Biaya Sekolah Picu Inflasi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

MAKASSAR – Mahalnya biaya sekolah memicu inflasi. Kelompok pendidikan memicu inflasi hingga 1,54 persen pada Agustus 2019.

Kenaikan biaya sekolah paling tinggi pada tingkat sekolah dasar (SD), yakni 0,04 persen. Kemudian sekolah menengah pertama dan atas masing-masing 0,02 persen. Terendah uang akademi atau kuliah 0,01 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Yos Sudarso bertutur, tahun ajaran baru hampir semua orang disibukkan dengan biaya pendidikan. Menurutnya, momen ini bersamaan
di semua daerah sehingga tercatat sebagai komponen pemicu inflasi tertinggi.

“Juli-Agustus memang biasanya biaya pendidikan akan naik karena itu tahun ajaran baru,” jelasnya, Senin, 2 September.

Secara umum, Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel merilis inflasi Sulsel pada Agustus 2019 sebesar 0,36 persen. Selain kelompok pendidikan yang inflasinya tinggi, juga terdapat kelompok bahan makanan dan sandang. Kelompok ini menyumbang inflasi 0,72 persen.

“Sandang, perhiasan, masih cukup besar pengaruhnya. Agustus banyak pesta-pesta pernikahan bahkan diprediksi sampai September ini,” jelasnya.

Sementara untuk kelompok kesehatan hampir tak ada gejolak kata dia. Terjadi deflasi sebesar -0,14 dengan andil deflasi -0,006.

“Ini karena penurunan beberapa komoditas seperti sabun, handbody, dan kelompok kesehatan perawatan kosmetik tidak ada kenaikan,” bebernya.

Secara umum, lanjut Yos, wilayah Sulsel sendiri ada empat kota mengalami inflasi dan satu kota mengalami deflasi, yakni Palopo sebesar -0,02 persen. Sementara empat kota mengalami inflasi diantaranya; Watampone (0,72 persen), Makassar (0,39 persen), Bulukumba (0,28 persen), dan Pare-pare (0,04 persen).

“Makassar termasuk rendah, tertinggi di Watampone,” tambahnya.

Sedangkan penyumbang deflasi terbesar adalah daging ayam ras sebesar -0,059 persen dan terendah Sawi Hijau 0,012. “Kemungkinan besar nanti di Desember kembali naik.
Pola musiman ini kemungkinan kembali terjadi 2019 ini,” imbuhnya.

Terpisah, Pengamat Ekonomi Unhas, Anas Iswanto Anwar, menjelaskan, idealnya inflasi itu tak terjadi lagi.

Sebab sudah ada Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), yang di dalamnya tergabung beragam stakeholder dari berbagai sektor.

Seperti saat ini, inflasi yang terjadi karena biaya pendidikan. Menurutnya, itu harusnya bisa diantisipasi kalau TPID telah memprediksi pada bulan berapa momentum anak sekolah mulai masuk. “Jangan baru terjadi nanti baru dipikir,” usulnya.

Demikian halnya dengan sektor lain, lanjut Ekonom Jebolan Unhas itu, langka preventif atau pencegahan itu bisa dilakukan lebih awal. “Sebetulnya inflasi, sangat mungkin untuk dikendalikan. Karena timnya sudah ada. Tinggal dilihat tren statistiknya, jadi bisa dicegah,” bebernya.

(*)

  • Dipublish : 3 September 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami