DBD Makin Mengganas, 104 Jiwa Jadi Korban

Ilustrasi
Ilustrasi
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Wabah deman berdarah dengue (DBD) makin mengganas di sejumlah wilayah di Tanah Air. Jumlah korban akibat DBD terus meningkat.

Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mencatat sejak Januari hingga Rabu (11/3) sebanyak 104 orang meninggal dunia akibat DBD dari 17.820 kasus yang terjadi. Kasus tertinggi menurutnya ada di wilayah Lampung.

“Kasus paling tinggi sebenarnya ada di Lampung dan yang kedua adalah Nusa Tenggara Timur (NTT), terkonsentrasi pada satu kabupaten yang sangat tinggi dibandingkan kabupaten lain,” katanya di gedung Kemenkes, Rabu (11/3).

Berdasarkan data Kemenkes, Lampung menempati posisi provinsi paling tinggi kasus DBD dengan 3.423 kasus yang terjadi di enam kabupaten. Sementara itu, Nusa Tenggara Timur (NTT) berada di posisi kedua dengan 2.711 kasus.

“Namun, kasus kematian terbanyak tercatat di NTT yang memiliki 34 kematian dengan 14 korban jiwa berasal dari Kabupaten Sikka yang sebagian besar merupakan anak-anak,” ungkapnya.

Kemudian, Jawa Timur berada di posisi ketiga kasus terbanyak DBD dengan 1.761 kasus, selanjutnya Jawa Barat dengan 1.420 kasus dan yang di posisi kelima terdapat Jambi dengan 703 kasus DBD.

“Di NTT, di Sikka khususnya karena akses air sulit karena memang kontur geografisnya sehingga saat kami melalukan asistensi di sana melihat begitu banyak tempat-tempat perlindungan nyamuk,” kata Siti Nadia Tarmizi.

Sementara, Dinas Kesehatan Provinsi NTT melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat DBD hingga Rabu (11/3) pagi mencapai 37 orang.

“Sampai dengan pagi ini, dari seluruh data yang kami kumpulkan di 22 kabupaten/kota terkait DBD sudah ada 37 orang yang meninggal dengan jumlah kasus DBD sejak Januari hingga awal Maret 2020 mencapai 3.109 kasus,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi NTT David Mandala.

Menurutnya daerah dengan angka kematian tertinggi ada di Kabupaten Sikka.

“Kabupaten Sikka dengan angka kematian mencapai 14 orang, dan terdapat 1.216 kasus,” tambah dia.

Urutan kedua ditempati oleh Kota Kupang dengan jumlah kasus 462 kasus dengan angka kematian mencapai 5 orang.

Posisi ketiga ditempati oleh kabupaten Alor, dengan jumlah kasus mencapai 308 kasus dengan jumlah kasus mencapai tiga orang.

Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo mengatakan salah satu penyebab utama DBD yang tinggi di wilayahnya adalah genangan air yang banyak akibat drainase yang buruk.

“Jadi salah satu penyebab tingginya demam berdarah di kabupaten ini adalah drainase yang buruk,” katanya.

Untuk wilayah Lampung, Kepala Bidang Promosi Kesehatan Media Dinas Kesehatan Lampung, Lisna mengakui angka pesakitan di wilayahnya melebihi angka pesakitan nasional. Angka pesakitan nasional DBD adalah 49 per 100 ribu penduduk.

“Angka pesakitan di lampung mencapai 66 per 100 ribu penduduk,” katanya kepada media, Selasa (10/3).

Meski begitu, angka kematian akibat DBD di Lampung masih rendah. Hingga Februari hanya tercatat 10 kasus kematian. Sebanyak 5 kematian terjadi di Januari dan 5 kematian di Februari.

“Artinya kita sudah melakukan penanganan yang baik sehingga dapat menekan angka kematian akibat DBD,” ujarnya.

Tingginya angka kematian akibat DBD, anggota Komisi IX DPR Nabil Haroen meminta pemerintah meningkatkan perhatian atas kasus ini. Pemerintah diminta juga membagi perhatiannya ke kasus DBD di tengah mengurusi virus corona atau COVID-19.

“Data terakhir, lebih dari 16 ribu kasus dari Januari hingga Maret 2020 dengan jumlah korban meninggal sekitar 100 pasien,” katanya melalui pesan tertulisnya, Rabu (11/3).

Nabil menilai meningkatnya kasus DBD disebabkan program berkelanjutan dan prasarana obat-obatan untuk menangani pasien yang kurang.

“Tidak perlu panik atau histeris. Persiapan yang tepat sasaran dan memantau informasi terkini yang benar merupakan cara terbaik untuk menghindari bencana dalam skala yang lebih besar,” tuturnya.(gw/fin)

  • Dipublish : 12 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami