Dalam Islam, Orang yang Mati Karena Positif Corona Mati Syahid

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA- Bagi ummat Islam, wajib kita meyakini tentang nash-nash Alquran dan Hadis Nabi yang mengabarkan mati syahid. Dalam beberapa riwayat, dijelaskan bahwa orang islam, yang meninggal dunia karena terinfeksi wabah yang mematikan, maka jaminannya surga.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang terbunuh di jalan Allah (fii sabilillah) adalah syahid; orang yang mati karena ath-tha’un (wabah) adalah syahid; orang yang mati karena penyakit perut adalah syahid; dan wanita yang mati karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Ahmad, 2: 522)

Kemudian ada hadis Muslim nomor 1914 dan Bukahri nomor 2829 yang berbunyi: Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena ath-tha’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.”

Lantas yang jadi pertanyaan, virus corona termasuk ath-tha’un alias wabah yang mematikan tidak?

Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal menjelaskan, menurut pakar bahasa arab dan pakar kesehatan, al-waba’ (wabah) adalah penyakit yang menular pada suatu wilayah, bisa penyebarannya cepat dan meluas. Sedangkan ath-tha’un adalah wabah yang menyebar lebih luas dan menimbulkan kematian. Inilah pengertian ath-tha’un menurut pakar bahasa dan ulama fikih.

“Para ulama menganggap bahwa virus corona masuk dalam kategori ath-tha’un.” Tulis Tuasikal dikutip di Rumaysho.

Dia mengatakan, Ulama kontemporer yang menganggap virus corona sebagai ath-tha’un adalah
adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh (mufti ‘aam kerajaan Saudi Arabia), Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr (ulama besar di kota Madinah), juga Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily (ulama besar di kota Madinah).

“Apalagi kalau kita melihat pandangan WHO bahwa virus corona sudah masuk pandemik, lebih jelas lagi kita menyebutnya sebagai ath-tha’un.” Katanya.

Senada dengan Ustaz Abdu Tuasikal, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga menyimpulkan serupa.

Lewat putusan Lembaga Bahtsul Masail PBNU tentang Fiqih Pemulasaraan Jenazah Pasien Covid-19 atau virus corona, menyimpulkan bahwa penyakit akibat virus corona atau COVID-19 tergolong sebagai wabah atau tho’un. Oleh karenanya korban yang meninggal lantaran virus corona tergolong syahid.

“Bahwa Covid-19 merupakan wabah (tho’un), karena itu orang yang meninggal akibat Covid-19 statusnya adalah syahid fil akhiroh. Sebab kedudukan syahadah (mati syahid) tidak hanya didapat oleh mereka yang gugur di medan perang,” demikian keputusan bahtsul masail Lembaga Bahtsul Masail PBNU. (dal/fin).

  • Dipublish : 24 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami