Djoko Tjandra Akui Bagi-Bagi Duit Agar Status Red Notice Dihapus

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Gelimang uang dimanfaatkan Djoko Tjandra untuk sogok sana sogok sini. Dengan uang hasil kejahatannya, terpidana kasus cessie (pengalihan hak tagih) Bank Bali itu berkali-kali lolos dari bidikan aparat. Dia kini memang telah mendekam dalam penjara. Namun, aksi bagi-bagi duit haram tersebut terus dilacak polisi.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Awi Setiyono menuturkan, Djoko kembali diperiksa sejak pukul 10.00 kemarin. Ada 55 pertanyaan yang diajukan. ’’Yang bisa saya sampaikan terkait aliran dana atau suap ke beberapa tersangka lain,’’ jelasnya. Dalam pemeriksaan itu, Djoko mengaku telah memberikan uang kepada tersangka lain dalam kaitan pencabutan red notice. Setelah status red notice itu hilang dari system data Interpol, Djoko bisa bebas keluar masuk Indonesia.

Saat memeriksa Djoko, penyidik menghadirkan sejumlah barang bukti yang telah disita. Penyidik terus mengejar kapan, di mana, dan kepada siapa saja duit haram itu dibagikan.

Namun, Awi tidak bisa menyampaikan semuanya ke publik. ’’Terutama terkait nominalnya. Yang pasti diakui bahwa dia memberikan uang sebanyak nominal tertentu ke tersangka,’’ tuturnya. Meski demikian, sebelumnya beredar kabar bahwa mantan Karokorwas PPNS Bareskrim Brigjen Prasetijo diduga menerima USD 20 ribu. Namun, nominal pemberian terhadap mantan Kadiv Hubungan Internasional Irjen Napoleon Bonaparte belum diketahui. Yang jelas, dua petinggi Polri itu kini telah ditetapkan sebagai tersangka.

Kemarin penyidik juga memanggil Tommy Sumardi, pengusaha yang menjadi rekan bisnis Djoko Tjandra. Tapi, Tommy tidak hadir dengan alasan sakit. ’’Pengacaranya yang hadir ke Bareskrim dan meminta penundaan pemeriksaan Selasa (25/8). Kita tunggu ya,’’ ujarnya. Tommy juga ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap dalam kasus hilangnya red notice Djoko Tjandra.

Polisi juga memeriksa tersangka Anita Kolopaking, kuasa hukum Djoko Tjandra. ’’Kami periksa sebagai saksi mahkota untuk tersangka lainnya,’’ tuturnya dalam konferensi pers di Mabes Polri kemarin.

Awi juga menjelaskan terkait dengan penyidik yang tidak hadir dalam sidang gugatan praperadilan yang diajukan Anita Kolopaking. Menurut dia, penyidik belum bisa hadir karena belum ada surat penunjukan dari divisi hukum. ’’Minggu depan setelah ada surat resmi penunjukan itu, pasti hadir,’’ katanya. (jp)

  • Dipublish : 25 Agustus 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami