CEK DNA BOMBER GEREJA, POLRI KOORDINASI POLISI FILIPINA

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

FIN.CO.ID, JAKARTA – Identitas pasangan suami-istri (pasutri) pelaku bom bunuh diri di gereja Kathedral di Pulau Jolo, Filipina berhasil diungkap Polri. Keduanya warga negara Indonesia yang telah berada di Filipina sejak Desember 2018.

Pasangan suami-istri tersebut diketahui bernama Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh. Keduanya warga Makassar, Sulawesi Selatan. Terungkapnya pasutri bomber gereja di Filipina berawal dari penangkapan Novendri terduga teroris jaringan JAD Sumatera Barat dan Yoga anggota JAD Kalimantan Timur di negeri tetangga Malaysia oleh Densus 88 Antiteror.

“Jadi, pelaku bom bunuh diri ini terungkap setelah penangkapan terhadap Novendri di Kota Padang, dan Yoga di Malaysia. Dan hasil pengembangan, ternyata ada kaitannya dengan pelaku bom bunuh diri di Filipina itu,” ujar Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Rabu (24/7).

Kini, lanjut Dedi, pihaknya sedang berupaya mengambil DNA keluarga kedua pelaku untuk dicocokkan dengan DNA dari jasad pelaku yang disimpan oleh pihak Kepolisian Filipina.

“Dari sisi scientific, Densus 88 sudah bekerja sama dengan Kepolisian Filipina. Dari data tes DNA beberapa potongan tubuh yang didapat di TKP, nanti akan dicocokkan dengan pihak keluarga yang ada di Sulawesi,” katanya.

Hasil penyidikan lebih lanjut, ternyata keberadaan pasutri bomber di Filipina itu merupakan berhasil rekrutan dan dibawa Andi Baso yang merupakan anggota JAD Kalimantan Timur. Kini Andi Baso tengah menjadi buronan polisi dan diduga berada di Filipina.

Pasutri ini telah mengikuti program doktrinisasi atau cuci otak yang dilakukan Andi Baso. Pasutri tersebut juga telah menyatakan kesanggupan melakukan bom bunuh diri.

“Sebelumnya, rekam jejak yang bersangkutan juga mengikuti doktrinisasi, brain wash, penanaman nilai-nilai dari paham radikal ekstrem tersebut. Dan ada juga kesanggupan yang bersangkutan untuk menjadi pengantin suicide bomber,” ujar Dedi.

Dedi menerangkan, setelah berhasil merekrut pasutri ini, Andi Baso mengabari Saefulah, terduga teroris yang menjadi penampung dana dari jaringan teroris luar negeri. Saefulah kemudian memberikan dukungan dana untuk keberangkatan pasutri itu ke Filipina.

“Pola perekrutannya yang dilakukan oleh Andi Baso ini dan Andi Baso juga menginformasikan ke mastermind-nya, Saefulah. Setelah pasutri siap, maka ada komunikasi dengan jaringan yang ada di Filipina. Setelah jaringan Filipina melakukan pemetaan, baru mereka dipersiapkan untuk jadi pengantin suicide bomber,” ungkap Dedi.

Rullie dan Ulfah meninggalkan Tanah Air sejak Desember 2018. Dengan dibantu Andi Baso, pasutri ini masuk ke Filipina secara ilegal. Pasutri ini merupakan deportan dari Turki pada Januari 2017.

“Informasi yang diterima, mereka sudah berada di Filipina sejak Desember 2018, dibawa oleh Andi Baso yang merupakan DPO kami. Dan kita dapat informasi terakhir, Andi Baso masih berada di Filipina Selatan, dan terus diburu tim Densus,” ungkap Dedi.

Dedi menerangkan, Andi Baso diduga terlibat dalam serangan bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur pada November 2016. “Ya, dia DPO terkait aksi serangan bom bersama terduga teroris Juanda dan kawan-kawan,” terang Dedi.

Terpisah, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi akan berkoordinasi dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk memastikan identitas pasutri pelaku bom bunuh diri di Gereja Kathedral, Jolo, Filipina.

Retno ingin proses identifikasi pelaku bom bunuh diri tidak keliru.

“Kan begini, untuk kemudian menyampaikan bahwa it is confirm itu kan harus melalui proses agar tidak salah. Itu adalah pekerjaan dari polisi dan saya terus kontak dengan Pak Kapolri,” katanya.

Retno mengatakan pihaknya sedang melakukan rekonfirmasi untuk memastikan identitas pelaku bom bunuh diri. DNA pasutri bomber gereja di Filipina itu akan dicocokkan dengan DNA yang lain.

“Berita itu adalah dugaan, masih belum confirm. Sekarang proses rekonfirmasi sedang dilakukan dengan penelitian-penelitian yang terkait lagi dengan DNA, DNA orang yang dicurigai adalah pelaku. Oleh karena itu, sekarang sedang dilakukan proses. Satu lagi proses untuk merekonfirmasi dengan penelitian DNA pembanding dan lain sebagainya,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, pada Januari 2019, sebuah bom meledak di Gereja Kathedral di Jolo, Filipina, diduga sebagai aksi bom bunuh diri oleh pasangan suami istri yang sebelumnya, sempat tak bisa teridentifikasi. Dan atas kejadian itu, 22 orang tewas dan seratus orang lebih luka-luka.

Dan pasca kejadian itu sebenarnya Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano mengklaim pelaku peledakan bom merupakan pasangan suami istri kewarganegaraan Indonesia. Namun saat itu, pernyataan Eduardo belum bisa dikonfirmasi Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi.

Akhirnya, setelah sekitar enam bulan lebih kasus tersebut barulah pelaku pemboman itu berhasil terungkap dan benar kalau ternyata, pasangan suami-istri asal IndonesiaRullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh.

(Mhf/gw/fin)

  • Dipublish : 25 Juli 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami