatasan memang tidak bisa menghentikan penularan, tapi ini efektif mengurangi penyebaran COVID-19. Pemulihan ekonomi tidak akan optimal jika akhirnya terjadi lonjakan kasus dan kembali dilakukan PSBB atau pun PPKM lagi,” kata dia.

Siklus naik turun kasus COVID-19 tersebut pasti akan berdampak secara ekonomi maupun pada psikologis masyarakat. Endang menyebutkan penanganan pandemi bukan upaya memadamkan api yang menyala, tetapi mengupayakan tidak ada kebakaran sama sekali.

“Pemerintah bersama sama stakeholder lainnya harus bisa membumikan protokol kesehatan. Bukan aturan tegas, tapi bagaimana membumikan jaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan adalah untuk keselamatan warga dan keluarga,” kata dia.

Pemerintah daerah juga harus segera memaksimalkan pelaksanaan vaksinasi untuk terciptanya kekebalan kelompok. Karena, vaksinasi merupakan salah satu upaya agar warga yang terjangkit COVID-19 tidak meninggal dunia. (fin/jm)

  • Dipublish : 3 September 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami