Defisit Gula 3,62 Juta Ton per Tahun

Foto : Iwan tri wahyudi/ FAJAR INDONESIA NETWORK
Foto : Iwan tri wahyudi/ FAJAR INDONESIA NETWORK
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Setiap tahun terjadi defisit gula sebesar 3,62 juta ton per tahun. Defisit disebabkan karena tidak imbangnya produksi dengan kebutuhan konsumsi di dalam negeri.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, produksi gula per tahun hanya sebesar 2,18 juta ton. Sedangkan kebutuhan konsumsi sebesar 5,8 juta ton. Menutup kekurangan gula lewat impor.

“Kebutuhan dasar kita masih sangat besar, dari data yang ada, importasi khusus untuk konsumsi saja masih 600-an ribu ton,” ujar SYL dalam video daring, kemarin (24/11).

Solusi masih mengandalkan impor. Ke depan, impor gula akan ditekan secara bertahap. Karena mulai, 2020 hingga 2023, Kementan akan bersinergi dengan lintas kementerian, BUMN, maupun swasta untuk memenuhi kebutuhan gula pasir.

Pada 2023, Kementan menargekan Indonesia bisa swasembada gula dengan tambahan produksi sebesar 676 ribu ton gula. Akan dilakukan dua sisi, yakni budidaya dan hilirisasi atau pembangunan industri gula.

Selain itu, membuka diri bagi investor yang tertarik untuk membangun pabrik gula di Indonesia. Saat ini, pihaknya telah menyiapkan area lahan tebu sebesar 250 ribu hektare (ha), baik untuk intensifikasi maupun ektensifikasi.

Sementara itu Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, mendorong pabrik gula di dalam negeri harus memanfaatkan teknologi modern guna memenuhi kebutuhan domestik.

“Kami juga fokus mengakselerasi pembangunan pabrik-pabrik gula baru yang terintegrasi dengan perkebunan tebu, sehingga mereka dapat beroperasi penuh,” ujar Agus Gumiwang.

Menperin menegaskan, pihaknya mendukung tumbuhnya pabrik gula baru untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik yang semakin meningkat, baik itu untuk konsumsi langsung maupun sebagai bahan baku industri makanan dan minuman.

“Seperti yang disampaikan bapak presiden dalam sambutannya, saat ini kebutuhan komoditas gula di Indonesia mencapai 5,8 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, baru sebanyak 2,1 juta ton yang mampu diproduksi di dalam negeri,” katanya.

Oleh karena itu, diperlukan kebijakan strategis yang dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif di Tanah Air. Guna mencapai sasaran tersebut, perlu adanya fasilitas memperoleh bahan baku dalam rangka pembangunan pabrik gula baru maupun perluasan.

“Tujuannya adalah untuk menarik minat investasi, meringankan beban biaya investasi yang besar dan membantu efisiensi operasional pabrik,” tukasnya. (din/fin)

  • Dipublish : 25 November 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami