Bidan Desa Positif Covid-19 Meninggal, Rapid Test Ulang Bakal Digelar

ILUSTRASI: Covid-19 (ISTIMEWA)
ILUSTRASI: Covid-19 (ISTIMEWA)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JOMBANG – Rapid test ulang akan dilakukan dalam waktu dekat kepada seluruh tracing DR, bidan desa di Kecamatan Peterongan yang meninggal dan terkonfirmasi Covid-19. Sebab, rapid test sebelumnya belum cukup karena waktu pelaksanaannya terlalu dekat.

“Jadi menurut pertimbangan kami memang perlu rapid test ulang, usulan ini sudah disampaikan ke bupati,” terang dr Pudji Umbaran, Koordinator Bidang Penanganan Gugas PP Covid-19 Kabupaten Jombang, kemarin.

Rapid test ulang ini dianggap perlu lantaran proses sebelumnya terlalu dekat. “Sesuai aturan, rapid test harus dilakukan di hari ke-7 sampai ke-10 dari kontak terakhir, sementara kemarin masih di hari ke-2 dan ke-3a. Sehingga harus ada ulangan,” lanjutnya.

Jika merujuk pada hari pemakaman DR pada (16/6) lalu, jelas Pudjd, maka pelaksanaan rapid test ulang harus dilakukan hari ini (23/6) dan tanggal (26/6) lusa. “Teknisnya nanti di Dinkes yang bisa menjelaskan,” tambah dia.

Sementara siapa saja yang harus di-rapid, Pudji menyebut seluruh hasil tracing yang dinyatakan kontak erat harus melakukan rapid test. “Baik keluarga dekat, yang melakukan pemakaman dan perawatan jenazah bahkan petugas yang menangani, intinya seluruh tracing yang berkontak erat dengan bersangkutan,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Puskesmas Peterongan Helena Agistine menyampaikan meninggalnya bidan desa DR tak mengganggu pelayanan puskesmas setempat. Pelayanan tetap buka seperti biasa meski DR juga bekerja di Puskesmas Peterongan. ”Untuk pelayanan tetap seperti biasa,” ujar dia.

Kabar terkait berhentinya pelayanan puskesmas dipastikannya tidak benar. Setelah dikabarkan DR meninggal, puskesmas langsung dilakukan disinfeksi, penggunaan bahan-bahan kimia yang dapat membunuh kuman/mikroba ke semua ruangan. ”Memang ada kabar pelayanan ditutup, tapi tetap buka, UGD juga melakukan pelayanan,” terangnya.

Selain itu, pihaknya juga melakukan rapid test ke semua pegawai. Hanya, saat ditanya hasilnya ia tidak bisa memberikan jawaban. ”Kalau hasilnya bisa ditanyakan ke Dinkes atau tim Gugas PP Covid-19,” pungkas Helena.

Seperti diberitakan sebelumnya, DR, seorang bidan desa di Kecamatan Peterongan meninggal saat sedang hamil tua. Sempat beberapa kali menjalanai rapid test dengan hasil negatif. Ia kemudian meninggal setelah beberapa hari menjalani perawatan. Sebelum meninggal, pihak rumah sakit sempat mengambil sampel uji swab.

Proses pemakaman dilakukan tanpa protokol Covid-19 lantaran pihak keluarga DR yang tak berkenan. Terlebih, pihak rumah sakit tak memiliki dasar untuk dimakamkan dengan protokol Covid-19. Setelah hasil rapid test menunjukkan nonreaktif dan hasil uji swab juga belum keluar. Setelah dua hari kematiannya, hasil uji swab turun positif Covid-19. Sejumlah keluarga dan rekan kerjanya juga menjalani rapid test. Hasilnya dua orang menunjukkan reaktif.

(jo/riz/yan/mar/JPR)

  • Dipublish : 23 Juni 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami