Dikaitkan Jiwasraya, Ini Penjelasan Dahlan Iskan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Nama Dahlan Iskan, tiba-tiba dikait-kaitkan dengan kasus megakorupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Ini terlihat dari penyampaian infografis yang memuat kronologi kroposnya keuangan Jiwasraya.

Ya, Kementerian BUMN melansir, kondisi itu terjadi sejak Maret 2012. Tepatnya pada saat Dahlan Iskan menjabat sebagai Menteri BUMN. Saat itu, mantan Bos Jawa Pos sepakat menambah modal sebagai jalan penyehatan ke Jiwasraya.

Baca juga: https://fin.co.id/2019/12/28/terlilit-kasus-jiwasraya-inilah-10-nama-yang-dicekal-kejagung/

Nah, beberapa alternatif pun dilakukan dari zero coupon bound, obligasi rekap dan investor strategis. Karena dikait-kaitkan dengan Jiwasraya, akhirnya Dahlan Iskan buka suara.

Secara lugas, Dahlan Iskan meluruskan isu yang beredar. Isu yang memojokan dirinya. Isu yang seakan mengklaim dirinya menyetujui usulan suntikan modal, lewat Penyertaan Modal Negara (PMN) guna menyehatkan Jiwasraya saat itu.

“Memang, saya ingin bertanya itu. Apakah benar saya pernah menyetujui injeksi modal ke Jiwasraya pada 2012. Saya sendiri yakin tidak mungkin melakukan itu,” kata Dahlan seperti dikutip dari laman pribadinya, disway.id kemarin (29/12).

Baca Juga: https://fin.co.id/2019/12/28/neo-baru/

”Waktu itu memang ada usulan dari staf. Agar Jiwasraya disuntik modal. Tapi Pak Menterinya menolak usulan itu,” tulis Dahlan.

Lebih lanjut Abah-sapaan akrab Dahlan Iskan menegaskan, tidak menyetujui PMN untuk perusahaan pelat merah. Terkecuali, diperuntukkan bagi industri strategis di bawah Kementerian Pertahanan Negara (Kemenhan).

”SAYA ANTI PMN. KECUALI UNTUK INDUSTRI STRATEGIS DI BAWAH KEMENHAN,” TEGAS DAHLAN.

Meski tidak yakin, ketika menjabat sebagai Menteri BUMN, Dahlan beranggapan soal kemungkinan dirinya juga ikut percaya pada manipulasi laporan kinerja oleh direksi Jiwasraya.

”Tapi saya juga ragu jangan-jangan saya benar menyetujuinya. Saya sudah banyak lupa. Sejak tidak jadi menteri lagi saya ingin cepat move on ke dunia lama meski kenyataannya saya justru move in,” kata Dahlan.

ePaper Fajar Indonesia Network, Edisi 30 Desember 2019, Baca Epaper Gratis, Isyana Sarasvati, Hari Patah Hati Nasional Jilid 2, Novel Baswedan, Pelaku Penyiraman, Dahlan Iskan, Jiwasraya, Isyana Sarasvati Lamaran

“Muncul juga perasaan bersalah. Jangan-jangan saya dulu juga tertipu oleh direksi Jiwasraya. Kan personalnya masih yang sama,” sambung Dahlan.

Sampai-sampai, dirinya secara pribadi memuji kinerja memuaskan para direksi Jiwasraya yang saat itu yang dianggap bisa menyehatkan keuangan perseroan tanpa suntikan PMN.

Baca juga: https://fin.co.id/2019/12/27/goyang-saham-jiwasraya-dijual-murah/

“Saya mencoba menghubungi dirut lama itu. Yang pernah saya puji habis-habisan pada 2012 itu. Yang saat itu mampu mencari jalan keluar yang brilian. Selain injeksi modal yang saya pasti tidak setuju,” ungkapnya.

Ia menilai, saat itu manajemen lama Jiwasraya cukup mumpuni. Mencari jalan keluar dari kesulitan yang melilit perseroan. Padahal, beban Jiwasraya saat itu cukup berat.

”Ternyata ditemukan jalan lain. Alhamdulillah. Jiwasraya keluar dari kesulitan. Sampai-sampai saya menyebutnya ‘Jiwasraya telah merdeka’. Merdeka dari beban triliunan,” ucap Dahlan.

“Kebetulan saat itu menjelang 17 Agustus. Kata ‘merdeka’ lagi menggema di mana-mana. Tapi yang benar-benar merasakan arti merdeka adalah Jiwasraya,” imbuhnya.

Jika benar memang dirinya tertipu oleh paparan kinerja oleh manajemen Jiwasraya saat itu, Dahlan mengaku siap menerimanya. ”Apakah tidak mungkin saat itu saya pun tertipu oleh angka-angka yang dipaparkan direksi Jiwasraya? Saya begitu ingin tahu jawabnya. Saya siap menerima kabar buruk, bahwa saya pun tertipu,” ungkap Dahlan.

Publik telah mengetahui, Jiwasraya tengah menghadapi dua persoalan serius, yakni seretnya likuiditas perseroan sampai pada defisit kecukupan modal berdasarkan risiko perusahaan asuransi atau risk base capital (RBC).

Jiwasraya membutuhkan dana segar sebesar yang nilainya bisa menembus Rp16,13 triliun. Duit sebesar itu, demi meningkatkan likuiditas perusahaan hingga tahun depan.

Persoalan Jiwasraya dimulai dari produk asuransi bernama JP Saving Plan yang diluncurkan pada 2013. Ini adalah produk asuransi jiwa berbalut investasi yang ditawarkan melalui bank (bancassurance).

Produk Saving Plan ini mengawinkan produk asuransi dengan investasi seperti halnya unit link. Bedanya, di Saving Plan risiko investasi ditanggung oleh perusahaan asuransi, sementara risiko investasi unit link di tangan pemegang polis.

Ada tujuh bank yang menjadi penjual yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Standard Chartered Bank, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank QNB Indonesia, PT Bank ANZ Indonesia, PT Bank Victoria International Tbk (BVIC), dan PT Bank KEB Hana.

Total polis jatuh tempo atas produk ini pada Oktober-Desember 2019 ialah sebesar Rp12,4 triliun. Manajemen mengaku kesulitan keuangan yang disebabkan kesalahan investasi yang dilakukan oleh manajemen lama Jiwasraya.

Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga menyebut kepemilikan saham ABBA dilakukan melalui mekanisme pasar. Sehingga, siapa pun berhak membeli saham apapun, hal ini juga membuat perusahaan tidak mengetahui siapa saja yang memiliki saham tersebut.

”Meluruskan mengenai dia investasi di perusahaan Pak Erick, dia beli di market, kalau beli di market kan bebas kan beli dan jual. Bukan investasi gimana, dia bebas beli dan jual dan itu seperti di market,” kata Arya.

Arya menjelaskan pembelian saham ABBA oleh manajer investasi di Jiwasraya dilakukan 23 Januari 2014. Saham yang dibeli nilainya Rp14,9 miliar, dengan harga pembelian saham tersebut di level Rp95 per saham. Kemudian Jiwasraya menjual saham tersebut dua kali, pada 17 Desember 2014.

”Jadi enggak sampai setahun, dia jual sekitar Rp11 miliar (Saham ABBA), itu nilai harga per sahamnya Rp114, kemudian di hari yang sama jual Rp6 miliar lebih, itu dinilai harga per sahamnya Rp112. Jadi totalnya itu bedanya Rp2,8 miliar,” jelas Arya.

“Jadi Jiwasraya terbukti, dia jual dua kali di hari yang sama dengan dia membeli di market dan menjualnya lagi di market juga karena dijual pada hari yang sama, itu artinya dia beli di market dan jual di market, keuntungan Rp2,8 miliar, jadi untung Jiwasraya,” tegas Arya.

Dia mengatakan dengan membeli saham Mahaka Media, terbukti Jiwasraya mendapatkan keuntungan sekitar 18 persen dari saham tersebut.

”Jadi untuk membeli saham Mahaka, besaran persentase 18 persen lebih. Jadi bisa dibayangkan, enggak sampai setahun, ketika membeli saham Mahaka (untung 18 persen). Jadi Jiwasraya ketika membeli saham ABBA, itu beda dengan saham yang lain yakni saham gorengan. Ini beda karena tidak sampai setahun (untungnya, red) melebihi bunga bank, bahkan melebihi bunga JS Saving Plan mereka dan besarnya Rp2,8 miliar,” bebernya.

Selan itu, Jiwasraya juga diketahui melakukan ‘make up’ laporan keuangan. Hal ini dilakukan demi menjadi sponsor salah satu klub papan atas Liga Inggris, Manchester City padahal saat itu kondisi Jiwasraya sedang tidak baik. “Dikira bisa bayar padahal pakai uang nasabah,” kata Arya.

Biaya sponsorship Jiwasraya ke Manchester City sebesar Rp6 miliar per tahun sebelum pajak atau sekitar Rp7,5 miliar per tahun setelah pajak. Biaya souvenir logo Jiwasraya Rp1 miliar per tahun. Biaya kunjungan tim Manchester City Rp4 miliar dan biaya konsultan Rp1 miliar per tahun.

Sebagai informasi, kerja sama Jiwasraya dengan Manchester City dengan Jiwasraya selama empat tahun. Jadi total biaya yang dibayarkan Jiwasraya ditaksir Rp38 miliar.

Pengamat Kebijakan Publik Bambang Istianto mengatakan, anti klimaks kasus Jiwasraya bermuara pada tatakelola BUMN yang belum good coorporate governance (GCG).

Seperti diketahui, pemberitaan di seluruh media terjadinya skandal megakorupsi di perusahaan asuransi jiwasraya yaitu gagal bayar terhadap klaim nasabah sebesat Rp12,7 triliun. Nilai yang fantastik melebihi bank Century.

Tapi terhadap kasus ini DPR belum tampak akan mempansuskan Jiwasrayagate tersebut seperti dulu, terhadap bank Centurygate.

Baca Juga: https://fin.co.id/2019/12/24/pansus-jiwasraya-ditunggu-publik-gagasan-holding-hanya-dituding-kamuflase/

Padahal ketika tahun 2009 Jiwasraya telah dinyatakan sehat yang didera oleh krisis moneter 1998. Perusahaan ansuransi tersebut merangkak dengan pasti pada 2017 membukukan laba Rp2,3 triliun dan terkoreksi oleh OJK hanya laba Rp400 miliar.

Tapi tiba-tiba tahun 2018 menyatakan rugi puluhan trilun karena gagal bayar sebesar Rp12,7 triliun atas klaim nasabah JS living plan tersebut diatas.

Ekonom sangat paham, bahwa dalam mengelola BUMN sangat memegang prinsip GCG sebagai fatsun bagi manajemen agar kinerja profit yang tinggi dan perisahaan sehat tercapai setiap tahunnya.

“Artinya dalam praktek para direksi BUMN tersebut telah mengabaikan prinsip GCG. Padahal, jika prinsip transparansi, keadilan dan akuntabilitas dijalankan,” kata Bambang kepada Fajar Indonesia Network (FIN).

Demikian pula para pemangku kepentingan seperti manajemen, auditor dan OJK bekerja optimal dipastikan skandal gagal bayar dapat dicegah. Namun di lain pihak yang dilakukan para direksi Jiwasraya yang kurang cermat misalnya melakukan permainan saham seperti pembelian saham Semen Baturaja, PP Property dan Bank Jabar Banten. Dimana ketiga perusahaan tersebut posisi saat itu kinerjanya kurang bagus.

“Kejadian yang secara tiba-tiba tetsebut diatas pada akhirnya timbul spekulasi dan tudingan yakni untuk kepentingan politik tidak terhindarkan,” jelas Direktur Center of public policy studies (CPPS) Institut Stiami Jakarta ini.

Bahkan, lanjut Bambang beberapa tokoh profesional berani memastikan bahwa kasus Jiwasraya disebabkan oleh tiga hal yaitu pertama, pemimpinnya telah gila, terjadi stunami ekonomi dan perampokan oleh yang punya otoritas.

”Untuk membuktikan sinyalemen tersebut kasus jiwasraya segera diusut tuntas. Demikian pula tudingan juga menyasar kepada peristiwanya terjadi pada tahun 2018 menjelang tahun politik maka publik menilai bahwa telah terjadi ‘perampokan’ pada perusahaan asuransi tersebut,” pungkas Wakil Ketua Asosiasi Ilmuan Administrasi Negara itu. (dim/fin/ful)

  • Dipublish : 30 Desember 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami