Ekonomi Mulai Pulih, Impor September Naik 40,31 Persen

Perajin memproses pembuatan tahu di kawasan Juanda Depok, Jawa Barat, Kamis (26/11). Bahan baku tahu, kedelai, masih impor. (Salman Toyibi/Jawapos)
Perajin memproses pembuatan tahu di kawasan Juanda Depok, Jawa Barat, Kamis (26/11). Bahan baku tahu, kedelai, masih impor. (Salman Toyibi/Jawapos)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jaringanmedia.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor Indonesia pada September 2021 mencapai USD 16,23 miliar. Angka tersebut turun sebesar 2,67 persen dibandingkan Agustus 2021. Namun, naik sebesar 40,31 persen dibandingkan September 2020.

Kepala Badan Pusat Statistik Margo Yuwono mengatakan, penurunan impor tersebut terdiri dari nilai impor migas September 2021 senilai USD 1,86 miliar. Angka tersebut turun 8,9 persen dibandingkan Agustus 2021. Tetapi, naik 59,15 persen dibandingkan September 2020.

Sedangkan impor nonmigas September 2021 senilai USD 14,37 miliar. Angka tersebut turun 1,8 persen dibandingkan Agustus 2021. Namun naik 38,18 persen dibandingkan September 2020.

“Dari Agustus 2021 impor pada September 2021 turun 2,67 persen. Nonmigas turun 8,9 persen dan migas turun 1,8 persen,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Jumat (15/10).

Margo memaparkan, penurunan impor golongan barang nonmigas terbesar September 2021 dibandingkan Agustus 2021 adalah mesin atau perlengkapan elektrik dan bagiannya USD 122,8 juta (6,56 persen). Sedangkan peningkatan terbesar adalah bahan bakar mineral USD 276,7 juta (219,54 persen).

Adapun tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari hingga September 2021 adalah Tiongkok USD 39,12 miliar (32,07 persen), Jepang USD 10,42 miliar (8,54 persen), dan Thailand USD 6,55 miliar (5,37 persen). Kemudian dari ASEAN USD 21,33 miliar (17,49 persen) dan Uni Eropa USD 7,78 miliar (6,38 persen).

“Menurut golongan penggunaan barang, nilai impor Januari hingga September 2021 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya terjadi peningkatan pada barang konsumsi USD 3.498,3 juta (32,99 persen), bahan baku atau penolong USD 28.926,8 juta (37,97 persen), dan barang modal USD 3.110,7 juta (18,42 persen),” pungkasnya. (jpc/jm)

  • Dipublish : 15 Oktober 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami