Ekspor Karet Anjlok Akibat Ekonomi Global Melambat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Di tengah kondisi perekonomian global yang melambat, dan ditambah perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat yang tak kunjung mereda, menyebabkan sektor non migas seperti karet menurun drastis.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah menilai kondisi demikian akan terus berlanjut hingga tahun depan, di mana resesi atau kemerosotan ekonomi di beberapa negara bisa menurunkan pertumbuhan ekonomi, termasuk di Indonesia. Bahkan saat ini sudah ada yang kena resesi.

“Saya kira ke depan dengan kondisi global yang masih dalam tren perlambatan, maka permintaan dan harga karet masih akan rendah. Sehinga sulit untuk mendorong ekspor karet ketika permintaan dan harga global masih terus rendah,” ujar Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (3/10).

Tak hanya itu, menurut Piter, persoalan lainnya adalah pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen terhadap produk perkebunan membuat tekanan terhadap ekspor karet semakin besar.

“Dengan adanya PPN, ekspor maka kecenderungannya akan dibebankan ke petani di mana harga di tingkat petani akan lebih rendah. Kalau kondisi ini terus terjadi produksi juga akan menurun. Ekspor karet akan semakin turun,” kata dia.

Terpisah, Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo), Azis Pane memperkirakan kinerja ekspor karet dan barang karet masih akan melandai pada kuartal IV tahun 2019. Hal itu karena kinerja pertumbuhan global yang melambat, khususnya Jepang dan Cina.

Saat ini, kata dia, kinerja manufaktur Jepang terkoreksi sangat signifikan, yakni hingga 1,2 persen, sehingga memengaruhi permintaan bahan baku untuk produksi otomotif. Tak hanya Jepang, lanjut dia, Cina juga pertumbuhannya ekonominya turun hingga 5 persen.

“Artinya permintaan ekspor tidak akan tumbuh secara signifikan, bahkan ada potensi resesi,” ujar dia, kemarin (3/1).

Dia juga mengingatkan kepada pemerintah dengan kabinet yangh baru agar memenuhi usulannya dalam penghapusan PPN 10 persen. Karena PPN 10 persen juga sebagai penghambat ekspor.

“Kami minta penghapusan PPN 10 persen dan belum direalisasikan,” ucap dia.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Januari – Agustus 2019 nilai ekspor karet dan barang dari karet mencapai 4,13 dolar AS miliar. Realisasi itu menurun sekitar 6,25 persen, karena pada periode yang sama tahun lalu nilai ekspornya mencapai 4,40 miliar dolar AS. (fin)

  • Dipublish : 4 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami