Ditetapkan Menjadi Tersangka, Surat Pengunduran Diri Wahyu Setiawan Sudah Dikirim ke Presiden Jokowi

ILUSTRASI: KPU mengirimkan surat pengunduran diri Wahyu Setiawan sebagai Komisioner KPU ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
ILUSTRASI: KPU mengirimkan surat pengunduran diri Wahyu Setiawan sebagai Komisioner KPU ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA,– Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Viryan Aziz telah mengirimkan surat pengunduran diri koleganya Wahyu Setiawan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hal ini dikatakan Viryan ‎setelah Wahyu Setiawan ditetapkan menjadi tersangka kasus suap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sehingga Wahyu Setiawan resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Komisioner KPU. “Jadi surat sudah diantar ke Presiden Jokowi pagi tadi,” ujar Viryan saat dihubungi, Senin (13/1).

Sebelumnya, ‎Ketua KPU Arief Budiman mengatakan pihaknya telah menerima surat penguduran diri dari keluarga Wahyu Setiawan. Surat yang diterima KPU adalah pengunduran diri Wahyu Setiawan sebagai Komisioner KPU. “Pak Wahyu Setiawan sudah membuat surat pengajuan pengunduran diri yang ditujukan kepada presiden dan diberitahukan kepada KPU,” ujar Arief di Kantor KPU, Jakarta, Jumat (10/1).

Berikut ini isi surat pengunduran diri yang ditulis Wahyu Setiawan pada 10 Januari 2020 lengkap dengan tanda tangan dan ‎materi.

“Dengan penuh kesadaran diri tanpa ada paksaan dari manapun dan oleh siapapun, dengan surat ini saya menyatakan mengundurkan diri sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia masa jabatan 2017-2022. Surat ini berlaku sejak tanggal saya mendatanganinya. Demikian surat pengunduran diri ini dibuat untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya,” bunyi surat Wahyu Setiawan.

Sekadar informasi, KPK menetapkan Komisioner KPU Wahyu Setiawan ebagai tersangka suap pengurusan Pergantian Antarwaktu (PAW) anggota DPR. Meski kalah jumlah suara di Pemilu 2019, Caleg PDIP Harun Masiku (HAR) ingin dilantik dengan cara menyuap Wahyu. Untuk muluskan niat jahat itu, Wahyu diduga meminta Rp 900 juta.

Kasus ini bermula ketika almarhum Nazarudin Kiemas di Dapil Sumsel I menang sebagai anggota DPR. Karena sudah meninggal, suara kedua terbanyak yakni Riezky Aprilia yang dilantik jadi anggota legislatif oleh KPU. Di sini Harun Masiku menyuap Wahyu Setiawan.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan empat orang tersangka yaitu Wahyu Setiawan, Agustiani Tio Fridelina sebagai orang kepercayaan Wahyu Setiawan dan juga mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu, Harun Masiku sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari PDIP, dan Saeful sebagai swasta. Wahyu dan Agustiani ditetapkan sebagai tersangka penerima suap, sedangkan Harun dan Saeful sebagai tersangka pemberi suap.

Pemberian suap untuk Wahyu itu diduga untuk membantu Harun dalam Pergantian Antar Waktu (PAW) caleg DPR terpilih dari Fraksi PDIP yang meninggal dunia yaitu Nazarudin Kiemas pada Maret 2019. Namun dalam pleno KPU pengganti Nazarudin adalah caleg lainnya atas nama Riezky Aprilia. Wahyu Setiawan diduga menerima duit Rp 600 juta terkait upaya memuluskan permintaan Harun Masiku untuk menjadi anggota DPR PAW. Duit suap ini diminta Wahyu Setiawan dikelola Agustiani Tio Fridelina. (jp)

  • Dipublish : 13 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami