Covid-19 Mulai Hilang, Warga Tiongkok Habiskan Duit untuk Berbelanja

This photo taken on June 10, 2020 shows a vendor attracting customers at an outdoor market in Wuhan in China's central Hubei province. - Snacks, underwear, jewellery and even bunnies -- hard-hit Chinese are selling their wares on the street after the nation's premier appeared to give his support to hawkers despite long-standing curbs on the practice. (Photo by STR / AFP) / China OUT
This photo taken on June 10, 2020 shows a vendor attracting customers at an outdoor market in Wuhan in China's central Hubei province. - Snacks, underwear, jewellery and even bunnies -- hard-hit Chinese are selling their wares on the street after the nation's premier appeared to give his support to hawkers despite long-standing curbs on the practice. (Photo by STR / AFP) / China OUT
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Covid-19 pergi, saatnya memanjakan diri. Salah satunya dengan berbelanja. Bukan kebutuhan harian tentu saja, melainkan barang-barang mewah. Misalnya, perhiasan dan berbagai barang branded yang diakui dunia. Tren itulah yang kini sedang terjadi di Tiongkok dan Korea Selatan (Korsel).

Pandemi di dua negara tersebut memang sudah mereda. Karantina di berbagai wilayah di Tiongkok sudah dicabut. Korsel yang tidak menerapkan lockdown juga sudah melonggarkan kebijakan-kebijakannya terkait Covid-19. Intinya, penduduk dua negara tersebut kini lebih bebas berkeliaran di luar seperti dulu meski tetap harus bermasker.

Setelah terkurung begitu lama di dalam rumah, belanja barang mewah seperti luapan euforia karena bebas ke mana saja. Misalnya, yang terjadi di butik Louis Vuitton di Seoul, Korsel. Warga rela antre hingga mengular ketika kebijakan dilonggarkan Mei lalu. Hal serupa terjadi lebih dulu di Tiongkok.

’’Data menunjukkan bahwa Tiongkok sedang dalam mode pemulihan,’’ ujar Luca Solca, seorang analis di Bernstein, seperti dikutip CNN.

Beberapa merek kenamaan mengakui adanya lonjakan penjualan. Produsen perhiasan mewah asal Amerika Tiffany & Co., misalnya. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, penjualan mereka naik 30 persen pada April dan 90 persen di Mei.

Para pengamat menyebut tren itu sebagai revenge spending alias belanja sebagai bentuk balas dendam karena sebelumnya mereka tidak bisa melakukannya.

Meski naik, konsumsi di Tiongkok belum mampu mengembalikan penjualan secara global. Sebab, banyak negara yang masih terpuruk karena pandemi dan toko-toko masih tutup. Secara global, penjualan Tiffany & Co. Mei lalu turun 40 persen. Untuk mengatasi situasi global yang belum menentu, beberapa gerai memilih cara baru. Zara, contohnya. Mereka menutup 16 persen outlet-nya secara global atau setara 1.200 gerai.

Di tengah pengangkatan kebijakan karantina di berbagai belahan dunia, AS terancam tersapu gelombang kedua virus SARS-CoV-2. Protes menuntut keadilan untuk George Floyd menjadi salah satu faktor yang mendorong hal itu.

Menurut CNN, tingkat penularan di 22 negara bagian sedang meningkat. Kondisi tersebut membuat pakar memperkirakan bahwa korban jiwa akan bertambah 100 ribu orang pada September. Padahal, kasus Covid-19 di AS sudah menembus 2 juta jiwa dengan angka kematian 112 ribu jiwa.

’’Saya tahu masyarakat AS tidak siap menghadapi lockdown lagi. Tapi, kita harus cari solusi jika tak ingin melihat seribu jiwa meninggal setiap hari,’’ ujar Direktur Harvard Global Health Institute Ashish Jha.

Washington DC menjadi salah satu bukti risiko penularan akibat protes. Rabu lalu (10/6), Wali Kota Muriel Bowser menjalani tes Covid-19 dan meminta seluruh demonstran untuk mengikuti tes. Hal itu dilakukan setelah dia mendapat kabar bahwa sejumlah personel National Guard positif terpapar Covid-19. (jp)

  • Dipublish : 13 Juni 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami