Faktor Global Kerek Harga Kedelai

Ilustrasi
Ilustrasi
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Kenaikan harga kedelai dikeluhkan para pengusaha tahu tempe skala kecil. Mereka akhirnya memilih untuk mogok massal.

Tercatat, saat ini harga kedelai impor mencapai Rp9.200 hingga Rp10.000 per kilogram (kg). Dari sebelumnya berkisar Rp6.500 sampai Rp7.000 per kg.

Melambungnya harga kedelai, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Syailendra mengatakan, kenaikan bukan disebabkan karena stok yang menipis. Karena, stok kedelai masih sangat mencukupi.

“Stok kedelai untuk industri tahu tempe masih mencukupi untuk dua atau tiga bulan ke depan,’’ ujarnya, kemarin (3/1).

Ia menjelaskan, kenaikan harga kedelai disebabkan faktor global. Kenaikan tersebut berdampak pada harga kedelai impor ke Indonesia.

“Kita pastikan stok aman, tapi harga merangkak naik dan bangkan sudah dari Juli dan Desember penyesuaian lagi,’’ paparnya.

Lanjut ia, kondisi harga kedelai di dunia memang sedang tinggi. Nah, mau tidak mau terjadi penyesuaian harga untuk tahu dan tempe.

“Kondisi di dunia segitu harganya. Harga (kedelai) penyesuaian, maka otomatis akan ada kenaikan (harga) tahu dan tempe. Jadi ini murni karena harga bahan baku dunia yang naik. Stok aman kita jamin,” tegasnya.

Selain itu, Kementerian Perdagangan mencatat faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia adalah lonjakan permintaan kedelai dari Cina kepada AS selaku eksportir kedelai terbesar dunia.

Pada Desember 2020, permintaan kedelai Cina naik dua kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton.

“Untuk itu perlu dilakukan antisipasi pasokan kedelai oleh para importir karena stok saat ini tidak dapat segera ditambah mengingat kondisi harga dunia dan pengapalan yang terbatas,” jelasnya.

Sementara itu, Kementerian Koperasi dan UKM tengah melakukan koordinasi dengan sejumlah kementerian guna mencari solusi atas tingginya harga kedelai.

Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Simanungkalit mengatakan, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. Begitu juga dengan Gabungan Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo).

“Sedang dibahas bersama dengan Kementan, Kemendag, Gakoptindo. Hasil identifikasi dan usulan rekomendasi kami sampaikan ke Pak Menteri Koperasi (Teten Masduki),” ujar Victoria.

Sebelumnya, para pengusaha tahu tempe yang tergabung dalam Gakoptindo mengeluhkan tingginya harga kedelai yang menjadi bahan baku bisnis mereka.

Indonesia sendiri cukup ketergantungan dengan kedelai impor. Saat ini, sekitar 80 persen lebih kebutuhan kedelai di dalam negeri ditutup dari AS, Brasil, dan negara-negara lain.

Pada 2019, Indonesia mengimpor 2,63 ton kedelai untuk tahu dan tempe. Sedangkan kedelai lokal hanya sekitar 400-500 ribu ton. (din/fin)

  • Dipublish : 4 Januari 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami