Dalam Sehari Pasien Positif Virus Korona di Iran Bertambah 1.178 Kasus

Petugas menyemprot cairan disinfektan di jalan di Tehran, Iran (Vahid Salemi/AP)
Petugas menyemprot cairan disinfektan di jalan di Tehran, Iran (Vahid Salemi/AP)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id, – Gelombang kedua penyebaran virus Korona jenis baru atau COVID-19 di luar Tiongkok makin mewabah. Terbaru, Iran mengonfirmasi 1.178 kasus baru hanya dalam sehari. Angka itu melonjak dalam waktu cepat. Peningkatan itu menjadi yang terbesar di negara tersebut selama 24 jam. Jumlah total kasus sekarang meroket jadi 16.169 kasus.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran Kianush Jahanpour mengatakan ada 135 kematian baru sehingga total kematian menjadi 988 jiwa seperti dilansir dari Al Jazeera.

Iran telah mengeluarkan peringatan paling mengerikan tentang wabah virus Korona yang melanda negara itu. Angka itu menunjukkan prediksi jutaan orang bisa mati jika orang terus bepergian dan mengabaikan nasihat kesehatan.

Seorang jurnalis televisi negara, yang juga seorang dokter, dr. Afruz Eslami memberikan peringatan pada Selasa (17/3) mengutip sebuah studi oleh Universitas Teknologi Sharif di Teheran, yang memprediksi skenario mengenai wabah COVID-19 di Iran. Iran jadi salah satu negara yang paling mematikan di luar Tiongkok, negara penyakit itu berasal.

Dia mengatakan jika orang mulai bekerja sama sekarang, kasus akan lebih ditekan. Tetapi jika orang gagal mengikuti petunjuk apa pun, itu bisa menghancurkan sistem medis Iran yang sudah kacau saat ini.

“Jika fasilitas medis tidak memadai, akan ada empat juta kasus, dan 3,5 juta orang akan meninggal,” katanya.

Eslami tidak merinci matrik apa yang digunakan studi tersebut. Setidaknya 12 politisi dan pejabat Iran pun kini telah meninggal karena penyakit tersebut, dan 13 lainnya telah terinfeksi dan sedang dalam karantina atau dirawat.

Pada Selasa (17/3), Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengeluarkan keputusan yang melarang perjalanan tidak perlu di negara itu. Itu terjadi ketika publik mengabaikan peringatan berulang kali. Iran telah mendesak orang untuk tetap di rumah, tetapi banyak yang mengabaikan seruan itu.

Pada Senin (16/3) malam massa yang marah menyerbu ke halaman tempat pemujaan Imam Reza Masyhad dan tempat pemujaan Fatima Masumeh milik Qom. Kerumunan biasanya berdoa di sana 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, menyentuh dan mencium kuil. Kegiatan itu telah membuat para pejabat kesehatan khawatir. TV pemerintah lantas mengumumkan penutupan kuil, yang memicu demonstrasi. Polisi kemudian membubarkan massa.

Dalam upaya terbaru untuk menahan virus itu, polisi Iran melarang perayaan yang menandai festival api tradisional yang datang sebelum Nowruz, Tahun Baru Persia. Namun, sejak mengumumkan dua kematian pertamanya di kota suci Qom bulan lalu, Iran belum memberlakukan kuncian dan wabah telah menyebar ke 31 provinsi di negara itu.

Iran telah mengerahkan tim-tim untuk menyaring para pelancong yang meninggalkan kota-kota besar di 13 provinsi, termasuk ibu kota, Teheran. Tim-tim akan memeriksa suhu para pelancong dan mengirim mereka yang demam ke pusat-pusat karantina.

Juru bicara kementerian kesehatan Kianoush Jahanpour mengatakan lebih dari 15 juta orang Iran telah diskrining karena timbul gejala. Menurut Kementerian Kesehatan, tren peningkatan kasus infeksi yang dilaporkan adalah karena adanya pelacakan kontak dan meningkatnya jumlah tes yang dilakukan. (jp/jm)

  • Dipublish : 18 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami