DPR Tawarkan Ide Pulihkan Pariwisata Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Anggota Komisi X DPR RI Abdul Hakim Bafagih merekomendasikan empat gagasan dalam pemulihan pariwisata Indonesia. Dalam usulan yang disebutnya sebagai bagian dari #AHBinitiative untuk masa depan pariwisata Indonesia, Hakim menyarankan agar Indonesia serius membangun big data di sektor pariwisata.

“Tujuannya adalah mengatasi masalah akurasi real time database pariwisata karena ini selalu menjadi persoalan di periode-periode sebelumnya. Kita masih belum memiliki data real time yang mudah diakses,” kata Hakim.

Hakim mengatakan, survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) maupun beberapa hotel dinilai belum optimal. Ia ingin data wisatawan bisa diperoleh secara menyeluruh baik dalam negeri maupun luar negeri.

Selain data wisatawan, politikus PAN ini menuturkan big data juga akan mengumpulkan informasi pelaku pariwisata hingga pihak terkait (stakeholder). Dengan demikian, pemerintah bisa dengan mudah memberikan bantuan kepada pelaku pariwisata.

Big data juga berguna untuk memetakan keramaian pariwisata. Pemerintah bisa melihat daerah mana yang pariwisatanya perlu perbaikan maupun promosi demi menggenjot nilai pariwisata daerah. Dengan demikian negara bisa menentukan target pencapaian dalam dunia pariwisata.

“Yang terakhir kita juga bisa menentukan program, kita bisa menentukan goals,” kata Hakim.

Gagasan kedua adalah Indonesia Tourism Fund. Ini supaya Indonesia memiliki dana talangan saat menghadapi krisis seperti Covid-19. Ia berpendapat, sumber dana bisa dari tourism unicorntourism investment dan dari para turis itu sendiri. Kementerian Pariwisata berperan untuk mengatur besaran dana dan mengelola dana tersebut.

“Jadi kementerian ini merumuskan regulasi pengelolaan dana CSR, besarannya berapa kemudian nanti ditaruh di mana dan cara bagaimana, termasuk ada sistem digital dalam pengelolaan dana CSR ini,” katanya.

Ketiga adalah sertifikasi destinasi new normal. Hakim berpendapat, masyarakat saat ini mencari tempat pariwisata yang aman dari penyakit, termasuk Covid-19. Oleh karena itu, Hakim menyarankan agar ada tim kurasi yang menilai dan memberikan sertifikat rekomendasi daerah tersebut layak dikunjungi dan aman bagi wisatawan.

“Ketika sudah dikurasi, diterbitkan regulasinya dan kalaupun ternyata perlu dibikin lembaga dalam melakukan ini, bikinlah lembaga sertifikasi destinasi,” kata Hakim.

Terakhir, keempat adalah pembangunan super apps wisata Indonesia. Aplikasi ini diharapkan membantu para wisatawan dalam negeri maupun luar negeri saat berwisata. Aplikasi ini juga akan berisi fitur bantuan apabila wisatawan mengalami masalah, termasuk saat menerapkan protokol kesehatan baru.

“Nanti yang terakhir adalah marketplace supply and demand. Ketemu semuanya. Itu masukan dari kami terkait solusi untuk pemulihan di bidang pariwisata,” kata Hakim. (jp)

  • Dipublish : 4 Juli 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami