BI jadikan Mata Uang Lokal Penyelesaian Transaksi Bilateral

ILUSTRASI Mata uang Yuan. (Jawapos)
ILUSTRASI Mata uang Yuan. (Jawapos)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jaringanmedia.co.id – Bank Indonesia (BI) memperluas kerja sama penyelesaian transaksi bilateral dengan mata uang lokal alias local currency settlement (LCS). Yang teranyar adalah menggandeng bank sentral Tiongkok, People’s Bank of China (PBC). Kebijakan penggunaan yuan untuk transaksi bilateral berlaku mulai Senin (6/9).

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Internasional BI Doddy Zulverdi menuturkan, penggunaan rupiah dan yuan dalam transaksi perdagangan bilateral dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui penguatan pasar valuta asing (valas) di dalam negeri sehingga mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS (USD). Mengingat, pasar valas dalam negeri saat ini didominasi mata uang Negeri Paman Sam itu.

“Perdagangan kita 90 persen dengan hampir semua negara memakai USD. Dengan begitu, permintaan USD luar biasa. Itu membuat pasar valas kita sensitif dan nilai tukar rupiah juga fluktuatif dan volatil,” terangnya dalam taklimat media Rabu (8/9).

Doddy menegaskan, tidak ada sama sekali kekhususan dengan Tiongkok. Sebab, kerja sama LCS dengan Negeri Panda itu bukan yang kali pertama dilakukan.

Sebelumnya, BI bekerja sama dengan tiga negara dalam pelaksanaan penggunaan mata uang lokal. Yaitu, Malaysia, Thailand, dan Jepang. Besarnya transaksi dagang tiga negara tersebut menjadi alasan bank sentral menjalin kerja sama.

“Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Indonesia saat ini. Meski, aturan mereka lebih ketat. Jadi, memang ada beberapa penyesuaian,” bebernya.

Doddy memastikan, perluasan kerja sama LCS dengan negara-negara lain terus berlanjut. Tapi, dia belum bisa membeberkan detail mengenai calon negara mitra LCS berikutnya. Sebab, itu semua merupakan upaya diplomasi. Dia merasa tidak etis mengungkapkannya ketika masih dalam proses lobi dan negosiasi.

“Yang jelas dengan cakupan kegiatan ekonomi kita yang sangat luas, sementara kerja sama LCS masih terbatas, tentu kita akan berupaya memperluasnya,” tuturnya.

Merespons hal tersebut, pelaku usaha menilai bahwa kesepakatan RI dengan Tiongkok terkait LCS mendatangkan banyak dampak positif untuk dunia usaha. “Yang pasti mengurangi risiko kurs rupiah terhadap USD. Selain itu, bisa mempercepat serta meningkatkan perdagangan Indonesia-Tiongkok,” ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno saat dihubungi Rabu.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani Widjaja mengatakan bahwa yuan merupakan mata uang yang memiliki tingkat stabilitas cukup tinggi. Dampak secara langsung ke pengusaha, importir dan eksportir Indonesia tidak perlu khawatir terhadap risiko lonjakan atau penurunan nilai tukar yang drastis dalam periode singkat.

Selain itu, lanjut Shinta, LCS bisa mengurangi biaya transaksi valas secara signifikan karena konversinya hanya satu kali atau langsung. Dengan begitu, beban transaksi menjadi lebih ringan.

“Meskipun perbedaan cost-nya hanya 1 persen, ini akan berdampak positif terhadap peningkatan daya saing produk ekspor nasional di pasar Tiongkok,” bebernya.

KERANGKA LOCAL CURRENCY SETTLEMENT INDONESIA-TIONGKOK

Penggunaan kuotasi nilai tukar secara langsung (direct quotation)

Relaksasi regulasi tertentu dalam transaksi valuta asing antara mata uang rupiah dan yuan

Manfaat bagi pengusaha

Biaya konversi transaksi dalam valuta asing lebih efisien

Alternatif pembiayaan perdagangan dan investasi langsung dalam mata uang lokal

Alternatif instrumen lindungi nilai dalam mata uang lokal

Diversifikasi eksposur mata uang yang digunakan dalam penyelesaian transaksi luar negeri (jpc/jm)

  • Dipublish : 10 September 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami