Dewas Menilai Banyak Siaran Asing, Helmi Yahya : Kami Berupaya Perbaiki Konten TVRI

Direktur Utama LPP TVRI nonaktif Helmy Yahya (tengah) didampingi kuasa hukum Chandra Hamzah (kiri), dan Direktur Keuangan Isnan Rahmanto saat menyampaikan pembelaan terkait pemberhentian dirinnya sebagai dirut oleh Dewas LPP TVRI. (HENDRA EKA/JAWA POS)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA,- Dewan Pengawas (Dewas) TVRI menilai, banyak siaran asing selama Helmy Yahya memimpin televisi pelat merah itu. Mereka menganggap hal tersebut tidak sesuai dengan jati diri Indonesia.

Helmy membantah anggapan itu. Dia menuturkan, dirinya bersama jajaran direksi TVRI lainnya berupaya agar TVRI bisa kembali ditonton. ’’Kami berupaya memperbaiki konten. Kehadiran liga Inggris dan Discovery Channel adalah terobosan,’’ terangnya.

Menurut dia, stasiun televisi di dunia harus memiliki program killer content, monster content, dan locomotive content. Liga Inggris adalah monster content, sedangkan Discovery Channel merupakan locomotive content yang mengusung esensi edukasi. Kenyataannya, dengan program-program yang diusung, TVRI saat ini banyak ditonton masyarakat.

Helmy menegaskan, tayangan konten yang berkualitas tentu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.

’’Di situ sulitnya. Anggaran kami sangat kecil, Rp 951 miliar untuk menghidupi seluruh stasiun di 30 provinsi. Juga mengubah mindset karyawan yang juga PNS dan sudah lama tidak berkompetisi. Kami semua kerja keras,’’ ungkap Helmy.

Helmy memastikan, hak siar liga Inggris diketahui dan mendapat persetujuan Dewas TVRI. Laporan administratif disampaikan pada 17 Juli 2019. ’’Disampaikan langsung dalam rapat yang dipimpin Ketua Dewas TVRI Arief Hidayat Thamrin yang juga dihadiri seluruh jajaran direksi,’’ tegasnya.

Sementara itu, Ketua Dewas TVRI Arief Hidayat Thamrin menilai Helmy terlalu mengejar angka share dan rating. Padahal, TVRI semestinya memberikan tayangan yang edukatif serta memiliki nilai-nilai kebangsaan dan pemersatu bangsa. ’’Kami bukan televisi swasta. Tupoksi TVRI adalah televisi publik,’’ kata Arief.

Dia juga menyinggung tayangan liga Inggris dan Discovery Channel. Arief mengakui, memang banyak yang menyukai dua program tersebut. Namun, menurut dia, porsi tayangnya lebih banyak daripada konten lokal. ’’Ada juga Discovery Channel yang kita nonton buaya di Afrika. Padahal, buaya di Indonesia barangkali akan lebih baik,’’ selorohnya. (jp)

  • Dipublish : 24 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami