Covid-19 Bertambah 8,4 Persen per Minggu, 109 Ribu Suspect Menunggu Hasil

Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 yang baru, Profesor Wiku Adisasmito. (BNPB)
Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 yang baru, Profesor Wiku Adisasmito. (BNPB)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Indonesia masih belum usai dalam menghadapi gelombang pertama penyebaran Covid-19 dengan rata-rata pertambahan kasus mingguan 8,4 persen. Sementara akumulasi hingga Rabu (23/9) lebih dari 109 ribu orang berstatus sebagai suspect dan menunggu hasil pemeriksaan.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan tidak perlu menunggu sampai adanya gelombang kedua Covid-19 apabila kasus bisa ditahan tanpa perlu sampai ke puncak penyebaran. ”Bagusnya kasus bisa ditekan melalui perubahan perilaku masyarakat yang sampai saat ini masih belum baik sehingga kasus terus naik,” ujar Wiku dalam diskusi virtual.

Wiku mengatakan penyakit yang disebabkan oleh virus korona ini bisa menyerang dengan menunggu masyarakat lengah dan tidak mematuhi protokol kesehatan. Oleh karena itu, dia mendorong agar masyarakat semakin sadar dalam menerapkan protokol kesehatan dan mengubah perilaku hidup di masa pandemi. ”Kunci menghadapi penyakit ini pada perubahan perilaku yang memang sulit untuk Asia khususnya Indonesia karena berbenturan dengan budaya,” ungkap Wiku.

Menurut dia, masyarakat Indonesia secara budaya sulit untuk menjaga jarak karena selalu ingin dekat dengan keluarga, kerabat, dan teman. Kondisi ini berbeda dengan masyarakat di negara Barat yang biasa hidup individualis sehingga tidak sulit untuk menjaga jarak.

Wiku menambahkan pada kebiasaan memakai masker juga sulit diterapkan secara disiplin oleh sebagian masyarakat Indonesia yang secara budaya juga senang berinteraksi, khususnya pada masyarakat kelompok ekonomi bawah yang masih merasa aneh untuk menggunakan masker. ”Penyakit ini menularnya cepat kalau tidak pakai masker,” tambah dia.

Oleh karena itu, Wiku menambahkan dalam menangani penyakit ini perlu pendekatan budaya, bukan pendekatan medis, karena sebanyak apa pun fasilitas dan tenaga medis yang disiapkan tidak akan cukup apabila masyarakat tidak mengubah perilakunya di masa pandemi. ”Tidak akan mampu bangsa ini menghadapi penyakit dengan cara kuratif karena mendidik dokter dan bangun fasilitas medis lama sekali,” kata Wiku.

Dia menambahkan walaupun saat ini ada harapan dari pengembangan vaksin dengan jumlah produsen yang banyak, namun ketersediaannya sangat terbatas. Selain itu, masa pengembangan vaksin juga relatif singkat sehingga efektivitas dan keamanannya belum teruji, dengan kekebalan mungkin hanya bertahan 1 tahun dan perlu penyuntikan ulang setelahnya. ”Kita tidak tahu efektivitas dan keamanannya, tapi vaksin ini pilihan untuk mencegah Covid-19,” imbuh Wiku.

Oleh karena itu, dia mengatakan walaupun ada harapan pada vaksin, namun modal terbesar melawan pandemi berada pada upaya perubahan perilaku masyarakat. Sementara itu, Indonesia melaporkan 4.465 kasus baru Covid-19 pada Rabu, yang merupakan rekor kasus harian tertinggi sejauh ini.

Kementerian Kesehatan mencatat total kasus menjadi 257.388 orang, dengan 59.453 di antaranya merupakan kasus aktif. Pasien meninggal bertambah 140 orang, sehingga total kasus kematian menjadi 9.977 orang. Sedangkan kasus sembuh bertambah 3.660 orang menjadi total 187.958 orang.

Sementara itu memasuki hari kedua, setelah dibuka pada hari Senin (21/9) lalu, Tower 4 Wisma Atlet Kemayoran Jakarta, yang disiapkan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 sebagai Flat Isolasi Mandiri bagi warga yang tak memiliki tempat untuk melakukan isolasi mandiri, sudah terisi 527 orang pasien dengan kategori orang tanpa gejala (OTG).

Secara persentase kapasitas tempat tidur di Tower 4 sudah terpakai oleh pasien OTG sebesar 34,08% berdasarkan data pada hari Rabu 23 September 2020 hingga pukul 06.00 WIB pagi. Masih tersedia 1.019 tempat tidur (65,92%) – dari kapasitas total 1.546 tempat tidur untuk pasien OTG yang tak memiliki tempat.

Sedangkan di Tower 5 Flat Isolasi Mandiri, yang sudah beroperasi sejak Jumat (11/9) lalu, hari ini terisi 1.445 orang pasien OTG dari total kapasitas 1.570 tempat tidur. Artinya Tower 5 sudah terisi 92,03% dan masih tersedia 125 tempat tidur (7,97%).

Untuk RS Darurat Covid-19, yang letaknya bersebelahan dengan Flat Isolasi Mandiri, total masih tersedia 480 tempat tidur. Rinciannya 310 tempat tidur di Tower 6 dan 170 tempat tidur di Tower 7. Secara persentase hunian di RS Darurat Covid-19 yang terisi para pasien positif Covid-19 sudah mencapai 83,32% (2.398 tempat tidur) dari total 2.878 kapasitas tempat tidur yang tersedia di kedua tower tersebut pada hari Rabu (23/9).

Data Satgas Penanganan Covid-19 per 22 September 2020, pukul 12.00 WIB, jumlah konfirmasi positif berjumlah 252.923 kasus dengan penambahan kasus harian 4.071 kasus. Sedangkan kasus sembuh, data harian menunjukkan jumlah 3.501 kasus dengan jumlah total menjadi 184.298 kasus.

Beban rumah sakit rujukan Covid-19 di Jakarta belum mereda meski kapasitas ruang isolasi dan ICU telah ditambah dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali diperketat. Pemerintah Jakarta mencatat ruang isolasi di 67 rumah sakit rujukan telah terisi 83 persen dari total 4.508 tempat tidur yang disiapkan berdasarkan data per 20 September 2020.

Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan pada 13 September lalu, saat itu keterisian ruang isolasi sebanyak 75 persen. Padahal pemerintah telah menambah kapasitas hampir 6 persen sejak saat itu.

”Sedangkan dari jumlah 658 tempat tidur ICU di rumah sakit rujukan persentase keterpakaiannya sebesar 79 persen,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Dwi Oktavia Rabu (23/9).

Jika dibandingkan dengan 13 September, keterisian ruang ICU menurun secara persentase dari 83 persen menjadi 75 persen. Penurunan terjadi karena pemerintah menambah kapasitas ICU sebesar 10,7 persen. Namun secara jumlah, keterisian ruang ICU sebenarnya meningkat dari 493 tempat tidur menjadi 593 tempat tidur.

Di saat yang sama, Jakarta mencatat kenaikan kasus aktif menjadi 13.222 orang. Jakarta juga masih mencatat penambahan di atas 1.000 kasus per hari sejak PSBB diperketat. Tren angka kematian akibat Covid-19 di Jakarta juga meningkat pada Agustus-September jika dibandingkan dengan Mei-Juni lalu.

Sementara itu, Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet yang ditujukan untuk isolasi mandiri bagi pasien tanpa gejala serta bergejala ringan juga cepat terisi. Pemerintah telah mengoperasikan dua menara tambahan untuk penanganan Covid-19 dalam dua minggu terakhir, yakni Tower 4 dan 5.

Tower 5 telah terisi hingga 92 persen dari total kapasitas 1.570 dalam 10 hari, sedangkan Tower 4 telah terisi 34 persen dari total kapasitas 1.546 tempat tidur dalam dua hari. Kepala Bidang Koordinator Relawan Medis Satgas Penanganan Covid-19 Jossep William mengatakan tenaga medis dalam kondisi kelelahan karena jumlah kasus terus bertambah.

Satgas Penanganan Covid-19 berencana menambah jumlah tenaga medis dan relawan, namun dia mengatakan hal itu akan percuma bila mata rantai penularan tidak diputus. ”Tenaga medis dan relawan di lapangan seminggu belakangan sibuk sekali,” kata Jossep.

”Meskipun kita sekarang masih tahan, tapi pertanyaannya sampai kapan bisa tahan? Kalau sistem kesehatan ambruk, ini yang jadi masalah,” lanjut dia. Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan situasi ini menunjukkan bahwa penerapan PSBB ketat belum memberi dampak efektif dalam pengendalian pandemi.

Menurut dia, pemerintah masih belum mampu mendeteksi dini sumber-sumber penularan di masyarakat melalui tes dan pelacakan kontak secara masif. Jakarta telah mampu melakukan tes hingga empat kali lipat dari standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), namun kemampuan contact tracing masih sangat lemah.

Pemerintah hanya mampu melacak dua orang dari satu kasus positif pada September ini, sedangkan WHO merekomendasikan sebanyak 10 hingga 30 orang per kasus positif. ”Kalau ini tidak dimaksimalkan, beban pelayanan kesehatan akan terus bertambah karena banyak orang yang terlambat terdeteksi,” kata Dicky. (fin)

  • Dipublish : 24 September 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami