Defisit Transaksi Berjalan 3,04 Persen Masuk Bahaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II 2019 sebesar 8,4 miliar dolar AS atau setara 3,04 persen dari produk domestik bruto (PDB). Ekonom menilai hal itu sudah masuk kategori berbahaya.

Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Tauhid Ahmad mengatakan, deifist neraca transaksi berjalan 3,04 persen harus menjadi perhatian pemerintah untuk melakukan tindakan agar defisit di posisi rendah atau batas aman.

Saya kira ini menjadi menginat batas aman defisit transaksi berjalan sebesar 2,8 persen terhadap PDB, ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (9/8).

Menurut dia, penyebab utama defisit transaksi berjalan adalah turunnya ekspor nonmigas yang sebesar 37,2 miliar dolar AS atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 38,2 miliar dolar AS.

Ini diperburuk pula dengan defisit neraca perdagangan migas juga meningkat menjadi 3,2 miliar dolar AS dari 2,2 miliar dolar AS pada triwulan sebelumnya, papar Tauhid.

Upaya yang mesti dilakukan pemerintah, saran Tauhid, yakni mengurangi impor yang sifatnya barang konsumsi dan meningkatkan produktivitas agar produk-produk kita memiliki daya saing di pasar ekspor.

Karena menurut dia, jika kondisi terseut dibiarkan maka perekonomian Indonesia akan mudah sakit. Artinya tidak memiiki kekuatan ketika menghadapi tidak stabilnya ekonomi dunia.

Dampak bagi ekonomi tentu saja maka akan menguras ketahanan ekonomi kita. Karena semakin rentan terhadap guncangan, termasuk aliran modal asing yang sifatnya jangka pendek, jelas dia.

Sementara Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) , Pieter Abdullah mengatakan, pemerintah akan sulit untuk menjaga neraca transaksi berjalan di kisaran 2,5 persen.

Yang masih realistis adalah menjaganya di bawah 3 persen di kisaran 2.8 persen hingga 3 persen. Itu juga dengan upaya keras menahan kenaikan impor yang memperlambat defisit neraca perdagangan. Memacu pertumbuhan ekspor di tengah perlambatan ekonomi global dan rendahnya harga komoditas dapat dikatakan mission impossible, ujarnya kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (9/8).

Lalu apa yang mesti dilakukan? Nah menurut Pieter, untuk menjaga impor agar volumenya tidak terlalu besar.

Tidak banyak pilihan. Jaga impor jaga impor. Kebijakan-kebikana mengurangi impor seperti B20 perlu terus dikembangkan, termasuk juga menjaga pintu masuk impor. Misalnya dgn mengevaluasi kebijakan post border, kata dia.

Mengenai deficit neraca transaksi berjalan pada kuartal II 2019 sebesar 8,4 miliar dolar, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyatakan masih sesuai dengan perkiraan BI. Rasio defisit tersebut menrut dia, karena masih lambatnya pertumbuhan ekonomi di kuartal II tahun ini.

Mengapa CADnya (neraca transakasi berjalan) sedikit lebih tinggi dari biasanya 2,9 persen sekarang 3 persenan, itu karena memang realisasi PDBnya rendah,” kata Perry di Jakarta, kemarin (9/8).

BI ptimistis akhir tahun defisit neraca transaksi berjalan ini bisa berada di kisaran 2,8 persen. Proyeksi tahunan CAD masih tetap sama yaitu 2,5 persen sampai 3 persen, kami optimis masih ada di titik tengah 2,8%,” sambung dia menjelaskan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko menambahkan, pelebaran ini terjadi karena faktor musiman repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri.

(din/fin)

 

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 10 Agustus 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami