Cina Pesan 2 Juta Masker di Indonesia

FOTO: FAISAL R. SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan bahwa wabah virus corona (nCov-2019) tak hanya berdampak kesehatan tetapi juga perekonomian. Dikatakan Erick dibalik momok menakutkan virus corona juga mendatangkan peluang bagi perekonomian misalnya dalam hal penyediaan masker.

Erick mengaku mendapatkan pesanan hampir 2 juta masker dari perusahan besar di Cina, negara dimana virus corona berasal. “Hari ini saya ditelepon oleh Suning, mau beli hampir dua juta masker, saya bingung juga dari mana, tapi kita jangan menjual kalau kemudian enggak siap,” tutur Erick saat menghadiri pembukaan 1st Indonesia Healthcare Corporation Medical Forum di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (10/2).

Erick memang berharap Indonesia bisa mengurangi impor alat-alat kesehatan. Karena itu, ia mendorong industri di Tanah Air bisa meningkatkan produksi alat kesehatan lokal. “Saya enggak anti impor, tapi salah banget kalau semua alat kesehatan, 90 persen impor,” ujar dia.

Karena, dalam kondisi adanya epidemi seperti virus corona saat ini saja masker diserbu masyarakat. Bahkan beberapa waktu lalu BUMN juga mengirim sejumlah masker ke Hong Kong. Sehingga, Indonesia juga mesti mempersiapkan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. “Amit-amit kalau ada apa-apa ke kita, kita enggak ada masker,” imbuhnya.

Melihat kemampuan industri alat kesehatan di dalam negeri yang masih belum memadai, namun, Erick berharap industri di Tanah Air setidaknya bisa membuat masker tingkat rendah. “Kalau tingkat tinggi belum bisa bikin, ya tingkat rendah dulu. Kita jangan hanya menjadi market,” tuturnya.

Menurut Erick, secara umum munculnya virus corona tidak hanya membahayakan kesehatan, namun juga berimbas kepada perekonomian. Apalagi Indonesia memiliki target pertumbuhan ekonomi 5 persen untuk bisa terus membuka lapangan kerja. “Kalau ekonomi kita tergerus, pembukaan lapangan kerja pun tidak maksimal dan mimpi kita bersama tahun 2045, Indonesia mau rangking 5 besar dunia, enggak akan tercapai,” tutur Erick.

Sebelumnya dikabarkan bahwa di tengah mewabahnya virus corona, penjualan masker laris manis. Di Kota Batam misalnya, beberapa apotek mulai kehabisan pasokan karena diborong oleh orang Cina.

Lebih lanjut Erick mengungkapkan bahwa di Indonesia terjadi persepsi buruk akibat virus corona. Yaitu prasangka buruk atau stereotip terhadap orang Asia karena dituduh membawa penyakit. “Apalagi kita melihat di mancanegara terjadi epidemi, bukan hanya kesehatan tapi ekonomi, tetapi juga yang menyedihkan sudah mulai banyak sekarang di negara negara ada stereotip penyakit orang Asia,” kata Erick.

Sebab itu, dia mengatakan, sangat penting apa yang disebut dengan health security. “Walau hari ini mayoritas penduduk rata-rata 35 tahun tapi nanti 20-30 tahun lagi ketika kondisi Indonesia sama dengan Jepang piramida terbalik, namanya health menjadi keharusan untuk menjaga bangsa Indonesia,” katanya.

Erick mengungkapkan, di Amerika, marak orang berpandangan buruk bahwa orang Asia membawa penyakit sehingga Indonesia mesti menunjukkan kepada dunia bahwa RI adalah bangsa yang kuat dan hebat.

“Bagaimana sekarang kita sebagai bangsa Asia dianggap Penyakitan. Kita mesti tunjukkan ke dunia khususnya Indonesia bahwa kita adalah bangsa yang kuat hebat bukan hanya menjadi market,”

Erick menjelaskan salah satu strategi health security yang bisa dilakukan ialah adanya konsolidasi rumah sakit dan farmasi di dalam negeri. Hani bisa menjadi benteng atau pertahanan kita sebagai bangsa.”

Menurut Erick, pihaknya tengah bekerja keras untuk menerapkan lima langkah strategis yang diharapkan bisa diteruskan juga untuk menteri-menteri BUMN selanjutnya. “Karena yang namanya sustainability adalah salah satu [kunci] sukses, kita implementasi konsolidasi [BUMN] sehat dan implementasi ini baik,” katanya.

Dalam upaya sinergi layanan kesehatan yang dimiliki oleh perusahaan BUMN dan koordinasi dengan pihak terkait sesuai dengan arahan Kementerian BUMN Republik Indonesia, PT Pertamina Bina Medika IHC menyelenggarakan ‘1st Indonesia Healthcare Corporation Medical Forum’ yang diadakan pada 10 Februari 2020 di Ballroom Fairmont Hotel Jakarta.

Indonesia Healthcare Corporation (IHC) merupakan Holding Rumah Sakit BUMN yang dibentuk pada 22 Maret 2017. Dengan penunjukan Pertamedika sebagai operatorship nya, IHC bersinergi dengan seluruh member yang terdiri dari 65 rumah sakit BUMN yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Potensi kekuatan sinergi RS BUMN mempunyai nilai lebih dalam banyak hal, terutama dalam segi supply chain dan penguatan pasar. Tak hanya itu lewat transfer teknologi kedokteran, manajemen rumah sakit, dan sumber daya manusia antar sesama member nya, IHC berupaya untuk menjadi semakin terdepan dalam menghadirkan pelayanan yang optimal.

Forum medis ini mengetengahkan materi terkait hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan tujuan dari acara ini, antara lain tentang optimalisasi kontribusi rumah sakit milik BUMN dalam mendukung terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat demi Ketahanan Kesehatan Nasional.

Selain itu yang tak kalah penting adalah langkah-langkah standarisasi pelayanan kesehatan rumah sakit milik BUMN dan digitalisasi layanan rumah sakit serta pentingnya sinergi antar rumah sakit milik BUMN di berbagai kegiatan pelayanan kesehatan.

Pada kesempatan ini juga dipaparkan peran rumah sakit BUMN dalam kesiapsiagaan serta kewaspadaan dalam menghadapi Coronavirus dengan berbagai aktivitas seperti edukasi kepada masyarakat lewat media, baik media televisi, sosial media maupun penyuluhan secara langsung.

Guna mendukung upaya percepatan integrasi dan peningkatan nilai rumah sakit BUMN, lebih dari 100 dokter spesialis dari berbagai rumah sakit BUMN turut hadir mengikuti acara tersebut. Pada kesempatan ini, para peserta dan tamu undangan termasuk Wakil Menteri Negara II BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengikuti sejumlah rangkaian acara yang diantaranya adalah sesi Hospital Tour ke Rumah Sakit Pelni Jakarta yang dilaksanakan dalam rangka pengenalan sistem pelayanan kesehatan moderen berbasis digital.

“Kami selalu mendorong BUMN untuk fokus kepada core business-nya. Dengan adanya penggabungan RS dan dipimpin oleh holding company yang memiliki fokus di bidang tersebut tentu RS milik BUMN dapat dikelola lebih profesional. Yang terpenting dari penggabungan RS BUMN adalah menjadi market leader RS di Indonesia,” pungkas Erick. (fin/jm)

  • Dipublish : 11 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami