Dukung PTM 100 Persen, KPAI Beri Catatan Agar Pelaksanaannya Sukses

ilustrasi. Pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen di SDN Pondok Labu 01, Jakarta Selatan,  (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
ilustrasi. Pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen di SDN Pondok Labu 01, Jakarta Selatan, (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jaringanmedia.co.id – Pembelajaran tatap muka (PTM) secara penuh sudah mulai dilaksanakan pada semester genap tahun akademik 2021/2022, tepatnya mulai Januari 2022 pada wilayah PPKM level 1 sampai 3. Sekolah tatap muka tersebut dilakukan dengan mengikuti aturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah.

Adapun aturan yang perlu diikuti adalah terkait dengan pencapaian vaksinasi bagi pendidik dan tenaga kependidikan, peserta didik serta masyarakat lanjut usia sebagai persyaratan PTM. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan Retno Listyarti pun menyampaikan bahwa mendukung hal ini.

“KPAI mendukung hal tersebut, karena sejak awal pembukaan PTM terbatas, KPAI sudah menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah agar vaksinasi anak di percepat dan pencapaian vakinasi peserta didik dijadikan persyaratan penyelenggaraan PTM, yaitu minimal 70 persen warga sekolah sudah di vaksin,” ujar dia dikutip, Rabu (5/1).

Adapun soal PTM terbatas yang telah dimulai sejak Januari 2021 ini, KPAI juga telah melakukan pemantauan di sejumlah sekolah pada 8 Provinsi, yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat.

“Pengawasan PTM ini dilakukan dalam upaya memastikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak-anak di masa pandemic Covid-19. Khususnya di kluster pendidikan,” jelas dia.

Adapun sekolah dan madrasah yang di pantau langsung sepanjang tahun 2021 berjumlah 72 sekolah/madrasah dengan rincian 24 (33,80 persen) SMA/MA baik negeri maupun swasta, 11(15,50 persen) SMK Negeri, 23 (32,40 persen) SMP/MI negeri dan swasta, 13 (18,06 persen) SD/MI negeri dan swasta.

Retno pun memberikan catatan sebagai dasar kehati-hatian dalam menggelar PTM 100 persen. Perubahan perilaku dalam disiplin 3M yang masih belum maksimal, dan pencapaian vaksinasi anak yang masih rendah harus menjadi perhatian.

Untuk indikator kesiapan sekolah yang sudah menyelenggaraan PTM terbatas dengan kategori cukup, baik dan sangat baik mencapai 79,17 persen. Sedang sisanya, yaitu kategori kurang dan sangat kurang mencapai 20,83 persen.

Artinya, dengan kondisi belum siap, ternyata sekolah tetap menggelar tatap muka. Meskipun ketidaksiapan itu di antaranya adalah belum dibuatnya SOP (standar operasional Prosedur) dalam berbagai layanan saat PTM terbatas.

Perhatian selanjutnya adalah pelanggaran protokol kesehatan 3M, seperti masker yang diletakan di dagu, masker yang digantungkan di leher, tempat cuci tangan yang tidak disertai air mengalir dan sabun, bahkan ada sebagian guru dan siswa tidak bermasker saat berada di lingkungan sekolah.

Bahkan ada SD yang memiliki tempat cuci tangan di setiap depan kelas, namun saat KPAI datang dan duduk di dekat pintu gerbang sekolah, tak ada satu pun peserta didik dan pendidik yang mencuci tangan saat tiba di sekolah.

Ada juga sekolah yang mayoritas siswanya melepas masker saat tiba di sekolah. Saat diwawancara, anak-anak mengatakan mereka memakai masker saat diperjalanan pergi dan pulang sekolah. Ada pemahaman yang salah terkait fungsi masker yang disamakan dengan helm.

KPAI juga menemukan bahwa ada sekolah-sekolah yang pernah menjadi klaster atau setidaknya pernah ditutup sementara karena ada warga sekolah yang terinfeksi Covid-19 dari klaster sekolah. Dari hasil pengawasan PTM, klaster sekolah muncul karena ada pengabaian, antara lain melepas masker dalam ruangan, tidak enak badan tetapi tetap datang ke sekolah untuk PTM, dan warga sekolah yang belum di vaksin, karena ada sebagian kasus peserta didik dan pendidik yang terkonfirmasi covid-19 ternyata belum divaksinasi.

“Apalagi peserta didik usia TK dan SD, selain belum divaksin, perilaku anak-anak usia itu cenderung sulit dikontrol,” ucap Retno.

Perihal vaksinasi, ternyata antusiasme mendapatkan vaksin Covid-19 sangat tinggi. Hasil ini juga sejalan juga dengan data hasil survei KPAI pada Juli 2021, dari 62.262 responden anak yang mengisi survei singkat KPAI tentang vaksinasi anak usia 12-17 tahun, ternyata 88 persen responden bersedia di vaksin, 9 persen ragu-ragu dan yang menolak hanya 3 persen.

“Percepatan dan pemerataan vaksinasi anak usia 6-11 tahun dan usia 12-17 tahun perlu percepatan dan pemerataan, apalagi 3 Januari 2022 PTM akan digelar 100 persen di seluruh wilayah Indonesia yang berada di level PPKM 1 sampai 3,” tandasnya. (Jpc/jm)

  • Dipublish : 5 Januari 2022
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami