Berkaca Dari India, Jokowi Ingatkan Seluruh Pihak Tak Sepelekan Covid-19

Masyarakat memadati Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, kemarin (2/5). (FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS)
Masyarakat memadati Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, kemarin (2/5). (FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Jaringanmedia.co.id – Larangan berkerumun dan mudik masih saja diabaikan sebagian orang. Hingga kemarin (2/5), gelombang mudik masih saja terjadi. Pusat-pusat perbelanjaan pun dipenuhi pengunjung yang mengabaikan protokol kesehatan (prokes).

Pantauan Jawa Pos di Pasar Tanah Abang, Jakarta, kemarin, ribuan pengunjung tampak berdesak-desakan di beberapa toko. Sebagian tidak mengenakan masker. Pasar yang dikenal sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara itu terlihat padat. Saking ramainya, prokes di sana tidak berjalan.

Atas kondisi tersebut, Pemprov DKI Jakarta berkoordinasi dengan Perumda Pasar Jaya. Tujuannya, setiap pengelola pasar lebih mengetatkan prokes. Dengan begitu, pasar tidak menjadi lokasi transmisi Covid-19. Sekda DKI Marullah Matali mengungkapkan, dirinya telah meminta BP BUMD DKI Jakarta untuk menginstruksi Perumda Pasar Jaya agar mengawasi prokes. Sebab, meskipun kegiatan pasar dibuka agar roda perekonomian berjalan, prokes tetap harus dipatuhi.

”Segala potensi terjadinya lonjakan kasus akan terus kami antisipasi. Termasuk kegiatan di setiap pasar menjelang Idul Fitri. Mulai hari ini hingga seterusnya, kami akan menempatkan satgas Covid-19 untuk mengatur pengunjung dan menertibkan pelanggar prokes. Intinya, setiap pengunjung dilarang memasuki area pasar jika tidak mengenakan masker,” jelas Marullah kemarin.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemarin juga mengingatkan akan masih berbahayanya Covid-19. Dia meminta seluruh pihak tak menyepelekan Covid-19. ”Yang sudah divaksin atau belum, yang berasal dari zona merah, oranye, kuning, atau hijau, harus tetap disiplin protokol kesehatan,” ujarnya.

Kasus Covid-19 di Indonesia memang sudah melandai. Jokowi menyatakan, itu dampak PPKM mikro dan vaksinasi Covid-19. Terlihat, jumlah kasus aktif berkisar 100 ribu. ”Tapi, jangan dulu optimisime berlebihan. Jangan merasa situasi terkendali. Jangan merasa sudah aman,” tuturnya.

Untuk makin menekan kasus aktif, pemerintah mengaku tak bisa bekerja sendiri. Itu bergantung kedisiplinan seluruh pihak. ”Saya minta gubernur, bupati, dan wali kota mengingatkan warganya untuk mematuhi protokol kesehatan dan melarang mudik,” tegasnya.

Salah satu antisipasi utama untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus dan mengatasi penularan varian baru adalah pembatasan mobilitas. ”Kita melihat bahwa mobilitas yang tinggi akan menyebabkan lonjakan kasus. Sementara mobilitas yang rendah akan menekan laju penularan,” kata Juru Bicara Kemenkes terkait Covid-19 Siti Nadia Tarmizi.

Seharusnya peningkatan kasus yang terjadi di berbagai negara menjadi kewaspadaan bersama. Kasus di India sudah hampir mencapai angka 18 juta dengan 200 ribu sampai 300 ribu konfirmasi kasus positif. Di Jepang sudah mencapai 1.000 kasus infeksi baru. Ada juga Singapura yang terdapat 16 kasus komunitas. ”Perlu kembali kami tekankan bahwa negara-negara ini sudah melakukan kewaspadaan,” ujarnya.

Daerah sudah menyiapkan posko Covid-19. Selain itu, bhabinkamtibmas diimbau membantu menegakkan prokes. Meski demikian, masih diperlukan peran masyarakat agar menerapkan prokes. Vaksinasi juga perlu digenjot. Terutama bagi lansia. Mereka rawan karena kondisinya. Selain itu berpotensi tertular dari mereka yang mudik. ”Kami kerja sama dengan swasta, datang ke panti-panti hingga meminta pemerintah desa untuk membuat jadwal vaksin,” ucapnya. Perlu juga langkah kooperatif untuk keluarga lansia agar mendorong vaksinasi.

Di tengah program vaksinasi Covid-19, banyak yang mempertanyakan efektivitasnya. Seperti diketahui, vaksin tersebut untuk merangsang pembentukan antibodi atau imunitas dalam tubuh. Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengumumkan, inovasi alat kesehatan untuk melakukan deteksi antibodi kuantitatif. Selain itu, ada inovasi rapid diagnostic test (RDT) antigen. ”Inovasi deteksi antibodi kuantitatif memiliki fungsi untuk mengukur kadar antibodi yang terbentuk setelah seseorang menjalani vaksinasi Covid-19,” katanya.

Menurut Hammam, inovasi teknologi deteksi antibodi itu sangat penting. Supaya bisa mengetahui apakah seseorang memiliki ”bala tentara” dalam badannya yang cukup untuk menangkal infeksi Covid-19. Hammam menjelaskan, di tengah pandemi Covid-19 yang belum selesai di Indonesia, vaksinasi menjadi kebutuhan masyarakat. Sayangnya, selama ini masyarakat belum bisa mengetahui apakah antibodinya sudah terbentuk setelah divaksin. Jangan sampai orang yang sudah divaksin merasa kebal terhadap Covid-19 dan melupakan kewajiban menjalankan prokes.

”Padahal, kita belum tahu apakah antibodi sudah terbentuk apa belum di tubuh kita,” jelasnya. Untuk itu, Hammam mengatakan, inovasi deteksi antibodi cukup penting. Cara kerja untuk mengukur pembentukan antibodi tersebut tidak butuh lama.

Hammam menjelaskan, BPPT akan terus melanjutkan kegiatan inovasi untuk penanganan Covid-19. ”Kami fokus pada pelacakan, pengujian, dan pengobatan,” katanya. Dengan adanya test kit deteksi antibodi kuantitatif itu, Hammam berharap program vaksinasi bisa berjalan lancar. Test kit juga diharapkan dapat melihat kemampuan herd immunity sejak dini pada masyarakat seusai pemberian vaksin. ”Kami akan segera luncurkan test kit antibodi ini,” ucapnya.

Selain itu, pihaknya mendorong kesuksesan program vaksinasi. Dengan program vaksinasi yang masif dan terukur, diharapkan segera terbentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Hammam juga mengatakan, herd immunity pun harus dimonitor dari waktu ke waktu. (jawapos/jm)

  • Dipublish : 3 Mei 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami