Evaluasi Simulasi Tatap Muka secara Berkala

Pakar Pendidikan UNS Joko Nurkamto. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
Pakar Pendidikan UNS Joko Nurkamto. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh: Joko Nurkamto

WACANA simulasi tatap muka menjadi angin segar untuk mengembalikan kualitas dunia pendidikan. Namun, bagi daerah yang menerapkan ini syaratnya bukan zona merah. Kemudian dalam penerapan harus dilakukan dengan protokol kesehatan dan pengawasan yang ketat.

Misalnya dalam satu kelas ada 30 anak. Sekolah bisa memasukkan setengahnya agar jarak antarsiswa bisa dijamin minimal 1 meter. Lebih mudah sekolah bisa memasukkan dengan sistem ganjil genap dan bergilir. Dengan metode belajar kombinasi daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan). Selain itu, pemerintah juga perlu memperhatikan jam belajar di sekolah.

Pembelajaran mata pelajaran bisa dikurangi agar waktu tidak full seperti hari biasa. Diusahakan sebelum Duhur anak sudah pulang. Tujuannya agar anak dan guru tidak lelah dan suasana tidak crowded di sekolah. Dalam pengaplikasiannya perlu evaluasi berkala secara menyeluruh.

Sarana dan prasarana kesehatan di sekolah juga perlu diperhatian. Di mana anak wajib menjaga jarak, bermasker dan sekolah menyediakan hand sanitizer, tempat cuci tangan dengan air mengalir, sabun dan tisu untuk mengeringkan. Sekolah tidak boleh menggunakan serbet sebagai pengering tangan. Sebab penggunaannya akan bergantian.

Dalam situasi pandemi harus memilih skala prioritas. Apakah memprioritaskan keselamatan atau pembelajaran. Dalam situasi ini tidak bisa jalan bersama. Jika pandemi sudah mereda, simulasi bisa dicoba.

Dan, harus ada evaluasi untuk berbagai pihak dan menyeluruh. Evaluasi baik guru dan murid dalam pembelajaran. Jika simulasi sebulan berjalan baik dan bisa diteruskan, harapannya pada awal tahun depan bisa tatap muka secara efektif. Semester ini semester transisi.

Joko tidak memungkiri jika kualitas pendidikan menurun dan sangat berimbas. Apalagi siswa sudah belajar daring enam bulan lamanya. Dan pembelajaran tatap muka dinilai lebih efektif dibandingkan pembelajaran daring.

Dari segi kualitas pembelajaran jelas sekali jauh dari situasi normal. Bagaimanapun tatap muka di kelas jauh lebih efektif daripada online. Karena tatap muka bisa bertemu dan interaksi langsung sehingga lebih efektif. Hubungan emosional guru dan siswa juga terjaga. Sedangkan daring otomatis guru kurang bisa memantau.

Sedangkan dalam kualitas penyerapan materi, tatap muka memudahkan siswa dan guru untuk berdiskusi. Guru bisa memonitor siswa sekaligus memberikan feedback. Dengan begitu kualitas pembelajaran dan transfer materi lebih baik. Selain itu, dalam struktur pembelajaran tatap muka jelas tidak menemui gangguan.

Sementara ketika daring, tidak sedikit ada temuan gangguan. Misalnya masalah koneksi internet tersendat. Ini jelas menghambat transfer materi. Termasuk gangguan di rumah itu sendiri. Bisa karena bising, terganggu perasaan, tidak membantu orang tua, dan lainnya. Otomatis secara psikologis siswa tidak nyaman. Alhasil situasi di rumah tidak kondusif dan jauh tidak efektif daripada di sekolah.

Setelah enam bulan daring, anggap saja semester ini sebagai semester transisi. Simulasi ini bisa menjadi angin segar di dunia pendidikan. Terutama dalam memperbaiki kualitas yang menurun akibat pandemi. Namun, syaratnya tetap selain zona merah. Ini demi keselamatan bersama. (seperti disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Solo Ragil Listiyo)

  • Dipublish : 27 Agustus 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami