Donald Trump Salahkan Barack Obama

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyalahkan kesepakatan nuklir yang ditandatangani pendahulunya, Presiden Barack Obama, yang disebut berkontribusi pada tindak kekerasan yang dilakukan Iran saat ini. Bahkan ia menyebut, kesepakatan nuklir itu telah membantu mendanai aksi-aksi kekerasan Iran.

Seperti dilansir Associated Press, Kamis (9/1), Trump dalam pidato terbarunya menanggapi serangan rudal Iran dan menyinggung soal kesepakatan nuklir yang disebut Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang ditandatangani Iran dengan negara kekuatan dunia tahun 2015.

AS yang saat itu di bawah Obama turut menandatangani JCPOA, yang isinya mengatur pembatasan program nuklir Iran dan mencabut sanksi-sanksi terhadap Iran.

“Permusuhan Iran meningkat secara substansial setelah kesepakatan nuklir Iran yang bodoh ditandatangani. Dan mereka (Iran-red) diberi USD150 miliar, belum lagi USD1,8 miliar secara tunai,” sebut Trump dalam pernyataannya, Kamis (9/1)

Pernyataan Trump soal dana USD150 miliar ini tidak sesuai fakta, karena menurut Associated Press, tidak pernah ada pembayaran sebesar itu dari Departemen Keuangan AS maupun dari negara lainnya terhadap Iran.

Faktanya, ketika Iran menandatangani kesepakatan multinasional tahun 2015, negara itu kembali mendapatkan akses pada aset-asetnya yang dibekukannya di luar negeri. Dengan kata lain, Iran mendapatkan kembali uangnya setelah menandatangani JCPOA.

Kemudian soal dana tunai USD1,8 miliar, uang tersebut adalah pembayaran IOU (dokumen informal soal utang) dari Departemen Keuangan AS. Jadi tahun 1970-an silam, Iran telah membayar USD400 juta untuk perlengkapan militer yang tidak pernah diantarkan karena pemerintahan lengser dan hubungan diplomatik terputus.

Setelah JCPOA ditandatangani, AS dan Iran mengumumkan keduanya telah menyelesaikan persoalan itu. AS sepakat membayar kembali USD400 juta beserta bunganya sebesar USD1,3 miliar. Dana USD400 juta dibayarkan secara tunai dengan uangnya diterbangkan dengan pesawat kargo ke Teheran. Pengaturan pembayaran bunga disepakati untuk dibayarkan kemudian.

Hal itu sebelumnya sempat dikomentari Trump, yang menyebut uang-uang dimasukkan ke dalam barel atau peti dan diantarkan tengah malam buta.

Menurut Trump, dalam pernyataan terbaru, dana yang didapat Iran usai kesepakatan nuklir ditandatangani, telah digunakan untuk membiayai aksi terorisme di berbagai negara.

“Bukannya mengucapkan terima kasih kepada Amerika Serikat, mereka (Iran-red) meneriakkan ‘Matilah Amerika’. Faktanya, mereka meneriakkan ‘Matilah Amerika’ pada hari kesepakatan itu ditandatangani. Kemudian Iran melanjutkan aksi teroris yang didanai uang dari kesepakatan itu dan menciptakan neraka di Yaman, Suriah, Lebanon, Afghanistan dan Irak,” tutur Trump menuduh.

Namun terlepas dari tuduhan itu, Trump mengindikasikan bahwa AS tidak akan melancarkan aksi militer lanjutan setelah dia memastikan tidak ada personel militer AS yang menjadi korban serangan rudal Iran pada Rabu (8/1) dini hari waktu setempat.

“Iran harus meninggalkan ambisi nuklirnya dan mengakhiri dukungan terhadap terorisme,” ujarnya.

“Saatnya telah tiba bagi Inggris, Jerman, Prancis, Rusia dan Cina untuk mengakui kenyataan ini. Mereka sekarang harus melepaskan diri dari sisa-sisa kesepakatan Iran atau JCPOA. Dan kita semua harus bekerja bersama dalam membuat kesepakatan dengan Iran yang membuat dunia menjadi tempat lebih aman dan lebih damai,” imbuhnya.

“Kita juga harus membuat kesepakatan yang memungkinkan Iran untuk berkembang dan makmur, dan merasakan keuntungan dari potensi besar yang belum dimanfaatkan. Iran bisa menjadi negara hebat. Perdamaian dan stabilitas tidak akan menang di Timur Tengah selama Iran terus memicu kekerasan, kerusuhan, kebencian dan perang,” pungkasnya. (der/ap/fin)

  • Dipublish : 10 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami