Daring Kuras Kuota Internet

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

MAKASSAR – Proses belajar online atau daring cukup menguras isi dompet. Terutama para guru honorer. Harus ada subsidi kuota atau perkuat jaringan internet di sekolah.

Guru honorer SD Inpres Maccini 1/1, Yudi mengatakan, subsidi belum cukup menutupi konsumsi kuota. “Kita ada subsidi pembelian kuota sekali sebulan. Tetapi pemakaian kita itu dua kali sebulan. Sebagai honorer, tentu tak sebanding dengan pemasukan,” ujarnya seperti dikutip dari Harian Fajar (Fajar Indonesia Network Grup), Senin, 27 Juli.

Yudi berharap pandemi segera tertangani dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa. “Orang tua siswa juga sudah mengeluh karena konsumsi kuota ini,” ungkapnya.

Ketua Ikatan Guru Honorer Kawasan Indonesia Timur Ali Kham mengaku, kebijakan belajar daring memang mempersulit guru honorer. Di tengah pendapatan yang minim, ada tambahan biaya kuota yang mesti ditanggung para guru.

Memang, kata dia, ada tambahan biaya jaringan yang disiapkan sekolah. Tetapi itu tak mencukupi. Pasalnya kebutuhan kuota untuk aplikasi Zoom sangat besar. Apalagi jika melibatkan banyak peserta.

Dia mencontohkan pendapatan guru khusus di Pemprov Sulsel. Honor mereka hanya Rp10 ribu per jam mengajar. “Pasti mi biaya kuota lebih tinggi dari honor jam mengajar. Kalau andalkan dana BOS, paling baru cair tiga bulan sekali,” jelasnya.

Selain itu, kata dia, orang tua juga mengeluh. Terutama mereka yang tidak mampu membeli kuota. Otomatis, anaknya tidak belajar, karena tak ada ponsel atau kuota untuk aktivitas belajar mengajar,” bebernya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Amalia Malik mengatakan, para guru dianjurkan ke sekolah untuk mengajar.

“Jadi di sekolah disiapkan fasilitas jaringan internet. Ini fasilitas sebagai guru agar maksimal memberi pengajaran kepada peserta didik,” ungkapnya.

Kata Amalia, menyediakan fasilitas jaringan internet di sekolah menjadi opsi terbaik saat ini. Dengan begitu, tetap ada aktivitas di sekolah dimana guru bisa tetap aktif mengajar.

“Ini memang tantangan. Situasi memaksa kami untuk inovatif dalam menyediakan proses pembelajaran. Semua masukan tentu akan kita evaluasi dan kita akan terus bekerja, sehingga guru terutama peserta didik bisa menyerap pembelajaran,” pungkasnya. (rdi-ful/rif)

  • Dipublish : 28 Juli 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami