Ekonomi Era Digital Dorong Investor Asing ke Indonesia

Ilustrasi konsumen digital.
Ilustrasi konsumen digital.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA,- Perkembangan ekonomi digital di Tanah Air cukup tumbuh secara signifikan. Hal itu dianggap bisa mendorong investor asing untuk menanamkan modalnya ke Indonesia.

Hal itu disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara. Dia meyakini di tengah situasi perekonomian yang tidak menentu, dengan ekonomi digital yang tumbuh bisa membantu menggeliatkan investasi di dalam negeri.

“Seperti kita ketahui, ekonomi Indonesia dan dunia saat ini mulai kontraksi. Karena pertumbuhannya diproyeksikan tidak mencapai sesuai yang diharapkan dari semula,” ujar Rudiantara di Jakarta, Minggu (13/10).

Menteri yang disapa Chief RA itu meyakini kegairahan ekonomi digital yang dirasakan saat ini dapat membantu perekonomian Indonesia yang saat ini digoyang perang dagang Amerika Serikat dan Cina, dan juga adanya dinamika ekonomi.

“Confidence dari investor internasional meningkat di ekonomi global. Despite kita secara ekonomi keseluruhan masuk ke era kontraksi. Jadi ekonomi digital yang kita dorong untuk kemudahan investasi,” jelas dia.

Dia mencontohkan, ada lima startup lokal yang berstatus unicorn yang ikut berkontribusi mendorong investor asing ke Indonesia yakni Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, Ovo, dan Gojek. Hingga akhir tahun ini, dia berharap akan ada lahir unicorn baru.

“Artinya proyeksi yang dibuat dulu oleh pemerintah beserta teman-teman ekosistem untuk lima unicorn Alhamdulillah sudah tercapai. Harapannya akhir tahun nambah lagi. Bahkan bonusnya sudah ada decacorn satu (Gojek),” kata dia.

Dia memastikan staturp di Indonesia berkembang pesat. Sebab pasar Indonesia sebanyak 270 juta masyarakat membutuhkan startup lebih banyak dari lima yang sudah ada. Karena itu, potensi berkembang sangat besar.

“Pasar Indonesia dengan 270 juta masyarakat tidak bisa dilayani sepenuhnya hanya oleh segelintir atau sedikit sistem pembayaran yang ada sekarang,” ucapa dia.

Terpisah, Joint Head, Investment Group, Temasek di Google Indonesia, Rohit Sipahimalani mencatat, ekonomi digital Indonesia tahun ini mencetak 40 miliar dolar AS atau setara Rp556,6 triliun. Angka itu tertinggi di Asia Asia Tenggara Tahu ini, mengalahkan Thailand 16 miliar dolar AS, Singapura 12 dolar AS, Vietnam 12 dolar AS, Malaysia 11 miliar dolar AS, dan Filipina 7 miliar dolar AS.

Dia optimis bila melihat capaian itu, maka tahun 2025 ekonomi digital Indonesia pun akan terus meroket hingga 133 miliar dolar AS. Angka itu jauh di atas runner-up di ASEAN, yakni Thailand dengan ekonomi digital sebesar 50 miliar dolar AS di tahun 2025.

“Kami melihat banyak potensi dalam ekonomi digital Indonesia. Populasi anak muda digital native yang sangat aktif menjadi faktor kunci dalam perkembangan ekonomi mereka,” ujar Rohit.

Sementara Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda menilai, Indonesia daya saing Indonesia kalah dengan negara lain, termasuk negara ASEAN karena lemahnya teknologi dan inovasi.

“Saya rasa Pak Rudiantara (Menkominfo) mau menjual prestasinya namun hasil di lapangan berkata lain. Peringkat Indonesia turun daya sainnya, salah satunya karena faktor kesiapan dan inovasi. Itu jadi bukti teknologi Indonesia belum dikatakan baik,” ujar Huda kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Minggu (13/10).

 

(fin)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 14 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami