Berstatus Rumah Sakit Penyangga, RSUD Tenriawaru Harusnya Siap Tangani Pasien Bergejala Covid-19

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BONE,- Gubernur Sulsel, Prof HM Nurdin Abdullah telah menetapkan dua rumah sakit di Bone sebagai penyangga untuk menangani pasien yang memiliki gejala covid19.

Rumah sakit tersebut, masing-masing RSUD Tenriawaru Bone dan rumah sakit M Yasin.

Terkhusus RSUD Tenriawaru yang dikenal memiliki fasilitas kesehatan yang cukup lengkap, harus lebih siap menangani pasien yang memiliki gejala covid. Rumah sakit ini menjadi penyangga bagi rumah sakit rujukan yang telah ditunjuk Kementerian Kesehatan. Diketahui sesuai SK Menteri Kesehatan, ada delapan rumah sakit rujukan covid19 di Sulsel. Yakni RSUP Wahidin Sudiro Husodo, RSU Andi Makkasau Parepare, RSU Lakipadapa Toraja, RSUD Kabupaten Sinjai, RS Universitas Hasanuddin, RSU Labuang Baji, RS Tingkat II Pelamonia dan RS Dr Tadjuddin Chalid

Hanya saja RSUD Tenriawaru dinilai tak siap. Rumah sakit ini bahkan pernah menolak pasien yang diduga memiliki gejala covid19.

“RSUD Tenriawaru harusnya lebih siap dari rumah sakit lain di Bone. Kalau ada pasien yang masuk dengan gejala covid19, rumah sakit ini harus segera memberi pelayanan,” tegas praktisi sosial, Rahman Arif.

Ia menilai, keseriusan pemkab dalam penanganan covid19, harus didukung kesiapan rumah sakit.

“Jangan justru rumah sakit yang ditunjuk sebagai penyangga justru tidak siap. Sementara rumah sakit yang justru tidak ditunjuk sebagai penyangga malah lebih siap dan sigap melayani pasien,” ujarnya.

Humas RSUD Tenriawaru, Muh Ramli mengaku pihaknya tak pernah menolak pasien, khususnya gejala covid.

“Soal kasus kemarin, itu tidak kita tolak. Cuman karena di ruang isolasi ada pasien yang juga dirawat makanya kita arahkan ke Rumah Sakit Yasin supaya tertangani,” ujarnya.

Sementara itu, juru bicara Satgas PPC19, dr Yusuf mengaku, dari segi fasilitas, RSUD Tenriawaru memang tidak memiliki alat yang khusus menangani pasien covid. “Karena memang statusnya penyangga, bukan rujukan. Karena memang, bapak gubernur menginginkan ada rumah sakit penyangga di setiap kabupaten,” ujar dr Yusuf.

Soal pasien yang dirawat di Rumah Sakit Hapsah, diduga covid, pasien tersebut kata dr Yusuf datang ke rumah sakit Hapsah dengan keluhan penyakit kulit.

“Kulitnya memerah. Bentol-bentol. Cuman karena ada demam, ditambah ada riwayat sesak, dokter mengatakan lebih baik kita screaning covid saja. Siapa tau covid. Ternyata setelah dites melalui rapid test, dia menghasilkan reaktif. Berarti ada respon,” jelasnya.

Ia menegaskan, hasil rapid test belum tentu bisa dipastikan covid. “Kita tunggu hasil PCRnya. Hasil Swabnya. Makanya supaya cepat kita minta pasien segera dirujuk ke wahidin yang fasilitasnya lengkap. Karena kalaupun dibawa ke Sinjai, sampel untuk test swabnya tetap harus dikirim ke Makassar. Dokter di RS Hapsah sementara komunikasi dengan pihak rumah di Makassar. Semoga cepat bisa dirujuk,” tutupnya. (radarbone.fajar.co.id)

  • Dipublish : 13 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami