Euforia Sinovac, LBM Eijkman Juga Kembangkan Bibit Vaksin Virus Korona

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Pemerintah menargetkan vaksin virus Korona dari Tiongkok, Sinovac, selesai melewati fase 3 pada Januari 2021. Saat itu jika semuanya sudah dipastikan aman, maka vaksin siap diproduksi masal. Kabar ini memberi harapan bagi masyarakat untuk bisa mendapatkan kekebalan buatan dalam melawan virus Korona.

Sebetulnya tak hanya Sinovac sebagai kandidat vaksin satu-satunya di dunia. Ada beberapa negara yang sedang mengembangkan vaksin. Di Indonesia, para peneliti di Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman dalam program riset genome sequencing SARS-CoV-2 sedang meneliti karakter virus.

Informasi tentang karakteristik virus ini sangat penting. Karena akan menentukan apakah vaksin bisa memberikan rangsangan terbentuknya antibodi yang cocok.

“Ada 6 platform sebetulnya, lalu juga ada sub unit protein. Dan proses ini memang memerlukan informasi karakter virus tersebut. Berbeda jika kita hanya mematikan virusnya atau dilemahkan. Teknologi DNA, RNA, sub unit protein itu sangat nemerlukan informasi karakter virus tersebut,” kata Ilmuwan bidang biologi molekuler yang juga menjadi salah satu pendiri LBM Eijkman Indonesia dan saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala bidang Riset Fundamental, LBM Eijkman Prof. Herawati Sudoyo, PhD, dalam konferensi pers virtual bersama L’Oreal Indonesia, Jumat (24/7).

Lalu apa peran LBM Eijkman? Pihaknya tidak membuat vaksin. LBM Eijkman bekerja sama dengan industri. Salah satunya adalah membuat bibit vaksin.

“Industri dalam negeri adalah Biofarma. Yang kami buat adalah seed. Bibit vaksin yang akan diperbanyak di industri yang aka diujicobakan ke uji klinik,” jelasnya.

“Sedangkan Sinovac itu adalah virus yang tadi dimatikan. Sinovac bekerja sama dengan Biofarma, tapi sudah langsung maju ke uji klinik dengan langkah yang besar,” tambahnya.

Oleh karena itu, LBM Eijkman juga tetap berjalan dengan bibit vaksinnya. Sinovac juga sedang dalam tahap fase 3.

“(Sinovac) berbeda dengan kami, masing-masing berbeda. Enggak masalah, siapa yang duluan itu yang kita pakai. Karena ini adalah kebutuhan jangka panjang yang harus kita miliki,” tandas Prof Herawati. (jp)

  • Dipublish : 25 Juli 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami